• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Siapa yang Harus Mengerti: Presiden Memahami Rakyat atau Rakyat Memahami Presiden?

Ali Syarief by Ali Syarief
April 25, 2026
in Feature, Politik
0
Mas Wowo – Jangan Seperti Cowboy, Masuk Kota Hanya Bikin Onar
Share on FacebookShare on Twitter

Hari Sabtu itu hari yang agak sakral. Bukan karena ada upacara kenegaraan, tapi karena otak rakyat sedang low batt dan hati sedang ingin damai. Di hari seperti ini, membahas politik sebaiknya jangan terlalu tegang—nanti kopi jadi pahit, gorengan terasa menghakimi.

Tapi justru di hari Sabtu yang santai ini, kita bisa bertanya dengan lebih jujur—tanpa tekanan konferensi pers, tanpa nada tinggi para buzzer:
Sebenarnya, siapa sih yang harus lebih mengerti? Presiden ke rakyat, atau rakyat ke presiden?

Mari kita bayangkan begini.

Rakyat itu seperti penumpang ojek online. Dia pesan, dia bayar, dia punya tujuan. Presiden? Ya, kira-kira seperti drivernya. Nah, pernah nggak kita naik ojek lalu drivernya bilang:
“Mas, mbak, coba dong ngerti saya. Saya lagi pengen lewat jalan yang lebih jauh, soalnya saya suka pemandangannya.”

Kalau itu terjadi, kemungkinan besar ratingnya langsung bintang satu. Bahkan bisa sambil ditambah catatan: “Driver terlalu filosofis, lupa tujuan penumpang.”

Di titik ini, logika sederhana bekerja:
yang punya tujuan adalah rakyat, yang harus memahami arah adalah pemimpin.

Presiden itu bukan konten kreator yang bebas berekspresi sesuka hati. Dia itu semacam “customer service paling mahal di negeri ini.” Bedanya, kalau CS salah jawab, paling dimaki di kolom komentar. Kalau presiden salah paham, satu negara bisa ikut error system.

Masalahnya, belakangan ini sering muncul narasi unik: rakyat diminta lebih memahami presiden.
Kalimatnya halus, nadanya bijak, tapi kalau dipikir-pikir… kok seperti ada yang terbalik ya?

Ini seperti murid disuruh memahami guru yang tidak bisa mengajar.
Atau penonton diminta memahami film yang ceritanya loncat-loncat tanpa alur.
Atau lebih sederhana lagi: kita disuruh memahami nasi goreng yang rasanya seperti es campur.

Memahami itu penting, iya. Tapi jangan sampai jadi kewajiban sepihak.

Presiden itu punya fasilitas lengkap: data, staf ahli, survei, intelijen, bahkan mungkin tahu harga cabai sebelum pedagangnya sendiri tahu.
Rakyat? Modalnya cuma dompet tipis, kuota internet, dan insting bertahan hidup.

Kalau dalam kondisi seperti itu rakyat masih dituntut “harus lebih memahami”, ini bukan lagi komunikasi—ini sudah seperti kuis berhadiah kebingungan.

Namun, jangan salah. Rakyat juga bukan makhluk tanpa tanggung jawab. Rakyat yang sehat itu tetap berusaha paham. Dia baca berita, dia diskusi, dia bahkan kadang debat di warung kopi sampai kopi dingin dan argumen makin panas.

Tapi bedanya jelas:
rakyat memahami sebagai pilihan,
presiden memahami sebagai kewajiban.

Kalau presiden gagal memahami rakyat, dampaknya nyata: kebijakan meleset, kepercayaan retak, dan akhirnya… rakyat mulai memahami hal yang paling berbahaya—bahwa mereka sedang tidak dipahami.

Dan kalau sudah sampai di titik itu, hubungan presiden dan rakyat bukan lagi seperti driver dan penumpang.
Sudah berubah jadi seperti dua orang yang naik kendaraan tanpa tahu siapa yang pegang setir.

Akhirnya, di hari Sabtu yang santai ini, kita bisa menyimpulkan tanpa harus tegang:

Presiden itu tidak dipilih untuk dimengerti, tapi untuk mengerti.
Kalau ingin dimengerti, mungkin lebih cocok jadi penyair—bukan kepala negara.

Sementara rakyat?
Cukup satu saja: jangan kehilangan akal sehat. Karena di negeri ini, kadang yang paling mahal bukan bensin, bukan beras… tapi logika.

Selamat Sabtu. Jangan terlalu serius, tapi juga jangan terlalu lupa berpikir.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Mengapa Anak Sulung Lebih Cerdas: Ketika Kuman Mengalahkan Stereotip

Next Post

Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup
Economy

Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup

April 25, 2026
Mengapa Anak Sulung Lebih Cerdas: Ketika Kuman Mengalahkan Stereotip
Feature

Mengapa Anak Sulung Lebih Cerdas: Ketika Kuman Mengalahkan Stereotip

April 25, 2026
Rakyat Didenda, Aparat Korupsi Dimanja: Ketika Keadilan Kehilangan Makna
Birokrasi

Rakyat Didenda, Aparat Korupsi Dimanja: Ketika Keadilan Kehilangan Makna

April 25, 2026
Next Post
Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup

Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa
Feature

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

by Karyudi Sutajah Putra
April 24, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Letkol Teddy Indra Wijaya kini sudah bisa...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

RPP Tugas TNI: Wujud Remiliteriasi yang Bahayakan Kehidupan Demokrasi

April 24, 2026
Jangan Lawan Parpol!

Jangan Lawan Parpol!

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup

Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup

April 25, 2026
Mas Wowo – Jangan Seperti Cowboy, Masuk Kota Hanya Bikin Onar

Siapa yang Harus Mengerti: Presiden Memahami Rakyat atau Rakyat Memahami Presiden?

April 25, 2026
Mengapa Anak Sulung Lebih Cerdas: Ketika Kuman Mengalahkan Stereotip

Mengapa Anak Sulung Lebih Cerdas: Ketika Kuman Mengalahkan Stereotip

April 25, 2026
Rakyat Didenda, Aparat Korupsi Dimanja: Ketika Keadilan Kehilangan Makna

Rakyat Didenda, Aparat Korupsi Dimanja: Ketika Keadilan Kehilangan Makna

April 25, 2026
Kacau Komunikasi Dua Menteri, APBN Jadi Korban Ketidaktertiban Birokrasi

Negara Katanya Sehat, Tapi Mengapa Terlihat Sesak Napas?

April 25, 2026
Sahroni Desak Hukuman Berat untuk Syekh Ahmad Al Misry jika Terbukti Lecehkan Santri

Sahroni Desak Hukuman Berat untuk Syekh Ahmad Al Misry jika Terbukti Lecehkan Santri

April 25, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup

Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup

April 25, 2026
Mas Wowo – Jangan Seperti Cowboy, Masuk Kota Hanya Bikin Onar

Siapa yang Harus Mengerti: Presiden Memahami Rakyat atau Rakyat Memahami Presiden?

April 25, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...