By Paman BED
Ada satu momen dalam hidup ketika profesionalisme dan kemanusiaan saling bersilangan—bukan di ruang rapat, tetapi di ruang batin. Ketika tanggung jawab pekerjaan bertemu dengan kepentingan keluarga, tidak ada SOP yang bisa dijadikan pegangan. Tidak ada audit checklist yang mampu mengukur kecemasan seorang ayah.
Sang Auditor baru saja menuntaskan satu fase penting pekerjaannya. Physical check atas komponen dan panel listrik di pabrik Siemens, Berlin, berjalan sesuai rencana. Pengujian awal—sebagai verifikasi atas asersi keberadaan serta hak dan kewajiban—telah dilalui dengan baik. Kualitas, kuantitas, harga, hingga estimasi waktu pengiriman telah dianalisis. Secara profesional, semua kotak telah tercentang.
Namun dalam hidup, tidak semua variabel bisa diaudit.
Pikirannya beralih—dari panel listrik dan dokumen menuju rumahnya di Jakarta. Kepada istrinya. Kepada putrinya. Pada satu peristiwa yang jauh lebih besar dari sekadar proyek: pernikahan anaknya yang tinggal menghitung hari.
Ia membayangkan waktu transit di Bandara Schiphol, Amsterdam, sebagai jeda yang cukup—untuk menyapa, memastikan persiapan berjalan baik, dan berbagi kegembiraan menjelang hari besar itu. Sehari sebelum akad, akan ada pengajian. Doa-doa akan dipanjatkan, harapan akan dititipkan: semoga rumah tangga putrinya menjadi sakinah, mawaddah, warahmah.
Namun rencana manusia kerap diuji oleh kenyataan.
Pesawat dari Berlin mengalami keterlambatan. Lebih dari satu jam. Waktu transit yang semula longgar menyusut menjadi sempit. Di atas kertas, masih mungkin. Dalam realitas Schiphol—salah satu bandara tersibuk di Eropa—itu berubah menjadi perlombaan melawan waktu.
Dan perlombaan itu dimulai.
Ia berlari. Bukan sekadar berjalan cepat, tetapi berlari menembus lorong panjang, melintasi travelator yang dipenuhi orang-orang yang berdiri diam. Dunia di sekitarnya berjalan dengan ritmenya sendiri—tenang, lambat—ketika ia sedang mengejar sesuatu yang tak bisa ditunda.
Napasnya tersengal. Waktu terus menipis.
Ketika ia tiba di gate, momen itu datang tanpa kompromi: ia terlambat—hanya beberapa detik.
Seorang pramugari berdiri di depan pintu pesawat. Senyumnya ramah, tetapi keputusannya tegas: pintu telah ditutup.
Ia mencoba menjelaskan—tentang keterlambatan dari Berlin, tentang waktu transit yang sempit, tentang satu hal yang tak mungkin ditunda:
“My daughter’s wedding is tomorrow.”
Namun sistem tidak bekerja dengan empati. Prosedur tetaplah prosedur. Pintu tidak dibuka kembali.
Sesal datang seketika—cepat, padat, tanpa jeda.
Di saat itulah, tanpa banyak kata, sesuatu mulai bergeser.
“Fa inna ma’al ‘usri yusrā. Inna ma’al ‘usri yusrā.”
(Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.)
(QS. Al-Insyirah: 5–6)
Bukan setelah kesulitan. Bersamanya.
Tak lama kemudian, sebuah kemungkinan terbuka. Ia dialihkan ke penerbangan lain yang berangkat di hari yang sama.
Bukan esok. Bukan nanti.
Hari itu juga.
Ia terdiam sejenak.
“Alhamdulillah.”
Perjalanan berlanjut.
Ketika ia tiba di rumah, para tamu telah duduk bersila. Pengajian sudah dimulai. Ia melangkah masuk beberapa menit sebelum lantunan ayat-ayat suci memenuhi ruangan.
Tidak ada yang tahu apa yang baru saja ia lalui.
Di tengah bacaan yang mengalun, emosi yang sejak tadi tertahan akhirnya luruh. Air mata jatuh perlahan—bukan lagi karena cemas, tetapi karena syukur.
Tanpa penjelasan, semuanya terasa cukup.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik baginya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kesulitan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.”
(HR. Muslim No. 2999)
“Fabi ayyi aalaaa’i Rabbikumaa tukadzdzibaan.”
(Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?)
(QS. Ar-Rahman: 13)
Referensi
* Al-Qur’an, Surah Al-Insyirah (94): 5–6
* Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah (2): 216
* Al-Qur’an, Surah Ar-Rahman (55): 13
* Hadits Riwayat Imam Muslim No. 2999
* Konsep audit operasional: asersi keberadaan, hak dan kewajiban, serta testing & commissioning
By Paman BED























