Fusilatnews – Ada ironi yang begitu telak menampar akal sehat publik: Immanuel Ebenezer, atau Noel, yang dulu lantang berorasi membela rakyat di jalanan, kini justru dikenang sebagai pejabat yang tega memeras buruh dan menghilangkan mobil-mobil mewahnya usai ditangkap KPK. Aktivis yang dulu mengibarkan idealisme itu kini berubah menjadi pengkhianat paling nyata atas nilai yang ia teriakkan sendiri.
KPK mencatat tiga unit mobil mewah—Land Cruiser, Mercy, dan BAIC—raib dari rumah dinas Noel hanya beberapa saat setelah operasi tangkap tangan. Tindakan itu bukan sekadar pelarian aset, melainkan cermin watak penjahat yang tak pernah mati. Noel tampak masih sibuk menyelamatkan hasil korupsi, meski tubuhnya sendiri sudah terjerat hukum.
Lebih menyakitkan lagi, praktik pemerasan yang ia lakukan menimpa mereka yang paling rapuh: buruh. Dari tarif resmi sertifikasi K3 sebesar Rp275 ribu, buruh dipaksa membayar hingga Rp6 juta. Uang haram yang terkumpul mencapai Rp81 miliar, dengan Rp3 miliar mengalir ke kantong Noel. Sosok yang dulu berdiri bersama rakyat kini justru menindas rakyat.
Inilah wajah paling menyedihkan dari seorang aktivis yang menjual idealisme. Dari orator jalanan, Noel menjelma menjadi pejabat rakus, lalu berakhir sebagai tersangka korupsi dengan mobil-mobil mewah yang hilang. Ia kehilangan kursi, kehilangan martabat, dan yang lebih pahit: kehilangan kepercayaan rakyat yang dulu membelanya.
Pengkhianatan Noel mengajarkan satu hal: bukan hanya pejabat birokratis yang bisa korup, tetapi juga aktivis yang gagal menjaga hatinya saat berhadapan dengan gemerlap kekuasaan. Dan mungkin, pengkhianatan aktivis semacam ini jauh lebih kejam, karena ia memadamkan harapan rakyat yang sempat percaya pada suara lantang di jalanan.






















