• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Aya Aya Wae

Orkestra Polarisasi: Ketika Lima Kejutan Bekerja dalam Satu Desain Kekuasaan

Polarisasi yang Terlalu Rapi untuk Disebut Kebetulan

fusilat by fusilat
November 26, 2025
in Aya Aya Wae, Feature
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Malika Dwi Ana

Ketika lima petir menyambar lima titik berbeda dalam waktu sepuluh hari, tanpa tanda awan yang terlihat di langit, kita berhak curiga.

Pertama , kasus ijazah Jokowi yang sudah bertahun-tahun menguap tiba-tiba hidup kembali: Roy Suryo, Rismon Sianipar, dan Bonjowi ditetapkan tersangka, dicekal, tapi tidak ditahan. Kedua , Prof Jimly Asshiddiqie—tokoh yang baru saja ditunjuk Presiden Prabowo sebagai ketua tim reformasi hukum—mengusulkan mediasi damai. Ketiga , dua pengacara dan komentator yang selama ini searah, Refly Harun dan Faizal Assegaf, tiba-tiba saling serang di televisi nasional, padahal keduanya mendukung upaya perdamaian. Keempat , Dewan Syuro PBNU mengeluarkan ultimatum 3×24 jam agar Gus Yahya Cholil Staquf mundur—isu yang sama sekali tak terdeteksi sebelumnya. Kelima , panitia Reuni 212 mengundang Prabowo Subianto ke Monas, seolah acara yang dulu memaki Jokowi kini jadi panggung rekonsiliasi nasional.

Lima kejutan dalam sepuluh hari. Satu orkestra.

Di negara yang benar-benar demokratis dan kacau secara organik, peristiwa-peristiwa ini mungkin memang kebetulan. Tapi di Indonesia 2025, adalah timing yang terlalu sempurna karena tidak ada yang kebetulan disini—ia adalah desain.

Desain itu bernama penjajahan asimetris generasi baru. Musuh tidak lagi datang dengan kapal perang, senjata api, tentara maupun bom, tapi dengan remote televisi, medsos, grup WhatsApp terenkripsi, dan narasi yang dirancang untuk membuat kita sibuk membenci tetangga sendiri. Selama rakyat sibuk memilih berkubu-kubu “ijazah asli” atau “ijazah palsu”, “Syuriah” atau “Tanfidliyah”, “Prabowo harus datang 212” atau “jangan datang”, maka kontrak tambang nikel di Weda Bay, konsesi blok Masela, dan utang infrastruktur baru ditandatangani tanpa demo besar, tanpa tagar trending, tanpa sorotan media yang bermakna, artinya tanpa protes berarti dari masyarakat.

Polarisasi adalah senjata termurah dan paling efektif yang pernah diciptakan penguasa modern. Ia tidak butuh anggaran APBN, tidak butuh tentara, cukup nyalakan prime time dan biarkan kita saling bunuh dengan kata-kata.

Di balik layar, sutradara utamanya sudah jelas: koalisi Jokowi-Prabowo yang kini menjadi satu entitas politik. Jokowi ingin membersihkan “warisan yang membuat gaduh” sebelum benar-benar pensiun. Prabowo butuh legitimasi dari kelompok yang dulu membencinya (212) dan dari kelompok yang dulu membenci Jokowi (oposisi garis keras). Maka dibuatlah operasi “babat alas” nasional: rumput liar harus dibabat supaya ladang baru bisa ditanami dengan tenang.

Jimly Asshiddiqie jadi konduktor lapangan yang sempurna—orang hukum kredibel yang tugasnya membuat penolakan mediasi terlihat tidak rasional. Refly dan Faizal jadi aktor pembelah front kritis. Ultimatum Syuriyah PBNU jadi palu godam untuk mendisiplinkan organisasi massa terbesar agar tidak liar. Undangan 212 adalah madu untuk kooptasi kelompok Islam politik yang tersisa.

Hasilnya? Publik lelah, apatis, dan akhirnya pasrah. Itu tujuan sebenarnya.

Sejarah mencatat, setiap kali bangsa ini terlalu sibuk dengan drama kecil, selalu ada agenda besar yang lolos begitu saja. 1998: kita ribut PKI, ekonomi dirampok habis. 2019: kita ribut people power, IKN dan Omnibus Law lahir diam-diam. 2025: kita ribut ijazah dan kursi ketua NU, sementara nikel, gas, dan hutan Papua dijual dengan harga diskon untuk “investor strategis”.

Polarisasi bukan kutukan langit. Ia adalah senjata yang sengaja diasah dan diarahkan ke dada kita sendiri.

Satu-satunya cara keluar dari teater ini adalah dengan menolak jadi aktor figuran. Berhenti berkubu-kubu dalam drama yang sudah ditulis ending-nya. Dan mulai bertanya hal yang benar-benar penting: siapa yang mendapat kontrak tambang baru minggu ini? Berapa utang baru yang ditandatangani atas nama kita? Siapa yang benar-benar diuntungkan ketika kita sibuk saling benci?

Selama kita masih suka diadu domba, maka penjajah itu akan terus tertawa di ruang VIP—dengan gelas anggur di tangan dan kontrak miliaran dolar di meja.

(Malika’s Insight 24 November 2025)

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Bandara Morowali: Enklave Penjajahan yang Diresmikan di Era Jokowi, Dibongkar Prabowo

Next Post

Menghirup Racun yang Tak Terlihat: Bahaya Pembakaran Sampah Plastik bagi Kesehatan Publik

fusilat

fusilat

Related Posts

Feature

Ketika Iman Jadi Transaksi: Kita Sedang Menawar Tuhan?

April 28, 2026
Feature

NEGARA DENGAN DEMOKRASI BOHONG-BOHONGAN

April 28, 2026
Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?
Feature

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

April 28, 2026
Next Post
Menghirup Racun yang Tak Terlihat: Bahaya Pembakaran Sampah Plastik bagi Kesehatan Publik

Menghirup Racun yang Tak Terlihat: Bahaya Pembakaran Sampah Plastik bagi Kesehatan Publik

Langkah Hukum – Pembakaran Plastik Menjadi Kejahatan Lingkungan Tanpa Pelaku

Langkah Hukum - Pembakaran Plastik Menjadi Kejahatan Lingkungan Tanpa Pelaku

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Reshuffle Kabinet “4L”
Birokrasi

Reshuffle Kabinet “4L”

by Karyudi Sutajah Putra
April 27, 2026
0

Jakarta - Untuk kelima kalinya sejak dilantik sebagai Presiden RI pada 21 Oktober 2024, Prabowo Subianto melakukan reshuffle atau perombakan...

Read more
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

April 27, 2026
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Ketika Iman Jadi Transaksi: Kita Sedang Menawar Tuhan?

April 28, 2026

NEGARA DENGAN DEMOKRASI BOHONG-BOHONGAN

April 28, 2026
Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

April 28, 2026
Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

April 28, 2026

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 28, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Ketika Iman Jadi Transaksi: Kita Sedang Menawar Tuhan?

April 28, 2026

NEGARA DENGAN DEMOKRASI BOHONG-BOHONGAN

April 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...