Fusilatnews – Ada sebuah ironi yang menampar kesadaran kita hari ini. Jepang—negara yang dahulu begitu tertutup terhadap tenaga kerja asing—kini membuka lebar-lebar pintunya. Mereka kekurangan tenaga kerja. Penduduk mudanya enggan mengisi sektor-sektor kasar, sementara populasi menua dan ekonomi butuh tenaga segar. Maka Jepang pun mengundang para pekerja asing untuk datang membantunya menjaga roda ekonomi tetap berputar. Bukan demi belas kasih, tapi demi kesejahteraan bangsanya sendiri.
Sementara itu, di belahan dunia yang lain, Indonesia justru menghadapi persoalan sebaliknya. Jutaan pemuda-pemudi bangsa ini, dalam usia produktif, justru berbondong-bondong pergi ke luar negeri. Bukan karena mereka ingin melancong, tetapi karena di negerinya sendiri, peluang kerja tak tersedia, atau tak layak diupayakan. Mereka menjadi buruh migran, perawat, pembantu rumah tangga, pekerja konstruksi, bahkan profesional terdidik, di berbagai negara. Ironisnya, mereka menyumbang devisa triliunan rupiah setiap tahun—tanpa pernah disebut sebagai pahlawan pembangunan dalam negeri.
Inilah paradoks yang menyakitkan: bangsa lain mengundang anak-anak kita untuk membangun kesejahteraan mereka, sementara negara kita sendiri gagal menyediakan tempat bagi bangsanya sendiri untuk berkarya dan hidup layak. Indonesia kehilangan generasi produktif, bukan karena perang atau bencana, tapi karena kegagalan sistemik dalam menciptakan pekerjaan yang bermartabat.
Kebijakan publik yang ada pun sering kali justru memperparah keadaan. Alih-alih fokus pada penciptaan lapangan kerja berkualitas, pemerintah sibuk dengan program-program populis yang mencolok secara anggaran namun minim dampak jangka panjang. Seperti program makan bergizi gratis yang anggarannya menelan puluhan triliun rupiah, tetapi harus mengorbankan sektor strategis lain seperti pendidikan, kesehatan, dan mitigasi bencana.
Lalu ada proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) yang menghabiskan dana ratusan triliun di tengah rakyat yang kesulitan membeli beras. Bahkan upacara kemerdekaan pun dipindahkan ke lahan setengah jadi dengan biaya fantastis, seolah-olah simbolisme lebih penting dari substansi.
Maka muncul tagar #KaburAjaDulu. Bukan sekadar tren media sosial, tapi cermin keputusasaan generasi muda yang merasa tak lagi punya tempat di tanah airnya sendiri. Mereka bukan tak cinta Indonesia—mereka hanya kecewa, bahwa cinta mereka tak dibalas dengan kesempatan yang adil.
Sementara Jepang membayar mahal untuk menarik pekerja asing demi mempertahankan ekonominya, Indonesia justru ‘mengirimkan’ para pemudanya ke luar negeri tanpa rencana jangka panjang. Bukankah seharusnya para pemuda terbaik itu menjadi penggerak pembangunan di negerinya sendiri?
Pertanyaannya kini bukan lagi: “Mengapa mereka ingin pergi?”
Tapi: “Mengapa Indonesia tak bisa membuat mereka ingin tinggal?”





















