• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Aya Aya Wae

Parpol Sumber Masalah Bangsa – Tak Masuk Agenda 17+8

Ali Syarief by Ali Syarief
September 7, 2025
in Aya Aya Wae, Feature, Politik
0
Pegang Data Parpol dari Intelijen, BRIN Tuding Jokowi Salah Gunakan Wewenang untuk Kepentingan Kekuasaan

I

Share on FacebookShare on Twitter

Di atas kertas, semboyan bangsa ini adalah Bhinneka Tunggal Ika. Tapi di panggung politik, semboyan itu lebih sering terdengar sebagai parodi. Indonesia dibangun atas nama kesatuan dan persatuan, namun partai-partai politik kita justru memperlihatkan kebalikannya: perpecahan, fragmentasi, dan lahirnya kelompok baru dari tubuh lama yang koyak.

Fenomena itu telah menjadi ciri khas. Seorang tokoh kalah dalam perebutan kursi ketua umum, lalu mendirikan partai baru. Seorang kader dipecat dari barisannya, lalu membentuk kendaraan sendiri. Dari rahim Golkar, misalnya, keluar Hanura, dan NasDem. Dari rahim PKS lahirlah Partai Gelora. PPP, sejak lama, pecah menjadi berbagai faksi, bahkan kadang melahirkan versi-versi mini dari dirinya sendiri. Dan ketika Prabowo Subianto tak lagi menemukan ruang di Partai Golkar maupun Partai Demokrat, ia pun merakit partai baru: Gerindra.

Politik di Indonesia berjalan seperti kaca yang jatuh ke lantai: setiap retakan tidak pernah direkatkan kembali, tapi justru dipamerkan sebagai keping baru. Di sini kita melihat sesuatu yang lebih dalam dari sekadar konflik internal: sebuah kebudayaan politik yang personal, bukan kelembagaan. Partai hanya dianggap sebagai kendaraan, bukan rumah gagasan. Tokoh-tokoh besar berdiri di depan; partai mengikuti, bukan sebaliknya.

Dari sinilah muncul kemunafikan yang halus tapi mencolok. Di bibir, semua bicara tentang persatuan. Dalam konstitusi, partai-partai ditahbiskan sebagai pilar demokrasi. Tapi praktiknya, persatuan hanya berarti selama kepentingan pribadi masih terakomodasi. Begitu tersisih, semboyan itu gugur. Yang tersisa hanya ambisi untuk mendirikan bendera baru.

Dan lebih ironis lagi: tokoh-tokoh yang bersaing dengan penuh dendam dalam pemilihan, bisa tiba-tiba bersatu kembali ketika salah satunya menang. Mereka yang kemarin saling melukai dengan kata-kata, hari ini duduk semeja dalam kabinet. Rivalitas berubah menjadi rekonsiliasi instan. Demokrasi pun tampil sebagai drama: pertarungan di panggung, persekutuan di belakang layar.

Namun, ironi terbesar barangkali justru datang dari dalam tubuh partai itu sendiri. Fragmentasi tak hanya melahirkan partai baru, tapi juga dinasti. Nepotisme tumbuh subur, seolah partai adalah warisan keluarga. Jokowi, meski tak memiliki partai sendiri, berhasil menempatkan anak dan menantunya di jabatan publik. Megawati punya Puan. Surya Paloh menyodorkan Prananda. Partai Demokrat menjadikan AHY dan Ibas sebagai pewaris politik SBY. Partai bukan lagi rumah bersama, melainkan harta keluarga yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sejarah politik Indonesia mencatat, perpecahan bukanlah pengecualian, melainkan pola. Dari PNI ke PDI, dari PDI ke PDI Perjuangan, dari Masyumi ke PNU dan turunan lainnya. Hampir tak ada partai besar yang tak pernah melahirkan “anak-anak” akibat pertikaian. Demokrasi kita pun lebih mirip peta silsilah keluarga yang penuh perceraian—dan di beberapa sudutnya, juga penuh garis keturunan.

Maka tak salah bila orang mengatakan politik Indonesia adalah politik wajah, bukan politik ide. Personal politics—di mana yang menentukan bukan gagasan tentang Indonesia, melainkan siapa yang berhasil bertahan di pucuk. Dengan begitu, kesatuan hanya retorika. Persatuan hanya seremonial. Dan demokrasi, kadang hanya panggung bagi ambisi pribadi dan keluarga.

Barangkali inilah ironi terbesar bangsa ini: kita selalu ingin menyatu, tapi selalu gagal bersatu. Seperti sebuah rumah yang terus diperluas dengan bangunan tambahan, tapi tak pernah kokoh karena fondasinya rapuh.

Pada akhirnya, politik kita bukanlah ruang gagasan. Ia hanyalah ruang kursi. Kursi yang bisa diwariskan, kursi yang bisa diperebutkan, kursi yang bisa direkatkan kembali setelah dipatahkan. Bangsa ini pernah bermimpi tentang persatuan, tapi yang tumbuh hanyalah perkumpulan kepentingan.

Kita menyebutnya demokrasi. Tapi kadang, ia tak lebih dari drama keluarga.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Sesumbar Fahri Hamzah dan Kenyataan Korupsi di Rezim Baru

Next Post

Raja “Judi” Antoni

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Rupiah Lemah Tidak Selalu Patriotik
Economy

Rupiah Lemah Tidak Selalu Patriotik

May 16, 2026
Birokrasi

Tumbal Birokrasi di Balik Sepatu Sekolah Rakyat: Ketidaktahuan atau Pembiaran?

May 16, 2026
Feature

PRABOWO, THE ECONOMIST, DAN PERTARUNGAN MEMBACA INDONESIA

May 16, 2026
Next Post
Raja “Judi” Antoni

Raja "Judi" Antoni

Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Hendardi: Fadli Zon Jangan Cari Sensasi

Hendardi: Bentuk Segera TGPF Kerusuhan Akhir Agustus

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Putusan MK tentang Presidential Threshold adalah Tragedi Demokrasi
Feature

Film Itu Karya Fiksi, Prof Yusril!

by Karyudi Sutajah Putra
May 15, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Menteri Koordinator Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi...

Read more
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

May 13, 2026
Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

May 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Rupiah Lemah Tidak Selalu Patriotik

Rupiah Lemah Tidak Selalu Patriotik

May 16, 2026

Tumbal Birokrasi di Balik Sepatu Sekolah Rakyat: Ketidaktahuan atau Pembiaran?

May 16, 2026

PRABOWO, THE ECONOMIST, DAN PERTARUNGAN MEMBACA INDONESIA

May 16, 2026
Bisik-Bisik Pemakzulan: Prabowo dan Dua Wajah Kabinet yang Menyimpan Agenda

Membungkam Kritik, Menabur Ketakutan

May 16, 2026
Hingar-Bingar Gibran di Senayan: Siapa yang Mau Menjaga Takhta Jika Prabowo Tiada?

Dosa Tak Terasa Memilih Prabowo

May 16, 2026

Ketika Akhlak Melahirkan Syariah

May 16, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Rupiah Lemah Tidak Selalu Patriotik

Rupiah Lemah Tidak Selalu Patriotik

May 16, 2026

Tumbal Birokrasi di Balik Sepatu Sekolah Rakyat: Ketidaktahuan atau Pembiaran?

May 16, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...