• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

Pasal 33 Dari Presiden-Presiden Hanya Dipantunkan – “Tapi Tak Pandai Bertanam Padi”

Ali Syarief by Ali Syarief
July 24, 2025
in Birokrasi, Economy, Feature
0
Sambil Titip Agenda Kepada Prabowo, Demokrat Akhirnya Berlabuh di KIM
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews –Pasal 33 UUD 1945, ah, pasal keramat yang sering disebut-sebut, dikutip penuh khidmat di podium, dipajang di baliho, digoreng dalam kampanye, dibumbui oleh para calon presiden yang menjanjikan surga dunia. Tapi sesudah duduk di kursi empuk istana, pasal itu ditaruh di laci, diganti dengan lembar kontrak investasi, utang luar negeri, dan rapat-rapat dengan cukong.

Bunyinya, coba kita ingat-ingat:

“Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.”
“Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.”
“Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.”

Indah, bukan? Lebih manis dari puisi Chairil Anwar kalau soal janji. Tapi dari zaman Soekarno sampai Jokowi, janji tinggal janji, praktiknya seperti lagu dangdut: goyang ke kiri, kenyataannya ke kanan.

Mari kita mulai dari Soekarno. Bung besar ini mengutip Pasal 33 seolah ia ayat suci. Ia bicara soal ekonomi berdikari, perusahaan negara, gotong royong. Tapi karena lebih sering berpidato ketimbang membenahi sistem, ekonomi kita oleng juga. Kekeluargaan yang dimaksud malah jadi kekeluargaan politik—siapa dekat dengan kekuasaan, dia yang kenyang.

Lalu datang Soeharto. Orde Baru katanya. Tapi pasal 33 di tangan Pak Harto diubah jadi pasal 33 kroni dan kongsi. Bumi dan air bukan untuk rakyat, tapi untuk Cendana dan koleganya. Asas kekeluargaan berubah jadi bisnis keluarga. Dari Indorayon sampai Freeport, rakyat cuma jadi penonton. Yang ditambang emasnya, yang ditinggal lubangnya.

Habibie terlalu sebentar. Gus Dur terlalu jujur. Megawati? Anak sang proklamator itu justru membuka pintu untuk liberalisasi. Listrik, air, dan BBM dimasukkan ke daftar dagangan. Katanya demi efisiensi. Tapi kenyataannya, rakyat makin susah bayar tagihan.

SBY lebih pandai menyusun kalimat puitis. Tapi sayang, Pasal 33 hanya dijadikan bahan seminar. Di eranya, sawit meluas, petani terusir. Asas kekeluargaan yang ditegaskan oleh pasal itu berubah jadi asas ‘outsourcing’ dan upah murah.

Kini, Jokowi. Awalnya harapan rakyat kecil. Dulu dia bicara soal kemandirian, reforma agraria, keberpihakan. Tapi apa lacur? Setelah dua periode, tanah-tanah adat dibabat untuk tambang nikel, hutan diubah jadi jalan tol dan food estate gagal panen. Kekuasaan makin sentralistik, investor asing dan konglomerat dalam negeri makin girang. Rakyat? Hanya dijadikan latar belakang Instagram saat panen raya.

Jadi, wahai pembaca, Pasal 33 dari presiden ke presiden nasibnya seperti benang layangan putus. Dikutip saat kampanye, dilupakan saat menjabat. Para pemimpin negeri ini suka menyulam kata, tapi tak pernah menjahit keadilan.

Pasal ini jadi jargon politik. Dipakai saat debat, dibawa ke podium, dielus-elus saat pidato kenegaraan. Tapi dalam praktik, rakyat dibiarkan terjerembab dalam ekonomi yang liberal, kapitalistik, dan jauh dari kekeluargaan.

Jargon tetap jargon. Yang berubah hanyalah model jas dan gaya rambut para presiden. Sementara Pasal 33 tetap ditaruh di rak tinggi, jadi semacam kitab suci yang hanya dibaca saat upacara.

Ah, pasal 33… nasibmu seperti janji manis: terdengar indah, tapi tak pernah benar-benar dimaksudkan. Maka kalau ada yang bilang ekonomi kita berbasis kekeluargaan, kita boleh tertawa sambil berkata:

Bullshit.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Imigrasi Perketat Pengawasan Orang Asing di Labuan Bajo, Tujuannya Jaga Pariwisata Dunia Tetap Aman

Next Post

Jokowi Bawa Ijazah Tanpa Berita Acara Verifikasi KPU, Beathor: Ini Justru Perkuat Dugaan Produksi Pasar Pojok Pramuka

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup
Economy

Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup

April 25, 2026
Mas Wowo – Jangan Seperti Cowboy, Masuk Kota Hanya Bikin Onar
Feature

Siapa yang Harus Mengerti: Presiden Memahami Rakyat atau Rakyat Memahami Presiden?

April 25, 2026
Mengapa Anak Sulung Lebih Cerdas: Ketika Kuman Mengalahkan Stereotip
Feature

Mengapa Anak Sulung Lebih Cerdas: Ketika Kuman Mengalahkan Stereotip

April 25, 2026
Next Post
Jokowi Bawa Ijazah Tanpa Berita Acara Verifikasi KPU, Beathor: Ini Justru Perkuat Dugaan Produksi Pasar Pojok Pramuka

Jokowi Bawa Ijazah Tanpa Berita Acara Verifikasi KPU, Beathor: Ini Justru Perkuat Dugaan Produksi Pasar Pojok Pramuka

PRABOWO DAN KOPERASI DALAM SUBVERSI SISTEMIK

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa
Feature

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

by Karyudi Sutajah Putra
April 24, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Letkol Teddy Indra Wijaya kini sudah bisa...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

RPP Tugas TNI: Wujud Remiliteriasi yang Bahayakan Kehidupan Demokrasi

April 24, 2026
Jangan Lawan Parpol!

Jangan Lawan Parpol!

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup

Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup

April 25, 2026
Mas Wowo – Jangan Seperti Cowboy, Masuk Kota Hanya Bikin Onar

Siapa yang Harus Mengerti: Presiden Memahami Rakyat atau Rakyat Memahami Presiden?

April 25, 2026
Mengapa Anak Sulung Lebih Cerdas: Ketika Kuman Mengalahkan Stereotip

Mengapa Anak Sulung Lebih Cerdas: Ketika Kuman Mengalahkan Stereotip

April 25, 2026
Rakyat Didenda, Aparat Korupsi Dimanja: Ketika Keadilan Kehilangan Makna

Rakyat Didenda, Aparat Korupsi Dimanja: Ketika Keadilan Kehilangan Makna

April 25, 2026
Kacau Komunikasi Dua Menteri, APBN Jadi Korban Ketidaktertiban Birokrasi

Negara Katanya Sehat, Tapi Mengapa Terlihat Sesak Napas?

April 25, 2026
Sahroni Desak Hukuman Berat untuk Syekh Ahmad Al Misry jika Terbukti Lecehkan Santri

Sahroni Desak Hukuman Berat untuk Syekh Ahmad Al Misry jika Terbukti Lecehkan Santri

April 25, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup

Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup

April 25, 2026
Mas Wowo – Jangan Seperti Cowboy, Masuk Kota Hanya Bikin Onar

Siapa yang Harus Mengerti: Presiden Memahami Rakyat atau Rakyat Memahami Presiden?

April 25, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist