Menggambarkan Rezim yang memerintah hari ini, Rudy meminjam peribahasa Jawa, yaitu aja adigang, adigung, adiguna. “Tapi aja-nya hilang, jadi adigang, adigung, adiguno, karena berkuasa segala sesuatunya akan saya pergunakan untuk kepentingan diri saya sendiri,” tuturnya.
Jakarta – Fusilatnews – Menambahkan Tudingan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri bahwa pemerintahan (rezim hari ini sebagai Neo-Orde Baru. Ketua Dewan Pimpinan Cabang atau DPC PDIP Kota Solo FX Hadi Rudyatmo menambahkan kata “plus” menjadi pemerintahan (rezim) hari ini sebagai Neo-Orde Baru Plus
Orde Baru, menurut Rudy, tidak mengancam lawan politiknya seperti sekarang. “Ya kalau Pak Harto masih baik-baik saja cara mengancamnya tidak seperti sekarang,” ujarnya. Dia mengatakan intimidasi pada masa Orde Baru tidak dilakukan terang-terangan.
Rudy menilai semua kekuasaan yang dimiliki pemerintahan hari ini dipergunakan dengan segala cara yang tidak beretika. Dia mengatakan hal itu berbeda dengan Orde Baru. “Bung Harto masih beretika,” ucapnya.
Perolehan suara PDIP, menurut Rudy, dikondisikan pada masa Orde Baru. “Tahun 1977 dapet 11 kursi, 1982 dinaikkan dapet 24 kursi, 1987 karena Mbak Mega ikut dapat 52 kursi atau 54 kursi lupa saya,” ujarnya. Dia mengatakan jumlah kursi PDIP meningkat karena masih banyak yang menyayangi keluarga Bung Karno.
Ketika ditanya bentuk-bentuk ancaman yang diterima PDIP, Rudy enggan mengungkap lebih lanjut. “Ya tanya aja yang diancam, aku sih enggak diancam. Kalau saya diancam, mau saya buka,” ucapnya.
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri sebelumnya mengatakan dirinya sudah merasa jengkel. Dia menyebut pemerintahan yang berkuasa saat ini bertindak seperti rezim otoriter Orde Baru. Megawati menyatakan sebenarnya dirinya tak ingin mengatakan hal tersebut.
“Kenapa? Republik penuh dengan pengorbanan tahu tidak? Kenapa sekarang kalian yang baru berkuasa itu mau bertindak seperti zaman Orde Baru?” kata Megawati dalam Rapat Kerja Nasional (Rakornas) organ relawan pendukung Ganjar-Mahfud di Jakarta International Expo Kemayoran, Jakarta, Senin, 27 November 2023.


























