Sebuah buku tulisan Jeffrey Stonecash berjudul Political Polling: Strategic Information in Campaigns (2008) antara lain memuat kecurigaan bahwa di Amerika Serikat publikasi jajak-pendapat bisa merupakan salah satu bentuk kampanye terselubung.
Kembali lagi, Lembaga survey mulai marak, melaporkan hasil-hasil survery muta’ahirnya. Dari berbagai testimoni yang terekam, mereka dapat dicurigai sebagai alat kampanye, partai-partai atau Calon Persiden/wakilnya. Saat Ganjar Pranowo dilaporkan, menurut hasil survey, eletabalitasnya melampaui Prabowo dan Anies Baswedan, maka Sekjen PDIP Hasto tidak melihatnya sebelah mata. Hasto juga pernah meminta para surveyors untuk tranparan, siapa yang membiayai survey-survey itu!.
Belum lama berselang, Lingkaran Survei Indonesia atau LSI Denny JA mempublikasikan hasil survei tentang Partai Politik dan Pertumbuhan Pro-Syariat Islam pada Selasa, 1 November 2022, kemarin. Adapun hasil survei parpol menunjukkan Nasdem menempati peringkat 7 dengan jumlah 3,9 persen alias di bawah parliamentery threshold sebesar 4 persen.
Apa tanggapan Nasdem?
Wakil Ketua Umum Partai NasDem, Ahmad Ali, menyatakan partainya tidak khawatir dengan hasil survei tersebut. Dia mengatakan Partai NasDem hanya merujuk pada lembaga survei yang punya nilai intelektual dan kredibilitas.
Sementara Lembaga survei Indekstat Indonesia memaparkan hasil temuannya bahwa PDIP masih akan menjadi partai dengan suara terbanyak dengan 23,2 persen jika pemilu digelar hari ini. Survei ini diselenggarakan pada 10-19 Oktober 2022.
“Peta konstelasi elektoral hari ini menunjukkan bahwa jika pemilihan umum (pemilu) diadakan sekarang, PDIP akan mendapatkan suara terbanyak, 23,2 persen naik dari perolehan Pemilu 2019,” kata Deputi Direktur Eksekutif Indekstat Rikola Fedri, pada Rilis Survei Nasional Minggu 6 November 2022.
Menyusul di urutan selanjutnya Gerindra, Golkar, dan PKB. Ketiganya berada dalam rentang margin of error, Gerindra mendapatkan elektabilitas sebesar 12,5 persen, Golkar 9,9 persen, dan PKB 9,0 persen.
Kemudian, Demokrat didukung 7,5 persen suara, PKS 7,1 persen, Nasdem 3,2 persen, PPP 3,0 persen dan PAN 2,1 persen. “Sedangkan partai-partai lain mendapatkan suara dibawah 2,0 persen. Masih ada 20,3 persen pemilih yang belum menentukan pilihan.
Adapun Indekstat melakukan survei tren elektabilitas partai politik dalam kurun waktu satu tahun pada Oktober 2021-Oktober 2022 yang hasilnya mayoritas partai politik cenderung tidak ada perubahan trend elektoral secara signifikan.
Yang ingin kita pertanyakan itu adalah, atas dasar apa surveyor melakukan riset kelembagaan partai politiknya? Padahal kita menganut system Presidential. UU menjelasakan, Pemilu dan Pilpres, rakyat memilih orang per-orang. Tidak memilih partai.
Memang saat Pileg, ada opsi orang memilih lambang parpolnya, hal itu diputuskan oleh ketua KPU yang lalu, karena terlalu banyak caleg yang harus dipilih, dan orang-orangnya yang tidak dikenal. Atas alasan untuk memudahkan, maka tanda gambarnya boleh dicoblos/dicontreng.
Kini Lembaga survey, mulai beranjak pada fungsi lain, yaitu sebagai alat politik: Iya menjadi dasar untuk bargaining, menyodorkan Capres dan Cawapres, dalam agenda partai-partai koalisi.
Akhmad Ali menyebut Partai NasDem optimistis dapat meraih kemenangan dalam Pemilihan Umum 2024. Apalagi, partainya menjagokan Anies Baswedan sebagai Calon Presiden yang dilekatkan dengan simbol perubahan.
“Kami ingin mengubah bangsa ini, kami ingin jadi pemenang. Kami ingin mengubah Indonesia dengan mengusung Anies jadi Presiden. Oleh sebab itu dengan segala hormat, marilah kita saling menghargai,” kata Ali.
Namun, perlu juga dipahami bahwa hasil survei sama sekali tidak akan menentukan takdir. Terlebih lagi, jika lembaga survei yang melakukan publikasi itu bukan merupakan lembaga independen, masyarakat harus hati-hati di dalam menafsirkan hasilnya dan apalagi menggunakannya sebagai pedoman dalam menentukan pilihan.
Belakangan ini, bahkan di Eropa dan Amerika pun mulai banyak pakar yang bersikap skeptis terhadap hasil survei yang dilakukan dengan muatan politik tertentu. Sebuah buku tulisan Jeffrey Stonecash berjudul Political Polling: Strategic Information in Campaigns (2008) antara lain memuat kecurigaan bahwa di Amerika Serikat publikasi jajak-pendapat bisa merupakan salah satu bentuk kampanye terselubung.
Jika di Amerika pun publik bisa terkecoh dengan hasil jajak-pendapat, apalagi publik di negara-negara berkembang seperti Indonesia yang masih sering silau dengan angka-angka yang spektakuler. Strategi tim sukses Capres yang menggelembungkan angka-angka dukungan bagi kubunya masing-masing kemungkinan bisa cukup efektif untuk menggiring opini publik serta mengubah swing voters atau pemilih terdaftar yang belum menentukan pilihan.

























