• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Pelopor Pendidikan Nasional: Antara Ahmad Dahlan dan Ki Hajar Dewantara

fusilat by fusilat
May 4, 2026
in Feature, Pendidikan
0
Pelopor Pendidikan Nasional: Antara Ahmad Dahlan dan Ki Hajar Dewantara
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Kawan Nazar

Sebelum istilah “pendidikan nasional” lahir, sistem tradisional seperti pesantren telah membentuk karakter masyarakat. Namun, tantangan modernitas dan politik etis Belanda di awal abad ke-20 memicu kebutuhan akan sistem yang lebih luas. Meski kebijakan kolonial bersifat diskriminatif dan dimaksudkan mencetak elite lokal sebagai sekrup birokrasi kolonial, telah memicu kesadaran bumiputra untuk membangun pendidikan yang merdeka. Dua arsitek utama muncul: KH Ahmad Dahlan melalui Muhammadiyah dan Ki Hajar Dewantara melalui Taman Siswa.

Muhammadiyah: Modernitas dan Rasionalitas Islam

KH Ahmad Dahlan membawa semangat pembaruan dari Makkah untuk membongkar kejumudan umat. Melalui Muhammadiyah (1912), ia melakukan lompatan kuantum dengan mengintegrasikan sains Barat ke dalam kurikulum agama. Ahmad Dahlan melakukan sintesis progresif: ia menolak sekularisme sekolah Belanda sekaligus mengoreksi tradisionalisme yang anti-kemajuan. Muhammadiyah tidak sekadar mendirikan sekolah, tetapi membangun infrastruktur sosial yang mandiri dari subsidi kolonial, melahirkan kelas menengah Muslim yang rasional, disiplin, dan sadar politik.

Taman Siswa: Humanisme dan Persentuhan Theosofi

Berbeda dengan Ahmad Dahlan, Ki Hajar Dewantara berangkat dari kritik budaya. Setelah pengasingan di Belanda, ia mendirikan Taman Siswa (1922) sebagai antitesis terhadap model pendidikan formal yang menindas. Menariknya, visi humanisme Ki Hajar tidak tumbuh dari ruang hampa. Persentuhannya dengan lingkaran Theosofi memberikan pengaruh signifikan. Ajaran Theosofi yang berorientasi Filosofis-Mistik menekankan persaudaraan universal, harmoni, dan penggalian kearifan Timur menjadi katalis bagi Ki Hajar dalam menyusun konsep “kemerdekaan batin”. Baginya, pendidikan adalah proses “among”—menuntun kodrat anak dengan kasih sayang, bukan paksaan otoriter.

Pengaruh ini membuat Taman Siswa sangat terbuka terhadap kemajemukan dan spiritualitas yang melampaui batas-batas sektarian, menjadikan pendidikan sebagai alat perjuangan kebudayaan yang radikal namun lembut.

Perbandingan Peran: Dua Pilar Bangsa

Dalam kacamata kritis, kedua tokoh ini membagi beban sejarah dengan peran yang berbeda namun saling mengunci:
Ahmad Dahlan sebagai Pelopor Struktural-Sosiologis: Ia fokus pada modernisasi sistem dan kelembagaan. Kontribusinya adalah pada penyediaan akses pendidikan masif yang memadukan Islam dengan efisiensi modern. Ia mencetak manusia yang religius sekaligus kompetitif di dunia modern.

Ki Hajar sebagai Pelopor Ideologis-Filosofis: Ia lebih menitikberatkan pada dekolonisasi mental. Melalui filosofi “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”, ia meletakkan dasar bahwa pendidikan adalah alat pembebasan jiwa manusia Indonesia dari inferioritas mental akibat penjajahan.

Siapa Sang Pelopor?

Menetapkan siapa yang paling utama di antara keduanya adalah sebuah reduksi sejarah. Penetapan Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional lebih karena faktor politis. Pendidikan nasional kita hari ini adalah anak kandung dari persilangan dua kekuatan besar: rasionalitas agama Ahmad Dahlan dan humanisme kultural Ki Hajar. Tanpa salah satunya, wajah pendidikan kita mungkin akan kehilangan jiwanya atau tertinggal oleh zaman.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Tragedi Rel Bekasi: 31 Saksi Diperiksa, Dunia Soroti Rantai Kelalaian yang Mematikan

Next Post

Belajar Dari Negeri China – Sekarang Lebih Unggul dari Amerika Serikat – Untuk Prabowo

fusilat

fusilat

Related Posts

Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara
Feature

Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

May 13, 2026
Feature

Ketika Bahasa Krama Menjadi Benteng Anti-Bullying di Sekolah Dasar Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Bullying Verbal dan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya

May 13, 2026
Feature

Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, tetapi Menyalakan Kehidupan Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Project-Based Learning dan Filosofi Urip Iku Urup di Sekolah Dasar

May 13, 2026
Next Post
Belajar Dari Negeri China – Sekarang Lebih Unggul dari Amerika Serikat – Untuk Prabowo

Belajar Dari Negeri China - Sekarang Lebih Unggul dari Amerika Serikat - Untuk Prabowo

Di Libya Pangkat Tertinggi Hanya Kolonel—Mengapa di Indonesia Kebanyakan Jenderal?

Di Libya Pangkat Tertinggi Hanya Kolonel—Mengapa di Indonesia Kebanyakan Jenderal?

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi
Birokrasi

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

by Karyudi Sutajah Putra
May 13, 2026
0

Jakarta-FusilatNews.- Koalisi Masyarakat Sipil mengecam tindakan sewenang-wenang TNI yang melarang kegiatan pemutaran film Pesta Babi di Ternate, Maluku Utara. "Pelarangan...

Read more
Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

May 13, 2026
Prabowo ” Is Finish ” 212 Tidak akan Masuk ke Lubang yang Sama

Benarkah Prabowo Pecah Kongsi dengan Rizieq Syihab?

May 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook, Jaksa Minta Bayar Uang Pengganti Rp5,6 Triliun

Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook, Jaksa Minta Bayar Uang Pengganti Rp5,6 Triliun

May 13, 2026
Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

May 13, 2026

Ketika Bahasa Krama Menjadi Benteng Anti-Bullying di Sekolah Dasar Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Bullying Verbal dan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya

May 13, 2026

Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, tetapi Menyalakan Kehidupan Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Project-Based Learning dan Filosofi Urip Iku Urup di Sekolah Dasar

May 13, 2026
Revolusi Bermula dari Film!

Revolusi Bermula dari Film!

May 13, 2026

Nikmat Sehat yang Baru Disadari Saat Hilang

May 13, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook, Jaksa Minta Bayar Uang Pengganti Rp5,6 Triliun

Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook, Jaksa Minta Bayar Uang Pengganti Rp5,6 Triliun

May 13, 2026
Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

May 13, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist