Oleh M Yamin Nasution – Pemerhati Hukum
“PESTA USAI dan WAKTUNYA BERHITUNG…!!
Hampir genap satu dekade kewarasan mendapat tekanan oleh rezim beracun yang di pimpin oleh Jokowi Widodo.
Jokowi bagi sebagian orang Adalah Dewa, sebaliknya, bagaikan Fablo Escobar menurut yang lain. Jokowi membangun fisik secara nyata, dan kepolosan masyarakat melihat ini menjadi luar biasa, mengingat infrastruktur menjadi kendala nyata dan dianggap penghambat utama dalam membangun hubungan silaturahmi dan pengembangan ekonomi, sehingga melahirkan kesenjangan ekonomi, kesenjangan pengetahuan, dan kesenjangan sosial.
Sikap diam dan dingin Jokowi menambah kesempurnaan bagi masyarakat yang polos, di mana mereka hanya melihat dari buramnya televisi dan media, sedangkan sudut pandang bagi pengikut pengikut lain adalah ruang dingin kekuasaan, proyek, dan semua bentuk manipulasi matrelisme.
Hal-hal diatas menjadikan Jokowi dalam aktivitas kebijakannya acap kali menjadikan hukum sebagai alat pembenaran sepihak, apapun yang di inginkan wajib terlaksana, apabila seseorang atau sekelompok menentang, maka orang tersebut harus dibuat menjadi kumpulan orang-orang sakit hati, benci, anti, intoleransi, radikaslime, dan tak cinta NKRI.
Pada dasarnya Jokowi Adalah orang yang baik, hanya kendala dengan minimnya pengetahuan tentang konsep bernegara, tak memiliki kecerdasan spiritual yang menjadikan dirinya gelap mata.
Secara garis besar bahwa Jokowi bukanlah orang yang memiliki karakter pemimpin, dan menjadi kendala dalam ruang kepemimpinan untuk mengeksekusi janji janji politiknya, sehingga antara ucapan dan action terus berbeda (Soekarno mengatakan orang seperti Jokowi Adalah LIP SERVICE).
Adapun pemimpin yang berkarakter seperti diterangkan oleh para akademisi di pengaruhi oleh genetik (atau disebut archetype narcissistic) dan lingkungan sosial di besarkan, sementara hal hal diatas Adalah pertanyaan pertama dan utama sejak kemunculan Jokowi yang hingga kini tak pernah terjawab secara terang benderang.
John Max Well menjabarkan bahwa pemimpin orang yang memiliki kejelasan genetik, pengetahuan yang besar, baik komunikasi dan pengetahuan yang lainnya, sehingga ia mampu memilih orang-orang yang akan membantu dalam melakukan tugas, memiliki koneksi dengan orang orang yang dipilihnya, mampu melihat momentum, memiliki hubungan batiniah dengan masyarakat secara alamiah, dll.
Sedangkan Margaret Thatcher mengatakan bahwa pemimpin adalah tentang kemahiran berkomunikasi. Dan komunikasi sering kali menjadi penyebab pertama atas keberhasilan dan sebaliknya.
Jean Lipman-Blumen,(2006) mengatakan bahwa Pemimpin Adalah perangkat pengetahuan besar dalam diri seseorang, sedangkan Kepemimpinan Adalah ruang dimana terjadinya suatu proses negosiasi antara seorang pemimpin dengan aktor-aktor politik dan; aktor swasta.
Kedua kelompok ini menginginkan keuntungan sebesar- besarnya bagi peribadi dan kelompoknya, tiga pihak di atas akan melakukan perdebatan atas suatu kebijakan yang akan dilakukan, bila di menangkan oleh seorang pemimpin maka keuntungan bagi masyarakat akan lebih, dan sebaliknya merugikan rakyat.
Anies Baswedan berkali-kali di katakan Adalah orang yang hanya mampu beretorika dan berteori semata, ini adalah bentuk pembodohan pada rakyat, sebab retorika hanya dimiliki oleh orang yang berpengetahuan luas sehingga ada sebuah konsep besar didalam benaknya.
Dalam sejarah kepemimpinan Dunia, retorika yang kuat akan membangunkan kesadaran yang tinggi, sedangkan teori Adalah sebuah konsep yang lahir dari penelitian sejarah puluhan, ratusan, hingga ribuan tahun, teori tidaklah lahir dengan mudah dan asal.
Pepatah Belanda mengatakan :
“Praten Als Een Kip Zonder Kop”
Bicara seperti Ayam tanpa kepala
Tradisi demokrasi menuntut untuk bicara yang mendasar, terlebih bagi politisi dan para politikus, sehingga menjadi pendidikan bagi generasi Bangsa.
Kesimpulan
Turut Serta Dalam Ketertiban Dunia Adalah pesan bagi setiap masyarakat untuk memilih pemimpin yang memiliki kecerdasan, hanya dengan kecerdasan tinggi yang dapat menundukkan oligarchy lokal-internasional dan aktor politik dalam ruang kepemimpinan, demikian juga dalam ketertiban Dunia hanya mungkin terwujud oleh seorang pemimpin yang mampu berbicara secara mendalam dan fundamental di ruang ruang negosiasi politik global.























