Oleh : M Yamin Nasution
Anda pasti mengenal dengan baik kartu Remy, permainan ini sangat di gemari masyarakat; baik orang tua maupun muda, kaya maupun miskin, bos maupun anak masyarakat jelata.
Namun tau kah Anda bahwa kartu ini dibuat dan erat kaitannya dengan politik dinasti?
Charles ke VI lahir pada Tahun 1360, dan menggantikan Ayahnya Charles ke V pada Tahun 1380, di ketahui bahwa Charles ke VI adalah GILA, segera dipanggil para seniman, Bupati, Gebernur dan kepala daerah lainnya (baik PLT maupun non – tambahan) untuk mencari sebuah mainan agar Raja Gila terhibur dan tidak kesepian.
Tahun 1392 ditemukan lah sebuah permainan yang jauh lebih baik dari sebelumnya di Mesir & Spanyol yaitu permainan KARTU REMI.
Untuk memperjelas bagi Anda semua maka dikatakan arti dari masing-masing kartu tersebut;
Raja Daud Skop: Raja itu Gila
Queen of Pallas : Penyuka kedamaian dan perperangan, dua kondisi Psikologis yang tak aneh. Dalam bahasa Latin nama ini disebut sebagai REGINA, Regina artinya Batu Nisan, yang di identikkan dengan keadilan tiada.
Satu Raja lain adalah gambaran Mentri – Mentri yang serakah, bekerja suka-suka sebab sang Raja Gila dan asik dengan hiburan barunya.
Dan Raja yang trakhir ini menunjuk pada OLIGARCHY yang serakah yang tak pernah puas, dan Oligarchy akan selalu menaruh taruhan pada hudi di Dua tempat, sehingga siapapun yang menang baik 01 maupun 02 (binari politik), bagi Oligarchy sama saja.
🃏 Joker: Para pialang atau pelacur pelacur politik (Pragmatisme) yang hanya mencari Apapun bagi dirinya.
Pepatah Belanda mengatakan;
Gekken krijgen de kaart, den domoor, den weetniet loopt vaak het geluk mede
Artinya: Ketika orang gila mendapatkan kartunya, SI BODOH, SI TOLOL, akan selalu mendapatkan keuntungannya.
Kesimpulan:
Siapapun dapat menjadi pemimpin, sekalipun orang gila dengan cara beruntung dengan memanfaatkan kekuasan DINASTI. Namun proses politik yang sehat adalah suatu proses yang membuat seseorang menjadi memiliki kesempurnaan dalam mengurusi sebuah Negara.
2019 orang gila telah di berikan kartunya, sehingga menghasilkan orang-orang bodoh yang beruntung dalam mengurusi sebuah Negara dan membuat kegilaan yang luas.
Raja Gila tidak akan pernah mengerti urusan kepentingan Rakyat, seorang Ratu senang di puji, menimbun perhiasan harta bagi dirinya, Mentri – Mentri yang serakah bertindak sesuai keinginan karena sadar Rajanya Gila, Dua Paslon (Treshold 20%) dalam PEMILU memberikan jalan mudah bagi Oligarchy untuk menaruh Judi di kedua pasangan calon Presiden.
Dari seluruh akumulasi tersebut maka, tata kelola negara buruk, sistem hukum menjadi waralaba yang hanya menguntungkan pengurus dan pemegang saham semata, ketidakadilan akan merajala.
STOP & JANGAN PILIH PASANGAN DARI HASIL DINASTI POLITIK, Sebab akan melahirkan kehancuran dalam bernegara & ketidakadilan bagi masyarakat.


























