Oleh: Malika Dwi Ana
Dalam labirin politik internasional yang penuh tipu daya, pengakuan negara Palestina oleh negara-negara Barat seperti Inggris, Australia, dan Kanada pada 21-22 September 2025, bukanlah kemenangan moral, melainkan sekadar obat penenang murahan untuk meredam gejolak global. Ini hanyalah bahasa politik yang licin, yang butuh kemauan minimal untuk diucapkan, tapi mewakili agenda tersembunyi yang jauh lebih gelap. Sementara itu, di lapangan, Israel terus menggila di Gaza dan Tepi Barat, dengan serangan udara yang menewaskan 36 warga Palestina sejak fajar 23 September, termasuk anak-anak di tenda pengungsi. Pengakuan terhadap negara Palestina ini hanyalah fatamorgana untuk menenangkan FOMO (fear of missing out) global soal HAM, sambil mempertahankan status quo kolonial. Dan ironisnya, di balik sorak-sorai palsu itu, harapan satu-satunya kini bergantung pada Iran—yang masih menunggu momentum untuk melepaskan Poros Perlawanan, meski harga yang harus dibayar adalah darah ribuan nyawa.
Bagian 1: Pengakuan Palestina – Simbolisme yang Menghina, Di Tengah Eskalasi Kekerasan
Bayangkan: Inggris, sang bidan kolonial yang lahirkan Israel melalui Deklarasi Balfour 1917 dan Mandat Palestina yang memecah-belah tanah Arab, kini berpura-pura bertobat dengan mengakui Palestina sebagai negara pada 21 September 2025. Diikuti Australia dan Kanada, gestur ini diklaim sebagai respons atas kegagalan Israel mencapai gencatan senjata di Gaza—perang yang sudah merenggut 66.054 nyawa Palestina hingga 17 September. Tapi jangan tertipu. Ini bukan pertobatan; ini FOMO murni. Tren global kepedulian HAM terhadap Palestina, yang meledak di media sosial dan jalanan Eropa, memaksa elit Barat ikut-ikutan agar tak dicap hipokrit. Di medsos warga Palestina di Tepi Barat menyambutnya dengan campuran harap dan sinis, tapi realitas lapangan bicara lain: Israel langsung tutup Jembatan Allenby—satu-satunya akses non-Yahudi ke dunia luar—sejak 23 September, mengisolasi jutaan warga Tepi Barat di tengah serangan pemukim dan IDF.
Apa yang diwakili pengakuan ini? Pertama, rasa takut ketinggalan gelombang solidaritas. Gerakan Muslim global—dari demo massal di London hingga boikot merayap di Prancis dan Australia—sudah menggerogoti fondasi ekonomi Barat. Saat masjid-masjid bergema dengan seruan BDS (Boycott, Divestment, Sanctions), elit seperti PM Albanese di Australia terpaksa bicara: “Ekspansi pemukiman Israel akan buat solusi dua negara ‘beyond reach’.” Tapi bicara doang. Pengakuan ini justru cara licik untuk merangkul: “Kami akui Palestina, sekarang diamlah!” Kedua, itu upaya meredam invasi damai Muslim ke ruang publik Barat. Mereka yang “tanpa malu-malu” berteriak di jalanan Paris atau blokir pelabuhan Milan, kini dijawab dengan kalimat manis yang tak ubah fakta: Israel bangun pemukiman baru di Tepi Barat untuk kubur negara Palestina selamanya.
Ketiga, ini jebakan klasik: Dalam kerangka “two-state solution,” akui Palestina berarti akui Israel juga—negara yang kini mirip imperium Romawi dengan Gaza sebagai Galia yang dikepung, ala komik Asterix. Inggris, yang impor Yahudi ke Palestina dan bagi-bagi tanah seperti kue kolonial, kini beri pengakuan “bersayap” untuk tebus dosa tanpa bayar hutang sejarah. Jangan eforia; ini bukan akhir perjuangan, tapi undangan bagi Palestina untuk “berhenti bergerak.” Sementara itu, serangan Israel di Gaza City mencapai “gelombang terberat” sejak perang dimulai, dengan ratusan ribu warga diusir dan dibom habis-habisan. Pengakuan Barat? Hanya plester pada luka terbuka yang dibiarkan bernanah.
Bagian 2: Diplomasi Mati, Harapan pada Iran – Tapi Momentum Mana?
Israel lahir di pangkuan PBB, dengan Inggris sebagai ibu dan AS sebagai ayah kaya yang beri senjata $17,9 miliar tahun ini. Berharap mereka bersuara? Nonsense! Diplomasi sudah mati, terkubur di reruntuhan Gaza di mana blokade dua bulan ciptakan kelaparan massal. Negara-negara Arab? Brengsek abis! Saudi, yang janji normalisasi dengan Israel, kini ancam “red line” soal aneksasi Tepi Barat—tapi cuma omong kosong, sementara kirim $60 juta ke Otoritas Palestina untuk jaga status quo dua negara. UAE dan Qatar? Malah bela Doha setelah Israel bom markas Hamas di Qatar pada 9 September, yang tewaskan pemimpin sementara seperti Khalil al-Hayya—gerakan yang dorong mereka peluk Iran, ubah Poros Anti-Iran jadi Anti-Israel.
Opsi militer? Itu yang tersisa, dan Iran adalah kuncinya. Meski perang langsung Israel-Iran (Twelve-Day War) Juni 2025 hancurkan fasilitas nuklir Iran dengan bantuan AS yang bom Natanz dan Fordow, Teheran tak mundur. Mereka sudah bantu Hamas secara finansial (meski stipend bulanan $15 juta kini terpotong karena kekalahan Hamas), diam-diam suplai rudal yang hancurkan arogansi Zionis, dan tewaskan pemimpin IRGC seperti Hossein Salami. Tapi Iran butuh legitimasi moral sebagai “Juru Selamat”—bukan cuma dari Syiah, tapi dunia Islam yang lelah dengan sekulerisme Sunni Teluk.
Momentum? Masih ditunggu. Gencatan senjata Israel-Hezbollah Februari 2025 (perpanjangan dari November 2024) biarkan IDF pegang pos di Lebanon Selatan, meski pasukan mundur dari desa-desa. Hezbollah, yang arsenal rudalnya 150.000+ roket, kini negosiasi diskarmamen tapi tetap ancam buka front utara jika Hamas diperhebat. Saatnya Iran beri restu: Hizbullah merangsek dari utara, Hamas bangkit dari reruntuhan Gaza (di mana pemimpin seperti Yahya Sinwar tewas Oktober lalu), dan milisi Irak/Suriah buka flank timur. Tapi sanggupkah? Israel punya Iron Dome, F-35, dan nuklir tak diakui—plus AS yang veto segala resolusi PBB. Eskalasi regional bisa hancurkan Lebanon (sudah 3.445 tewas sejak 2023), dan Iran yang tercekik sanksi.
UN Commission of Inquiry 16 September nyatakan Israel komit genosida di Gaza, tuduh Netanyahu dan Gallant picu pembantaian. Tapi tanpa tekanan militer, itu cuma kertas. Iran, dengan dukungan Rusia-Tiongkok, bisa jadi katalisator—tapi kalau momentum telat, Palestina cuma jadi korban abadi dari hipokrisme global.
Kesimpulan: Dari Simbol ke Senjata – Atau Kematian Pelan-pelan?
Pengakuan Palestina hanyalah tirai asap untuk sembunyikan kebiadaban Israel yang eskalasi: 91 tewas di Gaza City 20 September, termasuk yang coba kabur. Sementara itu, Iran pegang kunci perlawanan, tapi legitimasi moralnya harus dibangun dari puing-puing solidaritas Islam yang retak. Diplomasi? Sudah jadi lelucon. Militer? Risikonya neraka. Tapi satu hal pasti: Tanpa aksi nyata, Palestina bukan negara, tapi kuburan terbuka. Saatnya dunia Islam—bukan Barat—memilih: Diam atau darah?(MDA)
Oleh: Malika Dwi Ana




















