Beijing, Fusilatnews – Pemerintah China mengecam kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menaikkan tarif tambahan terhadap produk-produk China. Tarif baru sebesar 34 persen ini menambah beban tarif sebelumnya sebesar 20 persen, sehingga total tarif yang dikenakan mencapai 54 persen.
Kementerian Perdagangan China dalam pernyataan resminya menegaskan akan mengambil tindakan balasan guna melindungi kepentingannya. “China dengan tegas menentang kebijakan ini dan akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mempertahankan hak serta kepentingan kami,” demikian pernyataan resmi yang dikutip dari Reuters pada Kamis (4/4/2025).
Tarif Baru dan Celah De Minimis Ditutup
Trump juga menandatangani perintah eksekutif yang menutup celah perdagangan “de minimis” yang sebelumnya memungkinkan barang bernilai rendah dari China dan Hong Kong masuk ke AS tanpa bea. Selain itu, mulai Sabtu (6/4/2025), eksportir China akan dikenakan tarif dasar 10 persen untuk hampir semua produk yang dikirim ke AS. Sementara itu, tarif tambahan akan mulai berlaku pada 9 April 2025.
“Langkah ini tidak hanya menargetkan China, tetapi juga negara-negara lain di Asia,” kata Ruby Osman dari Tony Blair Institute for Global Change. Menurutnya, negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Vietnam kini menghadapi tarif antara 24 persen hingga 46 persen, mengganggu strategi “China-plus-one” yang selama ini diterapkan perusahaan-perusahaan global untuk menghindari tarif AS.
Dampak bagi Ekonomi Global
Sejumlah perusahaan China mulai mengalihkan perdagangan ke negara-negara seperti Vietnam dan Meksiko untuk menghindari tarif AS. Namun, dengan kebijakan baru ini, relokasi ke negara-negara tersebut menjadi kurang menguntungkan.
“Tarif Trump memang menekan perusahaan China, tetapi dampaknya terhadap ekonomi China tidak sebesar yang diperkirakan,” ujar William Hurst, profesor di Universitas Cambridge. Ia menjelaskan bahwa ekspor ke AS semakin berkurang perannya dalam perekonomian China, sementara perdagangan dengan Eropa, Asia Tenggara, dan Afrika terus berkembang.
Namun, peralihan pasar bukan tanpa tantangan. Produsen China menghadapi persaingan ketat di pasar alternatif yang memicu perang harga dan menekan margin keuntungan mereka. Hal ini memperumit strategi diversifikasi ekspor Beijing.
Strategi China Hadapi Tarif AS
Meski menghadapi tekanan dari kebijakan Trump, pemerintah China tetap mempertahankan target pertumbuhan ekonomi tahun ini di kisaran 5 persen. Beijing menyiapkan berbagai langkah antisipasi, termasuk meningkatkan stimulus fiskal, menerbitkan lebih banyak utang, dan melonggarkan kebijakan moneter.
Pemerintah China juga berupaya mendorong konsumsi domestik untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor. “Kami akan memperkuat pasar dalam negeri dan meningkatkan daya beli masyarakat agar perekonomian tetap stabil,” kata seorang pejabat senior Kementerian Keuangan China.
Para analis memperingatkan bahwa kebijakan tarif Trump dapat memicu dampak negatif bagi ekonomi global, termasuk kenaikan harga barang konsumsi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi. “Jika ketegangan ini terus berlanjut, dampaknya bisa meluas dan berisiko menciptakan ketidakstabilan global,” ujar seorang ekonom dari Bank Dunia.
Sejauh ini, belum ada indikasi bahwa Washington dan Beijing akan mencapai kesepakatan dalam waktu dekat. Perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia ini berpotensi terus berlanjut dengan dampak yang semakin luas bagi ekonomi global.






















