Oleh: Karyudi Sutajah Putra
Jakarta – Rakyat Bali, yang mayoritas beragama Hindu, Sabtu (29/3/2025) lalu merayakan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1947 atau 2025 Masehi. I Made Urip, salah seorang tokoh masyarakat Bali, mengajak masyarakatnya untuk memanfaatkan momentum Nyepi sebagai sarana mawas diri atau introspeksi, baik menyangkut Bhuwana Alit (manusia) maupun Bhuwana Agung (alam semesta).
Meskipun disebut hari raya, yang menandai pergantian tahun Saka, namun sesungguhnya Nyepi itu identik dengan puasa, atau tidak melakukan aktifitas seperti biasanya, karena pada saat itulah dilakukan Catur Brata Penyepian.
Catur Brata atau Empat Perilaku tersebut adalah, pertama, Amati Geni. Yakni, tidak boleh menggunakan atau menyalakan api serta tidak mengumbar hawa nafsu.
Kedua, Amati Karya. Yakni, tidak melakukan kegiatan kerja jasmani, tetapi meningkatkan kegiatan menyucikan rohani.
Ketiga, Amati Lelungan. Yakni, tidak berpergian, tetapi melakukan introspeksi atau mawas diri.
Keempat, Amati Lelanguan. Yakni, tidak mengumbar kesenangan/hiburan, tetapi melakukan pemusatan pikiran terhadap Sang Hyang Widhi Washa atau Tuhan Yang Maha Esa.
Catur Brata tersebut mulai dilakukan pada saat matahari “Prabrata” atau fajar menyingsing, sampai fajar menyingsing kembali keesokan harinya (24 jam).
“Segala hal yang bersifat peralihan selalu didahului dengan perlambang gelap, sehingga Nyepi dapat dikatakan mengandung makna hari penyucian diri (manusia) atau Bhuwana Alit, dan alam semesta atau Bhuwana Agung. Kita coba membuang segala kotoran atau segala hal negatif yang telah lampau untuk menyongsong tahun baru (Saka) dengan jiwa yang baru disucikan melalui Catur Brata,” kata MU, panggilan akrab Ketua DPP PDI Perjuangan yang juga Anggota DPR RI lima periode berturut-turut, yakni 1999-2004, 2004-2009, 2009-2014, 2014-2019 dan 2019-2024, Kamis (3/4/2025).
Terkait Bhuwana Alit, MU mengaku prihatin karena sekarang ini ada sebagian generasi muda Bali yang cenderung kurang percaya diri menyandang nama khas Bali. “Mestinya justru sebaliknya, bangga menyandang nama khas Bali yang merupakan identitas ke-Bali-an,” ungkapnya.
Pun, lanjutnya, ada sebagian generasi muda Bali yang cenderung memilih merantau keluar Bali untuk bekerja di pabrik atau jadi karyawan, ketimbang bertani atau menjadi pekerja seni di kampung halaman sendiri.
Terkait Bhuwana Agung, MU juga mengaku prihatin karena lingkungan hidup, budaya dan alam Bali sudah banyak mengalami kerusakan akibat pembangunan fisik yang tak terkendali, serta pengaruh budaya asing.
“Subak, misalnya, yang merupakan sistem pertanian tradisional Bali makin terdesak. Banyak sawah dan lahan pertanian yang ditumbuhi beton untuk pembangunan gedung dan hotel demi menggenjot sektor pariwisata,” cetusnya.
Apalagi, kata MU, sudah banyak warga negara dan badan usaha asing yang memiliki lahan dan properti di Bali. “Sementara banyak penduduk asli yang hanya jadi penonton saja,” tukasnya.
Ya, tak sedikit properti seperti rumah dan hotel, bahkan destinasi wisata di Bali yang sudah dikuasai warga negara atau badan usaha asing, sehingga cepat atau lambat, warga asli Bali akan terasing di tanah leluhurnya sendiri. “Nasib warga Bali bisa menjadi seperti Aborigin di Australia,” tutur pria “low profile” ini.
MU mengaku bukan anti-pembangunan atau anti-kemajuan Bali. Hanya saja, katanya, dalam melakukan pembangunan, pemerintah harus lebih memperhatikan keseimbangan alam dan budaya Bali, dan lebih memprioritaskan manfaatnya untuk masyarakat Bali. “Bukan justru membuat rakyat Bali teralienasi. Mau masuk tempat wisata di tanah leluhurnya sendiri saja harus bayar, misalnya,” paparnya.
Pendek kata, MU mendesak pemerintah dan stakeholders atau pemangku kepentingan lainnya agar tetap menjaga budaya, nilai-nilai dan alam Bali, di tengah masifnya pembangunan fisik dan ekonomi Bali.
“Jangan sampai nilai-nilai, budaya dan alam Bali tergerus atau kian rusak hanya karena pemerintah lebih mementingkan pembangunan fisik dan ekonomi Bali. Ayo, kembalikan Bali-ku kepadaku dan anak cucuku,” tandas MU.























