• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Perempuan Bergaun Merah

Karyudi Sutajah Putra by Karyudi Sutajah Putra
November 5, 2022
in Feature
0
Perempuan Bergaun Merah

Ilustrasi : Toto TIS Suparto

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Toto TIS Suparto, Editor Buku Lepas, Ghostwritter

Jakarta – Minggu ( 30/10/2022 ) pagi, saya olahraga jalan kaki di Lapangan Minggiran, Mantrijeron, Yogyakarta. Di sana aktivitas warga beragam. Ada anak-anak Sekolah Sepak Bola (SSB) sedang belajar nendang bola. Ada bapak-bapak jogging mengitari lapangan. Bahkan, sepagi itu sudah ada sekelompok orang bermain catur sembari menyeruput kopi tubruk di angkringan.

Ibu-ibu tentu tak ketinggalan untuk ikhtiar sehat. Di sudut lapangan mereka mengikuti instruktur untuk senam lansia. Saat senam sih biasa saja. Namun setelah senam, inilah yang menarik. Mereka tak langsung bubar. “Nunggu panitia,” kata seorang ibu peserta senam kepada temannya.

Kebetulan saya di dekatnya sehingga bisa mendengarkan percakapan mereka. Panitia? Ternyata senam itu memang dikoordinir. Ibu-ibu mendaftar terlebih dahulu. Konon, kata seorang ibu, yang mendaftar mencapai 150-an orang.

Ternyata mereka yang mendaftar memperoleh kaos plus amplop, tentu satu dus snack. Iseng-iseng saya mengintip kerumunan ibu yang sedang menyobek amplop. “Lumayan, lima puluh ribu,” katanya. Ya lumayan, sudah dapat sehat, dapat Rp 50.000 pula. Plus kaos dan makanan ringan. Kata orang Bantul, “Bejo tenan”.

Kaos itu bertulis nama dan foto seorang perempuan yang digadang-gadang maju sebagai calon presiden 2024. Ada tulisan relawan. Perempuan itu berkerudung putih dengan latar belakang warna merah. Saya menghitung, 150 kaos plus uang Rp 50.000 per orang. Total uang saja sudah Rp 7,5 juta. Belum hitung-hitungan biaya kaos dan snack. Bisa habis Rp 20-an juta. Belum lagi honor panitia alias relawan tadi.

Lumayan juga modal untuk “memperkenalkan diri” kepada konstituen. Sudah barang tentu perkenalan itu tidak di satu titik. Modus serupa bisa saja terjadi di titik lain. Bisa di wilayah Yogyakarta atau di luar daerah. Pendek kata, modal memang harus gede.

Entahlah dari mana asal modal itu. Tetapi jelas mahal. Itu cerita Minggu pagi. Kamis, pukul 13.54 WIB, ada cerita lain. Saya buka twitter. Pertama kali saya tengok yang sedang trending. Tertuliskan: Sedang tren untuk topik Indonesia “Perempuan Bergaun Merah”, 24,4 ribu tweet. Penasaran, apa sih “Perempuan Bergaun Merah”? Ternyata judul film.

Mengutip Kompas.com (3 November 2022), film Perempuan Bergaun Merah resmi tayang di bioskop Tanah Air pada hari Kamis (3/11/2022), dengan rating 13 tahun ke atas. Film yang dibintangi Tatjana Saphira dan Refal Hady ini merupakan hasil kolaborasi William Chandra sebagai sutradara dan Timo Tjahjanto sebagai produser.

Sejak sahabatnya menghilang, hidup Dinda (Tatjana Saphira) berubah jadi mimpi buruk saat sosok roh jahat berwujud perempuan bergaun merah menghantuinya. Nyawa Dinda terancam. Tak hanya dari sosok jahat itu, tapi juga dari orang-orang yang berusaha merahasiakan kejadian di malam ketika sahabatnya menghilang.

Sudah, cukup sinopsisnya secuil saja. Saya mau cerita lain, saat membuka twitter yang sedang trending itu, muncul pula gambar perempuan di kaos senam tadi. Dia bergaun merah, berdiri paling depan, dan dikerubuti para perempuan berbaju merah. Cocok juga kalau gambar itu numpang di hastag “Perempuan Bergaun Merah”. Jeli juga creator conten. Atau mungkin orang iseng. Tetapi pesannya sampai juga ke pembuka twitter “Perempuan Bergaun Merah”.

Bisa jadi itu bukan satu-satunya postingan yang digeber di media sosial. Ini pun butuh modal. Kalimat yang sama, entahlah dari mana asal modal itu. Satu hal yang ingin saya kemukakan di sini, tak ada politik gratis di negeri ini. Semua butuh modal. Butuh duit untuk meraih kursi. Jangankan kursi RI 1, pemilihan kepala dukuh saja butuh modal kok.

Akibatnya politik itu tidak sepenuhnya mendaku kepada kepentingan masyarakat. Saya jadi ingat kalimat filsuf Aristoteles, bahwa aktif dalam berpolitik menjadi baik sejauh tidak diperbudak proses biologis. Apa itu “perbudakan bilogis”?

Bahasa langitnya, ala para filsuf, padanan ”perbudakan biologis” adalah mazhab Cyrenaik yang menempatkan ”kesenangan tubuh lebih baik daripada kesenangan jiwa”. Lalu, tubuh dimanjakan dengan materi sehingga menimbulkan kesan, urusan perut adalah segalanya.

Kian mudah dibaca, ketika politisi diperbudak proses biologis, aktivitas politik jadi mata pencarian. Untung rugi dan kepentingan pribadi menjadi tolok ukur. Celaka jika politisi menempatkan politik sebagai pekerjaan.

Filsuf Hannah Arendt mengingatkan, jika politik dianggap pekerjaan, urusan orang banyak akan terabaikan. Artinya kegiatan politik bukan lagi sarana untuk meningkatkan kesejahteraan (rakyat). Bukan pula untuk mewujudkan prinsip-prinsip yang terkandung dalam politik, yaitu kebebasan, kesetaraan, keadilan, dan solidaritas.

Di sinilah bisa dilihat kesenangan biologis sebagai prinsip berpolitik bagi kebanyakan politisi. Jadi bagaimana? Kita sebagai rakyat, janganlah terlalu menuntut untuk menemukan politisi yang mengabaikan “perbudakan biologis” itu.

Manakala ada kandidat pemimpin disodorkan kepada kita, sadarlah bahwa kelak akan ada konsekuensi dari perbudakan biologis. Ada kepentingan-kepentingan rakyat yang terabaikan oleh kepentingan pribadi maupun kelompoknya.

Saya tidak akan menyatakan pilihlah politisi yang bersih dari perbudakan biologis. Agak susah ya di zaman sekarang. Cuma yang mau ditegaskan, siapapun yang kita pilih sebagai pemimpin, tidaklah bisa lepas dari perbudakan biologis versi Aristoteles tadi. Ini yang patut dipahami agar tidak “gondok” di kemudian hari.

Dikutip dari Kompas.com, Jumat 4 November 2022.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Benjamin Netanyahu Kembali PM Israel – Apa Dampaknya Bagi Palestina?

Next Post

Humor Lucu dan Berbahaya

Karyudi Sutajah Putra

Karyudi Sutajah Putra

Related Posts

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru
Feature

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 26, 2026
Feature

Menjaga Langit Nusantara: Menakar Marwah Bebas Aktif di Tengah Krisis Karakter Bangsa

April 26, 2026
Feature

Manajemen Risiko Nestlé, Risiko Kesehatan & Politik, Reputasi & Business Sustainability serta Sasaran Program MBG di Indonesia

April 26, 2026
Next Post
Humor Lucu dan Berbahaya

Humor Lucu dan Berbahaya

Mulai Black Campaign Kepada Anies Baswedan Pilpres 2024

Benci Roman dan Kinerja Nol Anies Baswedan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa
Feature

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

by Karyudi Sutajah Putra
April 24, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Letkol Teddy Indra Wijaya kini sudah bisa...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

RPP Tugas TNI: Wujud Remiliteriasi yang Bahayakan Kehidupan Demokrasi

April 24, 2026
Jangan Lawan Parpol!

Jangan Lawan Parpol!

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 26, 2026

Menjaga Langit Nusantara: Menakar Marwah Bebas Aktif di Tengah Krisis Karakter Bangsa

April 26, 2026

KSP Sentil Puan: Prabowo-Gibran Lahir dari Pelanggaran Etika

April 26, 2026

Manajemen Risiko Nestlé, Risiko Kesehatan & Politik, Reputasi & Business Sustainability serta Sasaran Program MBG di Indonesia

April 26, 2026
Tiga Prajurit TNI Gugur dalam Serangan di Lebanon, Indonesia Kutuk Keras

Tiga Prajurit TNI Gugur dalam Serangan di Lebanon, Indonesia Kutuk Keras

April 26, 2026
Hak Cipta Jurnalistik: Pilar Perlindungan atau Belenggu bagi Literasi Publik?

Hak Cipta Jurnalistik: Pilar Perlindungan atau Belenggu bagi Literasi Publik?

April 26, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 26, 2026

Menjaga Langit Nusantara: Menakar Marwah Bebas Aktif di Tengah Krisis Karakter Bangsa

April 26, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist