Fusilatnews – Grace Natalie berkata: Jokowi adalah Bapak Ideologi PSI.
Seketika saya terdiam.
Seperti mendengar kata “pujangga” ditujukan pada birokrat, atau “revolusioner” pada manajer gudang. Ada sesuatu yang tidak cocok, atau mungkin terlalu cocok, sehingga jadi mengganggu.
Apakah ideologi itu?
Orang Prancis, Louis Althusser, menyebut ideologi sebagai sistem representasi—cara kita memahami dunia, bahkan sebelum kita sadar kita sedang memahaminya. Ideologi bekerja halus, seperti udara yang tak kita hiraukan, tapi kita hirup setiap detik.
Tapi hari ini, ideologi tampaknya telah diturunkan menjadi sekadar stiker di mobil kampanye, atau jingle lima detik di TikTok. Ia bukan sistem nilai, melainkan dekorasi.
Di sinilah ironi muncul.
Jokowi, seorang teknokrat yang kerap menghindar dari perdebatan filosofis, kini dijadikan lambang ideologi oleh partai yang dulu mengaku membawa semangat perubahan, meritokrasi, dan akal sehat.
Apakah ideologi Jokowi adalah antikorupsi? Maka lihatlah siapa yang kembali duduk manis di kabinet.
Apakah ia soal kemajuan? Maka lihatlah siapa yang dia orbitkan, dan dari keluarga siapa.
Apakah ia soal keberpihakan pada rakyat? Maka coba dengarkan lagi siapa yang lebih sering didengar: pengusaha tambang atau petani kecil?
Atau mungkin benar: ideologinya adalah kekuasaan itu sendiri.
Seorang filsuf Italia, Antonio Gramsci, pernah menulis: “The challenge of modernity is to live without illusions and without becoming disillusioned.” Tantangan zaman modern, katanya, adalah hidup tanpa ilusi—tanpa pula tenggelam dalam sinisme.
Tapi di sini kita menemukan campuran keduanya: ilusi tentang ideologi di satu sisi, dan sinisme dalam praktik kekuasaan di sisi lain.
PSI tampaknya telah memilih bukan karena visi, tapi karena perlindungan. Bukan karena prinsip, tapi karena akses. Mereka tidak sedang membangun rumah gagasan, mereka sedang berteduh di emperan istana.
Jika Jokowi adalah bapak ideologi, maka kita patut bertanya: apakah ideologi itu masih tentang cita-cita, atau sudah berubah jadi silsilah?
Ada yang lebih menyedihkan dari politik yang korup: politik yang tidak tahu lagi mengapa ia harus bersih.
Bisa jadi, Grace tak sedang bicara tentang ideologi dalam pengertian klasik. Mungkin ia bicara tentang strategi, tentang arah angin, tentang kemana selera umum condong. Dalam hal itu, Jokowi memang jenius: ia bisa terlihat netral saat memihak, terlihat sederhana saat membangun dinasti, terlihat rendah hati saat mengatur segalanya.
Mungkin benar kata George Orwell:
“Political language is designed to make lies sound truthful and murder respectable, and to give an appearance of solidity to pure wind.”
Lalu kita berdiri di antara pujian yang dipaksakan dan kritik yang kehilangan taring, mencoba mencari makna dari sebuah deklarasi yang kosong.
Ideologi? Atau sekadar posisi?
Bapak? Atau patron?
Dan kita pun kembali pada pertanyaan lama yang tak kunjung dijawab:
untuk apa sebenarnya kekuasaan itu dimenangkan?
























