Fusilatnews – Ijazahmu, Samsul, adalah dongeng zaman modern. Banyak yang ingin percaya, tapi makin dibaca makin tak masuk akal.
Katamu lulusan University of Bradford, Inggris. Tapi nama di daftar alumni IABA—Indonesia Association of British Alumni—tak tercantum. Biasanya, lulusan luar negeri bangga betul dengan almamaternya. Tapi kamu, Samsul, seolah malu-malu. Atau jangan-jangan, almamatermu bukan di Inggris sana, tapi di selasar toko tinta printer di Salemba?
Katamu kuliah di Singapura dari 2007 sampai 2010. Namun tak ada yang ingat dirimu di PPI Singapura. Padahal anak kos Indonesia di Singapura biasanya eksis: ikut seminar, demo nasi padang, atau minimal nongol di acara 17-an. Tapi kamu, Samsul, bagai angin lalu—tak pernah tercatat, tak pernah terdengar. Sungguh mahasiswa mode stealth.
Lalu ijazah SMA-mu dari mana?
SMA Santo Yosef? Katanya cuma dua tahun, dan gagal naik kelas.
SMK Kristen Solo? Kabarnya hanya daftar, habis itu hilang bak kampanye antikorupsi.
Orchid Park Secondary School? Bukankah itu SMP, Samsul? Masa bisa loncat ke S1?
UTS Insearch Australia? Itu kursus persiapan, bukan penghasil ijazah SMA.
Lantas, ketika mendaftar ke MDIS Singapura, kau pakai ijazah apa, Samsul?
Ijazah hasil ketikan Word? Atau lembaran mukjizat dari tempat yang orang Jakarta kenal betul: Universitas Pasar Pramuka (UPP)?
Ijazahmu dari University of Bradford pun tak ada logo MDIS-nya. Padahal, semua lulusan dari jalur afiliasi seperti MDIS pasti ada embel-embelnya. Tanpa itu, hanya mereka yang kuliah langsung di Inggris yang bisa dapat. Jadi, Samsul, kapan kau ke Inggris?
Jangan bilang teleportasi, ya. Itu cuma berlaku di serial “Doraemon”.
Samsul, negeri ini sudah terlalu sering ditipu oleh orang yang menyodorkan ijazah, bukan integritas.
Bangsa ini tak kekurangan orang pintar—yang kita kekurangan adalah orang jujur.
Dan kalau engkau mulai kariermu dengan kisah samar tentang ijazah, bagaimana kami bisa percaya cerita-cerita berikutnya?
Catatan Pinggir Mahbub yang Terinspirasi:
Ijazah bisa dicetak, tapi integritas tidak.
Kamu bisa memalsukan asal sekolahmu, tapi tidak bisa memalsukan kepercayaan rakyat.
Dan kalau engkau benar lulusan UPP—Universitas Pasar Pramuka—maka setidaknya, akuilah dengan bangga:
“Saya memang tak lulus dengan otak, tapi saya lulus dengan koneksi.”
Begitu saja dulu, Samsul.
Dan ingat, rakyat bukan lagi domba. Mereka kini bisa baca, bisa cari, dan bisa mencium bau ijazah oplosan dari jarak jauh.


























