Ada kisah Raja yang meminta nasehat kepada seorang ulama. Lalu ulama itu membawa segelas air. Silahkan airnya diminum, kata Ulama kepada Sang Raja. Lalu Raja itu meminumnya setengah gelas. Kemudian Ulama bertanya kepada si Raja; “ bila air yang kau minum itu, tidak keluar dari perutmu, dan menyebabkan penyakit yang menyiksa dirimu, apa yang akan kau lakukan dengan hartamu?”. Si Raja kemudian menjawab, “ambilah sebagian dari hartaku”. Ulama kemudian meminta si Raja, untuk menghabiskan sisa air yang tinggal setengah gelas tadi. Si Raja pun meminumnya. Lalu Ulama itu bertanya lagi kepada si Raja; “bila air yang baru saja kau minum itu, tidak bisa keluar dari perutmu dan menyebakan kematian kepada dirimu, apa yang akan kau lakukan?, tanya ulama”. Dan si Raja itu-pun menjawab : “ambilah sisa harta yang sebagian lagi itu untuk bisa menyelematkanku dari kematian”, kata si Raja.
Nasihat ulama itu menjelaskan bahwa sebanyak apapun harta si Raja itu, nilainya tak lebih dari segelas air itu.
Ilustrasi diatas, ingin saya tegaskan bahwa mensyukuri nikmat segelas air, yang dikaruniakan Tuhan untuk manusia, adalah perkara yang tak ternilai harganya. Ketika segelas air yang kita minum itu, sebagian dikeluarkan oleh tubuh kita, menjadi air kencing. Dan itu apa yang tidak diperlukan oleh tubuh kita. Sisanya, saripati air itu, diedarkan melalui darah yang dipompakan oleh jantung dibagi rata keseluruh tubuh menjadi energi yang kemudian bisa memperpanjang hidup seseorang.
Setelah air yang tersedia melimpah ruah, pun udara. Oxygen disiapkan begitu melimpah tersedia dimana-mana. Ini tak kalah penting dari air minum itu. 5 menit saja tak dapat menghirup udara, kematian pun akan mengancam pula.
Kita masih ingat saat terjadi serangan covid-19 yang lalu. Ternyata untuk bisa menyambung hidup mereka yang terpapar virus covid – tabung oxygen menjadi rebutan. Ketika satu-satunya udara sebanyak yang ada dalam tabung oxygen itu yang bisa menyelematkan nyawa kita, maka harganya bias menjadi senilai dengan seluruh harta yang anda miliki itu. Nilainya seperti seharga segelas air tersebut diatas
Semoga kisah diatas, menjadi bahan renungan, khususnya kepada mereka yang sedang berkuasa, dan yang sedang rakus-rakusnya mencari harta dengan segala cara. Ingatlah jangan sampai cara mencari harta itu, akan memenjarakan dirinya atau hingga mematikan kehidupannya, karena harta yang dimiliki itu akan akan tiada artinya lagi, bila kemudian tidak bisa menyelematkan dirinya dari kematian atau kurungan penjara yang memalukan.
Kita bisa merasakan apa yang sedang terjadi dengan Presiden SBY, berkaitan dengan gagalnya AHY menjadi Cawapresnya Capres Anies Baswedan pada Pilpres 24. Cita-cita sang Ayah untuk mendorong sang putra AHY menjadi Presiden, gagal karena merasa ditelikung oleh Anies Baswedan. Secara empati bisa turut merasakan, bahwa perisitiwa itu sangat menyakitkan.
Dengan usia sudah semakin tua ini, dikhawatirkan perisitiwa tersebut akan membuat beliau sakit. Ini juga pelajaran, bahwa sekaya apapun, harta yang ia miliki saat ini, ternyata tidak menolong anak kesayangannya bisa meniti karir politiknya menjadi Cawapres bersama Anies Baswedan.
Bisa jadi seperti ilustrasi awal diatas, air yang telah diminum itu, tidak keluar menjadi pipis. Tetapi ternyata malah bisa mengancam dirinya menjadi penyakit, bukan?
Pernyataan Yusril Ihza Mahendara cukup mengejutkan. Ujug-ujug saja menyampaikan pernyataan seperti ini, Menurut Yusril, Presiden di Indonesia rawan diserang oleh musuh politiknya setelah lengser. Karena itu, Yusril menyatakan kesediaannya menjadi perisai hukum untuk Presiden Joko Widodo pasca lengser dari jabatan Presiden
Yusril berharap serangan tersebut tidak terjadi kepada Jokowi dan mantan presiden lainnya. Ia menyebut sosok presiden harus dihormati ketika masih dan tak lagi menjabat.
Saya memahami, bukan yang tersurat seperti yang beredar di media. Dialketika dalam pikiran saya ada berseliweran kepada rekam jejak Jokowi, dengan berbagai persoalan selama dia menjabat sebagai Presiden. Ada persoalan KKN yang dilaporkan Ubaidilah Badrun, soal dugaan KKN Gibran dan Kaesang. Ada persoalan KM 50 yang tetap dirasakan sesuatu ketidak adilan. Ada Persoalan tuduhan dan dugaan Ijazah Palsu, dll
Pernyataan Yusril Mahendra itu, yang kita kenal dia adalah Lawyer kelas atas, adalah kata lain sebagai “Do you want to see my lawyer?”, seolah-olah kata Jokowi atau “Do you want to see His Lawyer?”, seolah-olah kata Yusril
Tetapi yang tetap akan menjadi keraguan dan kehawatiran seseorang, walau didampingi oleh Lawyer sekelas maliakatpun adalah, ketika dalam persidangan tidak bisa menunjukan barang bukti yang diminta dalam persidangan. Dalam situasi seperti inil sang lawyerpun akan kehilangan argument yuridisnya.
Jadi teringat kalimat ini “You pay a peanut you got a monkey”. Istilah ini saya dengar dari sahabat saya James Lane, seorang Lawyer di Fort Worth Texas, yang sekaligus sebagai City Council pada waktu itu.























