Oleh Prihandoyo Kuswanto-Ketua pusat Studi Rumah Pancasila.
Gegap gempita nya pilkada didaerah ,rakyat mulai muak dengan segala rekayasa politik pilkada bukan digiatkan mencari pemimpin yang benar-benar memikirkan masa depan bangsa dan negara nya ,tetapi melanggengkan dinasty kekuasaan nya .
Demokrasi dengan ongkos yang mahal dan menghalalkan segala cara hanya golongan kaum borjuis dan koruptor pun bisa mencalonkan yang penting bisa bayar dan banyak uang .Bisa membeli demokrasi “mbelgedes ”
Demokrasi yang sedang dijalankan dinegeri ini adalah demokrasi super liberal demokrasi pasar bebas alias demokrasi “mbelgedes” , juga bukan demokrasi yang bener sebab demokrasi dioplos dengan amplop,sembako,intimidasi,politik sandra,kong kalingkong ,serangan fajar ,kaos ,dan secara masif blantik-blantik demokrasi liberal kacung dari oligarkhy terus beroperasi untuk memenangkan calon nya dengan menghalalkan segala cara .
Blantik-blañtik politik terus melakukan rekayasa mulai dari mendatangkan konsultan politik diramu dengan jajak pendapat ,dan yang lebih canggih menggunakan media darling ,dan kecurangan bagian dari strategi merampok kedaulatan rakyat dengan buzer yang siap mengadu domba ,fitna ,segala kebencian pecah belah terhadap rakyat ,racun ini terus ditebar buzer terhadap rakyat .
Guru besar dan intelektual kampus pun sudah tidak menjadi tempat memberi solusi tetapi ikut larut didalam demokrasi liberal dan mendukung demokrasi “mbelgedes” tanpa malu melakukan deklarasi di kampus -kampus dengan mengangkat isu demokrasi telah mati .
Demokrasi liberal semakin banyak macam oplosan nya akan memabukan.dan lama untuk menjadi sadar ,dan akan siuman sudah terlambat bisa terkubur karena over dosis atau sadar menjadi linglung .itulah gambaran terhadap keadaan bangsa kita hari ini oligarkhy politik menjadi jamak ,negara kekeluargaan diterjemahkan kekuasaan untuk keluarga anak ,mantu, ponakan ,bude pakde ,sepupu ,menjadi pengurus partai dan menjadi kepala daerah tidak segan yang penting menang suara terbanyak.
Demokrasi yang tidak berpijak pada jati diri bangsa.
Yang paling baru adalah melawakan calon dengan bumbung kosong atau kotak kosong .Kebenaran apa lagi yang kita dustakan .
Jadi manusia dilawan kan pada benda mati.Inilah yang mereka katakan demokrasi kalau saja kotak kosong kita ganti dengan patung ,atau kodok,atau Sapi,Anjing ,Tikus boleh kan ?
Arti nya pilkada dengan melawan bumbung kosong adalah demokrasi yang tidak bermartabat .
Padahal para pendiri negeri ini mengajarkan demokrasi Pancasila ďemokrasi dengan martabat Kemanusiaan Yang Adil dan beradab,menjaga persatuan bangsa,ber musyawarah yang dipimpin oleh hikma kebijaksanaan ,dan bertujuan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dan semua itu ditujukan semata mata mencari Ridho Ke Tuhanan Yang Maha Esa demi keselamatan dunia akherat bangsa nya .
Yang lebih heran para Ulamq dan Kiai tetap saja mendukung demokrasi liberal ini padahal dengan demokrasi liberal ini Islam sedang dalam pelapukan yang akan disekulerkan ,oleh sebab itu agar tidak ribut di sogok dengan konsensi tambang .Padahal ini pelanggaran Konstitusi .Bumi air dan kekayaan didalam nya dikuasai oleh Negara dan sebesar besar nya untuk kemakmuran rakyat .
Semoga pemimpin umat Islam ini sadar bahwa urusan pertambangan itu urusan negara dan justru harus nya NU dan Muhammadyah yang mempunyai negara ini berani mengingatkan jika terjadi penyelewengan dan penggarongan bukan justru ikut larut dalam penggarongan kekayaan ibu pertiwi.
Tidak ada jalan terbaik untuk menyelamatkan bangsa ini kecuali melakukan Sumpah Pemuda Kembali menegakan Negara Proklamasi 17 Agustus 1945.yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 kembali merebut kedaulatan rakyat.

























