• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Political Will atau Political Kill? – Penikaman Konstitusi Oleh Jokowi

Ali Syarief by Ali Syarief
April 18, 2025
in Feature, Politik
0
Dasar Hukum Laporan  Jokowi, Anwar Usman, Gibran, sampai Kaesang KKN, ke KPK

Ilustrasi

Share on FacebookShare on Twitter

“Political will”—binatang apakah gerangan? Dalam lorong gelap politik Indonesia hari ini, ia menyerupai siluman: tak berbentuk pasti, tak bertanggung jawab, tetapi punya kuasa menggerakkan roda kekuasaan. Political will bisa menjelma sebagai keputusan bijak demi rakyat, namun bisa pula menjelma sebagai hasrat membabi buta yang menabrak rambu-rambu konstitusi. Di tangan pemimpin yang gila kuasa, political will berubah menjadi political kill.

Adalah konstitusi—dokumen sakral yang disepakati para pendiri bangsa—yang seharusnya menjadi tiang pancang dari segala kehendak politik. Di sanalah kita menemukan kesepakatan luhur: bahwa kekuasaan dibatasi, jabatan dipagari, dan kekeluargaan tak boleh merajalela dalam urusan negara. Tanpa konstitusi, republik ini bukan apa-apa selain bangunan rapuh yang mudah disulap menjadi kerajaan warisan.

Sayangnya, dalam satu dekade terakhir, konstitusi tak lagi diperlakukan sebagai kitab suci politik. Ia dijadikan alat lentur, bisa dibengkokkan sesuai keinginan penguasa. Yang paling vulgar—telanjang, bahkan tanpa selimut legitimasi moral—terjadi ketika Mahkamah Konstitusi mengubah syarat usia calon presiden dan wakil presiden. Perubahan itu bukan hasil kegelisahan rakyat, bukan pula hasil debat akademik. Ia lahir dari rahim kekuasaan, didorong oleh satu nama: Gibran Rakabuming Raka.

Putra sulung Presiden Joko Widodo itu seolah dilahirkan bukan dari rahim demokrasi, tapi dari inkubasi rekayasa konstitusional. Political will Jokowi, dalam konteks ini, adalah kehendak telanjang untuk mewariskan kekuasaan, melompati etika, dan menerobos pagar hukum. Presiden yang seharusnya menjadi penjaga konstitusi justru menjadi pembelot utama. Ia membuka jalan bagi putranya menjadi calon wakil presiden lewat putusan Mahkamah Konstitusi yang diketuai oleh adik iparnya sendiri. Demokrasi kita ditampar di muka oleh nepotisme gaya baru.

Tak pernah sebelumnya seorang Presiden begitu terang-terangan melanggar konstitusi. Presiden Soekarno, yang dikenal dengan gaya otoriternya, masih mengklaim bahwa langkahnya sesuai dengan amanat revolusi. Presiden Soeharto, yang memerintah dengan tangan besi, tetap menjaga fatamorgana konstitusi lewat mekanisme formal. Tapi Jokowi? Ia menabrak konstitusi dengan santai, bahkan bangga. Ia menjadikan pelanggaran sebagai norma baru.

Kita boleh berselisih soal ideologi, tapi semestinya kita sepakat bahwa pelanggaran terhadap konstitusi adalah ancaman terhadap keberadaan negara itu sendiri. Ini bukan sekadar masalah hukum, tapi soal eksistensi republik. Kalau konstitusi bisa diubah untuk satu keluarga, apa yang menjamin bahwa di masa depan ia tak akan diubah untuk satu partai, satu ormas, atau satu dinasti lainnya?

Political will Jokowi adalah ujian besar bagi kewarasan demokrasi kita. Apakah kita tetap ingin hidup dalam sistem yang beradab, atau rela digiring masuk ke dalam ruang gelap nepotisme dan kesewenang-wenangan yang dikemas dalam jargon pembangunan?

Konstitusi bukan sekadar teks. Ia adalah konsensus yang menjahit kita sebagai bangsa. Merobeknya berarti merobek kain kebangsaan kita sendiri. Dan mereka yang merobek konstitusi, adalah mereka yang tak layak lagi duduk di singgasana kekuasaan.

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

“Siapa yang Mau Dimakzulkan Duluan?”

Next Post

Solo Memanas: Tak Ada yang Bisa Menghentikan Misi Kebenaran TPUA

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah: Antara Emansipasi dan Politik Kolonial
Feature

Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah: Antara Emansipasi dan Politik Kolonial

April 24, 2026
Feature

Genosida oleh Israel serta Konsekuensi Balasannya Menurut Al-Qur’an & Hadits

April 24, 2026
Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi
Birokrasi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Next Post

Solo Memanas: Tak Ada yang Bisa Menghentikan Misi Kebenaran TPUA

Pemerintah Mulai Beli Gabah Petani dengan HPP Rp6.500 per Kg pada 15 Januari

Inpres No. 6/2025: Jalan Baru Menuju Kedaulatan Pangan

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci
daerah

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

by Karyudi Sutajah Putra
April 23, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Untuk ke-9 kalinya, Setara Institute merilis data Indeks Kota Toleran (IKT). Ada 10 kota yang masuk dalam kategori...

Read more
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah: Antara Emansipasi dan Politik Kolonial

Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah: Antara Emansipasi dan Politik Kolonial

April 24, 2026

Genosida oleh Israel serta Konsekuensi Balasannya Menurut Al-Qur’an & Hadits

April 24, 2026
Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

April 23, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah: Antara Emansipasi dan Politik Kolonial

Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah: Antara Emansipasi dan Politik Kolonial

April 24, 2026

Genosida oleh Israel serta Konsekuensi Balasannya Menurut Al-Qur’an & Hadits

April 24, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...