Oleh: Damai Hari Lubis – Pengamat KUHP (Kebijakan Umum Hukum dan Politik)
Isu soal ancaman persekusi oleh Hercules terhadap Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA), yang hendak bersilaturahmi ke kediaman Jokowi di Solo, adalah propaganda murahan. Narasi seperti itu tak lebih dari taktik intimidasi, untuk menutupi satu hal yang paling ditakuti oleh para pembela kebohongan: TERBUKANYA KEBENARAN.
Jika ancaman itu benar terjadi, maka kita sedang menyaksikan betapa rendahnya kualitas demokrasi hari ini. Betapa mudahnya hukum ditelikung, hanya untuk melindungi seorang mantan presiden yang belum juga jujur kepada rakyat soal hal sederhana: Ijazahnya sendiri.
Saya ulangi: Eggi Sudjana, Ketua TPUA, adalah penasihat GRIB – organisasi yang dipimpin langsung oleh Hercules. Dan para pengacara GRIB pun adalah rekan-rekan kami. Maka, tuduhan bahwa akan ada konflik fisik antar kami, adalah absurd. Ini hanyalah teror psikologis untuk membungkam suara rakyat yang bertanya secara sah.
Kami ke Solo bukan untuk membuat keributan. Kami datang atas nama konstitusi. Surat resmi sudah kami kirim, dengan maksud silaturahmi. Tapi tentu, bukan silaturahmi basa-basi. Kami ingin bertemu dan bertanya langsung, sebagai warga negara yang punya hak konstitusional. Apakah ijazah Presiden Jokowi asli atau palsu?
Pertanyaan ini bukan urusan pribadi. Ini adalah urusan publik. Jokowi masih menjabat secara de facto dalam proyek besar Danantara, bagian dari program ekonomi strategis Presiden Prabowo Subianto. Maka, publik berhak tahu siapa sesungguhnya orang yang ikut mengarahkan masa depan bangsa ini.
Kami percaya Polri akan bersikap profesional. Mereka bukan alat kekuasaan, apalagi premanisme berkedok loyalitas. Mereka adalah aparat negara, bukan aparat pribadi.
Yang datang ke Solo bukan barisan radikal. Mereka emak-emak, para pakar seperti Dr. Roy Suryo, Dr. Rismon H. Sianipar, dan aktivis yang masih percaya bahwa hukum adalah alat mencari kebenaran—bukan tameng untuk menutupi kebohongan.
Kami juga percaya, Prabowo Subianto tidak akan membiarkan loyalisnya—yang telah mendukung sejak 2014 dan 2019—diintimidasi hanya karena ingin mencari kebenaran. Kami sempat kecewa karena beliau pernah bergabung dengan Jokowi, tapi kini kami kembali pasang badan untuk Kabinet Merah Putih. Karena kami tahu, Prabowo tahu, siapa teman sejati dan siapa pengkhianat sejarah.
Bertamu ke rumah seorang mantan presiden untuk bertanya soal hal mendasar bukanlah kejahatan. Justru menolak menjawabnya—itulah bentuk pengkhianatan terhadap demokrasi.
Kebenaran tidak akan berhenti di Solo. Tapi Solo akan mencatat siapa yang berpihak pada rakyat, dan siapa yang berpihak pada kebohongan.
Penulis adalah Koordinator TPUA (Tim Pembela Ulama dan Aktivis)






















