• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Politik Dua Wajah: Komunikasi Sipil vs. Otoritatif dalam Kepemimpinan

Ali Syarief by Ali Syarief
March 10, 2025
in Feature, Science & Cultural
0
Politik Dua Wajah: Komunikasi Sipil vs. Otoritatif dalam Kepemimpinan
Share on FacebookShare on Twitter

Komunikasi politik adalah seni menyampaikan pesan kepada publik dengan cara yang dapat diterima dan mendukung tujuan politik sang komunikator. Dalam teori komunikasi politik, pendekatan dapat dibedakan menjadi komunikasi persuasif dan komunikasi otoritatif. Komunikasi persuasif lebih menekankan partisipasi publik dan pendekatan emosional, sementara komunikasi otoritatif cenderung top-down dan berbasis instruksi. Dalam konteks politik Indonesia, dua figur yang menarik untuk dibandingkan dalam pendekatan komunikasinya adalah Dedi Mulyadi dan Prabowo Subianto. Keduanya memiliki gaya yang kontras: Dedi Mulyadi dengan komunikasi politik sipil yang membumi dan populis, sementara Prabowo dengan gaya komunikasi ala militer yang tegas dan kaku.

Dedi Mulyadi: Menghapus Privilege Demi Melahirkan Legitimasi Publik

Dedi Mulyadi, yang dikenal dengan gaya sederhana dan dekat dengan rakyat, memulai komunikasinya dengan aksi nyata: menghapus anggaran untuk kepentingan pribadinya sebagai pejabat. Dalam teori kredibilitas politik, pendekatan ini disebut sebagai “symbolic action,” di mana seorang pemimpin memperlihatkan komitmennya secara konkret untuk membangun kepercayaan publik. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak membutuhkan mobil dinas atau anggaran belanja gubernur. Pesan yang ingin ia sampaikan jelas: seorang pemimpin seharusnya tidak menikmati fasilitas negara yang berlebihan. Setelah itu, ia melanjutkan dengan kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada masyarakat, seperti melarang study tour yang dinilai lebih banyak menghamburkan uang rakyat ketimbang memberikan manfaat pendidikan yang nyata.

Pendekatan ini menuai respons positif dari masyarakat. Dalam teori respons publik, langkah Dedi Mulyadi dapat dikategorikan sebagai “resonansi emosional,” di mana pemimpin membangun hubungan psikologis dengan rakyat. Kebijakannya dianggap sebagai wujud keberpihakan pada kepentingan rakyat dan melawan gaya hidup pejabat yang serba mewah. Ia mendapatkan simpati, pujian, dan dukungan luas. Dengan membangun narasi bahwa pejabat harus hidup sederhana, Dedi Mulyadi menciptakan ikatan emosional dengan rakyat. Inilah komunikasi politik sipil: pendekatan yang persuasif, berbasis contoh, dan membumi.

Prabowo: Efisiensi yang Berujung Penolakan

Sebaliknya, Prabowo Subianto, dengan latar belakang militer yang kuat, lebih mengedepankan pendekatan top-down dalam kebijakannya. Dalam teori kepemimpinan Weberian, gaya komunikasi Prabowo termasuk dalam kategori “otoritatif-rasional,” di mana keputusan didasarkan pada efisiensi dan struktur birokratis. Demi efisiensi, ia mengambil langkah tegas dengan memangkas sejumlah anggaran seperti perjalanan dinas dan pengurangan fasilitas tertentu. Secara prinsip, kebijakan ini sebenarnya memiliki tujuan yang mirip dengan pendekatan Dedi Mulyadi, yaitu menghilangkan pengeluaran yang dianggap tidak perlu. Namun, perbedaan terletak pada cara komunikasi dan penerimaan publik.

Tanpa ada narasi yang cukup membangun pemahaman publik, kebijakan ini justru menimbulkan reaksi negatif. Kalangan dunia usaha, seperti Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), merasa terdampak langsung karena pengurangan perjalanan dinas berarti berkurangnya tamu di sektor perhotelan dan restoran. Dalam perspektif teori legitimasi kebijakan, kebijakan Prabowo gagal dalam tahap “justifikasi publik,” di mana kebijakan yang diambil tidak melalui mekanisme komunikasi yang cukup untuk mendapatkan penerimaan sosial. Gelombang ketidakpuasan pun meluas, dan puncaknya adalah aksi demonstrasi besar oleh mahasiswa yang menyoroti dampak kebijakan ini. Dengan tema “Indonesia Gelap,” mahasiswa menggambarkan kebijakan ini sebagai bentuk ketidakpedulian terhadap dinamika sosial-ekonomi masyarakat.

Kontras Gaya Komunikasi: Sipil vs. Soldadu

Perbedaan utama antara Dedi Mulyadi dan Prabowo dalam konteks ini terletak pada cara mereka mengomunikasikan kebijakan yang sebenarnya memiliki tujuan serupa. Dalam teori komunikasi politik McNair, komunikasi politik yang efektif harus mencakup aspek “interaksi dua arah,” di mana pemimpin tidak hanya menginstruksikan tetapi juga mendengarkan dan merespons kebutuhan publik. Dedi Mulyadi memulai dengan contoh konkret yang langsung menyentuh hati rakyat, sehingga pesan penghematan anggaran diterima sebagai bentuk kepedulian. Sementara Prabowo, dengan pendekatan militeristiknya, mengedepankan kebijakan tanpa terlebih dahulu membangun penerimaan publik yang kuat, sehingga justru menimbulkan resistensi.

Kisah ini menunjukkan bahwa dalam politik, bukan hanya substansi kebijakan yang penting, tetapi juga bagaimana kebijakan tersebut dikomunikasikan. Dedi Mulyadi menunjukkan bahwa pendekatan sipil yang berbasis empati dan pemahaman terhadap psikologi masyarakat lebih efektif dalam meraih dukungan publik. Sementara itu, Prabowo menjadi contoh bahwa meskipun niatnya baik, komunikasi yang kaku dan kurang memperhitungkan reaksi sosial dapat berujung pada protes dan ketidakpuasan.

Dalam era politik modern, keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya ditentukan oleh kebijakan yang dibuat, tetapi juga oleh seni berkomunikasi. Gaya komunikasi sipil seperti yang diterapkan oleh Dedi Mulyadi terbukti lebih diterima dibandingkan dengan gaya soldadu ala Prabowo yang cenderung otoritatif. Politik bukan sekadar soal keputusan, tetapi juga soal bagaimana keputusan itu dirasakan oleh rakyat.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Petani di Persimpangan: Jual Gabah ke Bulog atau Tengkulak?

Next Post

Presiden Minta THR Pengemudi Ojol dan Kurir Online Dibayar Tunai

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Sri Lanka: Mengapa Negara ini Dalam Krisis Ekonomi?
Feature

Pelanggaran HAM: Ketika Negara Mengurangi Martabat Manusia

January 25, 2026
Korupsi Moral di Era Keuangan Berlabel Syariah: Ketika Kepercayaan Dijarah dari Dalam
Crime

Korupsi Moral di Era Keuangan Berlabel Syariah: Ketika Kepercayaan Dijarah dari Dalam

January 25, 2026
Default Growth – Ekonomi Tumbuh 5% – Artinya Tidak Ada Peran Pemerintah
Economy

Default Growth – Ekonomi Tumbuh 5% – Artinya Tidak Ada Peran Pemerintah

January 25, 2026
Next Post
Ada 8 Poin Penting Dalam Regulasi Perlindungan Ojol, Sedang Digeber dengan Target Terbit Desember

Presiden Minta THR Pengemudi Ojol dan Kurir Online Dibayar Tunai

KPPU Temukan Dugaan Kecurangan Dalam Distribusi Minyakita

Rakyat Dibantai oleh Pejabat Korup, Politisi Pengkhianat, dan Pedagang Tak Amanah

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Stigma NGO oleh Wamenham Bukti Negara Gagal Melindungi, Justru Lakukan Persekusi
News

Stigma NGO oleh Wamenham Bukti Negara Gagal Melindungi, Justru Lakukan Persekusi

by Karyudi Sutajah Putra
January 24, 2026
0

Jakarta-Fusilatnews -  - Wakil Menteri Hak Asasi Manusia (Wamenham) Mugiyanto Sipin menyampaikan inisiasi pendanaan untuk Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) atau...

Read more
OTT Madiun dan Pati: Angin Segar Kubu Pilkada oleh DPRD

OTT Madiun dan Pati: Angin Segar Kubu Pilkada oleh DPRD

January 21, 2026
LBH Keadilan: Stop Kriminalisasi Warga Tangsel!

LBH Keadilan: Stop Kriminalisasi Warga Tangsel!

January 20, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Sri Lanka: Mengapa Negara ini Dalam Krisis Ekonomi?

Pelanggaran HAM: Ketika Negara Mengurangi Martabat Manusia

January 25, 2026
Korupsi Moral di Era Keuangan Berlabel Syariah: Ketika Kepercayaan Dijarah dari Dalam

Korupsi Moral di Era Keuangan Berlabel Syariah: Ketika Kepercayaan Dijarah dari Dalam

January 25, 2026
Termul-Termul Baru: Rusdi Masse, PSI, dan Peta Migrasi Loyalitas Politik

Termul-Termul Baru: Rusdi Masse, PSI, dan Peta Migrasi Loyalitas Politik

January 25, 2026
DESTINASI TRAGIS DI CISARUA: 11 JENAZAH KORBAN LONGSOR DITEMUKAN, 79 WARGA MASIH HILANG

DESTINASI TRAGIS DI CISARUA: 11 JENAZAH KORBAN LONGSOR DITEMUKAN, 79 WARGA MASIH HILANG

January 25, 2026
Default Growth – Ekonomi Tumbuh 5% – Artinya Tidak Ada Peran Pemerintah

Default Growth – Ekonomi Tumbuh 5% – Artinya Tidak Ada Peran Pemerintah

January 25, 2026
PDIP DAN MEGAWATI MENYERET BANGSA INDONESIA KE FREE FIGHT LIBERALISM MELALUI DEMOKRASI PEMILIHAN LANGSUNG

PDIP DAN MEGAWATI MENYERET BANGSA INDONESIA KE FREE FIGHT LIBERALISM MELALUI DEMOKRASI PEMILIHAN LANGSUNG

January 25, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Sri Lanka: Mengapa Negara ini Dalam Krisis Ekonomi?

Pelanggaran HAM: Ketika Negara Mengurangi Martabat Manusia

January 25, 2026
Korupsi Moral di Era Keuangan Berlabel Syariah: Ketika Kepercayaan Dijarah dari Dalam

Korupsi Moral di Era Keuangan Berlabel Syariah: Ketika Kepercayaan Dijarah dari Dalam

January 25, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...