• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

Potret Distorsi Kebijakan: Merawat Orang Sakit atau Sekadar “Membaca Buku”

fusilatnews by fusilatnews
May 23, 2026
in Birokrasi, Feature
0
Potret Distorsi Kebijakan: Merawat Orang Sakit atau Sekadar “Membaca Buku”
Share on FacebookShare on Twitter

Anwar Husen
Pemerhati Sosial / Dewan Pakar KAHMI Maluku Utara

Saya sedikit terperangah membaca sebuah artikel berjudul “Ribuan Calon Dokter Indonesia Gagal Mencapai Cita-Cita dan Harapan Orangtua” (Lampung Sentral, 22 Mei 2026). Artikel tersebut ditulis oleh Adv. Dr.dr. Wahdi, SpOG (K.Subsp.Obginsos), SH, MH, Ketua GEMASIC Indonesia (Generasi Emas Indonesia Cemerlang), Ketua GRANAT DPC Kota Metro Lampung, akademisi, praktisi kesehatan, sekaligus advokat.

Berdasarkan data nasional terbaru, jumlah total retaker—calon dokter yang mengulang Uji Kompetensi Program Mahasiswa Profesi Dokter (UKMPPD), yang kini dikenal sebagai UKNPDPD—berada pada kisaran 3.000 orang di seluruh Indonesia. Namun angka tersebut perlu dipahami dalam konteks kebijakan transisi dan batas masa studi terbaru.

Pemerintah sebelumnya memberikan masa transisi serta relaksasi selama satu tahun. Hasilnya, dari sekitar 3.000 retaker nasional, kurang lebih 2.000 orang berhasil lulus melalui kesempatan ujian berkala. Namun persoalan belum berakhir. Masih tersisa lebih dari 1.000 calon dokter yang berada pada posisi sangat kritis: terancam drop out (DO).

Kelompok ini sebagian besar telah menuntaskan seluruh tahapan pendidikan profesi, menyelesaikan koas, kepaniteraan klinik, hingga berbagai kewajiban akademik lainnya. Ironisnya, banyak dari mereka hanya terkendala pada ujian tertulis berbasis komputer (Computer Based Test), sementara sebagian justru telah lulus ujian praktik (OSCE).

Persoalan ini kemudian melampaui urusan individu. Ia telah berubah menjadi masalah sistemik. Sistem pendidikan yang seharusnya mencetak tenaga kesehatan justru melahirkan paradoks: kelulusan formal seorang calon dokter menjadi sangat ditentukan oleh satu mekanisme akhir di luar keseluruhan proses pembelajaran yang telah dijalani bertahun-tahun.

Dampaknya tidak sekadar administratif. Ancaman putus studi bagi ribuan calon dokter juga menyimpan konsekuensi psikologis yang serius: stres, depresi, tekanan mental berkepanjangan, beban ekonomi, hingga stigma sosial. Padahal mereka sesungguhnya telah menyelesaikan hampir seluruh proses pendidikan dan hanya tersandung di satu tahapan evaluasi.

Lebih jauh lagi, jika putus studi massal benar-benar terjadi, negara sebenarnya sedang melakukan pemborosan sumber daya yang luar biasa. Investasi pendidikan bertahun-tahun akan terbuang sia-sia, sementara sistem kesehatan nasional masih kekurangan tenaga dokter dalam jumlah besar.

Di titik ini saya melihat adanya anomali akut dalam kebijakan pendidikan negeri ini. Sebuah ironi yang sulit dipahami secara rasional.

Di satu sisi, ada lembaga pendidikan tertentu yang memperoleh status ikatan dinas dengan berbagai privilese: pendidikan ditanggung, fasilitas tersedia, bahkan sebagian memperoleh jaminan karier setelah lulus. Sementara pendidikan kedokteran—yang secara langsung berkaitan dengan keselamatan nyawa manusia—justru dihadapkan pada berbagai hambatan sistemik.

Padahal kondisi objektif Indonesia menunjukkan kebutuhan yang sangat mendesak.

Rasio dokter Indonesia saat ini hanya sekitar 0,47 per 1.000 penduduk atau setara satu dokter melayani sekitar 2.000 orang. Angka tersebut menempatkan Indonesia di peringkat ke-147 dunia dan masih jauh dari standar ideal WHO, yakni satu dokter untuk setiap 1.000 penduduk.

Dengan jumlah penduduk sekitar 280 juta jiwa, Indonesia secara ideal membutuhkan sekitar 280.000 dokter. Saat ini Indonesia masih kekurangan sekitar 100.000–120.000 dokter umum dan sekitar 30.000 dokter spesialis.

Yang menarik, saat Indonesia diserang pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu, Kementerian Kesehatan sempat mewacanakan percepatan masa studi pendidikan kedokteran. Alasannya sederhana: rasio tenaga kesehatan yang timpang membuat negara kewalahan menghadapi situasi darurat.

Artinya, negara pernah menyadari bahwa dokter adalah kebutuhan strategis. Namun kini, ketika ribuan calon dokter berada di ambang kehilangan masa depan, pendekatan kebijakan justru tampak bergerak ke arah sebaliknya.

Secara filosofis, kesehatan bukan sekadar kebutuhan biologis. Kesehatan merupakan prasyarat bagi manusia untuk menjalankan perannya sebagai khalifah fil ardh—mengoptimalkan potensi kemanusiaan dan menjalankan tanggung jawab kehidupan.

Menjaga orang sehat tetap sehat, apalagi memulihkan orang sakit, sesungguhnya berarti menjaga harkat, martabat, dan kemuliaan manusia. Tugas itulah yang secara akademik dan profesional dibebankan kepada tenaga kesehatan.

Bukan kepada dukun. Apalagi dukun palsu.

Lalu muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apa urgensi membanggakan lembaga pendidikan tinggi tertentu dengan status ikatan dinas beserta segala privilese yang melekat padanya?

Ambil contoh IPDN yang kerap menjadi rebutan. Apa capaian reformasi birokrasi paling monumental yang dapat ditunjukkan dalam situasi birokrasi hari ini, ketika birokrasi justru sering terseret pusaran kepentingan politik praktis?

Di tengah gelombang digitalisasi pelayanan publik, bukankah kebutuhan yang lebih mendesak justru terletak pada penguatan sumber daya manusia di bidang teknologi informasi, kecerdasan digital, dan inovasi sistem pemerintahan?

Kita hidup di era ketika realitas bergerak jauh lebih cepat daripada teori. Meminjam ungkapan populer Bahlil Lahadalia, banyak praktik pemerintahan hari ini telah terjadi “di luar buku.”

Pandemi Covid-19 menjadi contoh paling nyata. Negara tidak memiliki kemewahan waktu untuk sekadar duduk dan “membaca buku”. Negara dipaksa bertindak.

Ketika tulisan ini disandingkan dengan realitas pendidikan kedokteran, tampak adanya dikotomi kebijakan yang begitu vulgar.

Biaya pendidikan dokter umum bisa mencapai ratusan juta rupiah. Bila melalui jalur mandiri, nilainya dapat menyentuh angka miliaran, terutama di perguruan tinggi swasta.

Namun setelah menyelesaikan pendidikan yang panjang dan mahal itu, ketika hendak mengabdi sebagai ASN, posisi mereka tetap sama: sekadar pencari kerja, sejajar dengan lulusan jurusan lain tanpa perlakuan khusus.

Di sisi lain, ada peserta pendidikan kedinasan yang bahkan masih menempuh pendidikan tetapi telah menerima berbagai fasilitas dan tunjangan layaknya aparatur negara.

Secara teoritis, pendidikan memang dapat meningkatkan status sosial-ekonomi seseorang. Namun secara faktual, tingginya pendidikan dan mahalnya biaya pendidikan belum tentu menghasilkan peningkatan kesejahteraan. Penyebabnya adalah ketimpangan dan ketidakadilan kebijakan.

Jika lebih dari 1.000 retaker itu akhirnya benar-benar harus menerima kenyataan pahit berupa drop out, maka pertanyaan paling filosofis yang patut diajukan ialah:

Apakah kita masih layak menyandang predikat sebagai makhluk Tuhan yang paling mulia, jika bahkan kita gagal memuliakan profesi yang bertugas menjaga kemuliaan manusia itu sendiri?

Wallahu a’lam.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Benchmark: Ketika Listrik Mati Berjam-jam, Indonesia Masih Berjalan dengan Logika Abad Lalu dan Jepang Berlari ke Masa Depan

fusilatnews

fusilatnews

Related Posts

Benchmark: Ketika Listrik Mati Berjam-jam, Indonesia Masih Berjalan dengan Logika Abad Lalu dan Jepang Berlari ke Masa Depan
Birokrasi

Benchmark: Ketika Listrik Mati Berjam-jam, Indonesia Masih Berjalan dengan Logika Abad Lalu dan Jepang Berlari ke Masa Depan

May 23, 2026
Feature

Dari Mikrofon Bocor, Gelar Profesor Abal-Abal hingga Dugaan Judi Online: Ujian Etika dan Krisis Kepercayaan terhadap Elit Politik

May 23, 2026
Siapa yang Diprioritaskan Tuhan?
Feature

Sholat Cognitive dan Esensinya

May 23, 2026

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati
Komunitas

Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati

by Karyudi Sutajah Putra
May 21, 2026
0

Jakarta - FusilatNews.-- Dua puluh delapan tahun pasca-Reformasi 1998, demokrasi Indonesia justru bergerak mundur. Rezim hari ini mempertontonkan wajah kekuasaan...

Read more
Membaca Tanda-tanda Zaman: Prabowo Aman?

Membaca Tanda-tanda Zaman: Prabowo Aman?

May 21, 2026
Pembebasan 9 WNI yang Ditahan Israel Jadi Pertaruhan Prabowo

Pembebasan 9 WNI yang Ditahan Israel Jadi Pertaruhan Prabowo

May 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Potret Distorsi Kebijakan: Merawat Orang Sakit atau Sekadar “Membaca Buku”

Potret Distorsi Kebijakan: Merawat Orang Sakit atau Sekadar “Membaca Buku”

May 23, 2026
Benchmark: Ketika Listrik Mati Berjam-jam, Indonesia Masih Berjalan dengan Logika Abad Lalu dan Jepang Berlari ke Masa Depan

Benchmark: Ketika Listrik Mati Berjam-jam, Indonesia Masih Berjalan dengan Logika Abad Lalu dan Jepang Berlari ke Masa Depan

May 23, 2026

Dari Mikrofon Bocor, Gelar Profesor Abal-Abal hingga Dugaan Judi Online: Ujian Etika dan Krisis Kepercayaan terhadap Elit Politik

May 23, 2026
Siapa yang Diprioritaskan Tuhan?

Sholat Cognitive dan Esensinya

May 23, 2026

Siasat Kotak Kosong di Negeri Kaya: Mengapa Mereka Gelisah dengan PP Ekspor Satu Pintu?

May 22, 2026
ICMI Goes to Kampus YARSI Bahas Ketahanan Keluarga di Era Artificial Intelligence

ICMI Goes to Kampus YARSI Bahas Ketahanan Keluarga di Era Artificial Intelligence

May 22, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Potret Distorsi Kebijakan: Merawat Orang Sakit atau Sekadar “Membaca Buku”

Potret Distorsi Kebijakan: Merawat Orang Sakit atau Sekadar “Membaca Buku”

May 23, 2026
Benchmark: Ketika Listrik Mati Berjam-jam, Indonesia Masih Berjalan dengan Logika Abad Lalu dan Jepang Berlari ke Masa Depan

Benchmark: Ketika Listrik Mati Berjam-jam, Indonesia Masih Berjalan dengan Logika Abad Lalu dan Jepang Berlari ke Masa Depan

May 23, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...