Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Beijing di tengah situasi global yang memanas akibat kembalinya Donald Trump ke panggung politik Amerika menjadi sorotan. Cina kini bersiap menghadapi apa yang mereka sebut “kejutan Trump kedua” dengan meningkatkan ketahanan teknologi, mempererat aliansi, dan memperkuat kemandirian ekonomi. Bagi Prabowo, momen ini bukan hanya soal mempererat hubungan bilateral, namun juga memahami bagaimana Cina bergerak strategis dalam menyikapi tekanan yang kian nyata dari Washington.
Ketika pertama kali berhadapan dengan Trump, Cina merespons kebijakan tarif AS dengan tegas, mengakibatkan perang dagang yang menekan ekonomi global. Kali ini, alih-alih bersikap agresif, Cina memilih untuk mendekati aliansi lama dan menciptakan ketahanan dari dalam. Mereka memahami bahwa di masa sekarang, diplomasi pintar lebih dibutuhkan dibandingkan reaksi keras. Cina pun menjalankan strategi “offensive charm” atau serangan diplomasi, menyambangi negara-negara di Eropa, Global South, bahkan memperbaiki hubungan dengan Jepang, India, dan Australia. Mereka memanfaatkan celah di antara kepentingan AS dan sekutunya untuk memperkuat pengaruh mereka di pasar global yang tak lagi bergantung pada AS.
Sebagai presiden Indonesia, Prabowo tampaknya memahami bahwa berkolaborasi dengan Cina yang siap siaga menghadapi AS bisa membawa dampak positif bagi stabilitas kawasan Asia Tenggara, yang posisinya berada di tengah persaingan AS-Cina. Dengan memperkuat hubungan Indonesia-Cina, Prabowo melihat peluang untuk membuka jalur perdagangan yang lebih kuat, mendapatkan investasi di bidang teknologi, dan mempererat kerja sama militer. Langkah ini bisa menjadi bentuk perisai bagi Indonesia dalam menghadapi kemungkinan ketidakstabilan ekonomi global akibat kebijakan proteksionis yang kemungkinan akan kembali dihidupkan oleh Trump.
Keputusan Prabowo untuk melawat ke Cina juga memiliki relevansi besar dalam kaitannya dengan persaingan teknologi. Sejak pemerintahan Trump pertama, Cina memperkuat kemandirian teknologinya sebagai respons terhadap pembatasan ekspor teknologi tinggi dari AS. Kini, sektor teknologi Cina tumbuh pesat dan fokus pada pengembangan AI, semikonduktor, dan inovasi dalam negeri. Prabowo menyadari bahwa Indonesia bisa mengambil keuntungan dari kemandirian teknologi Cina ini, terutama di sektor infrastruktur digital dan manufaktur teknologi tinggi, sebagai cara untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi Barat.
Namun, ada tantangan yang perlu diantisipasi Prabowo dalam merespons dinamika ini. Trump telah berjanji untuk memperketat kebijakan terhadap Cina, termasuk rencana untuk mencabut status negara paling disukai (most-favored-nation) bagi Cina dan menaikkan tarif hingga 60%. Kebijakan ini bisa berdampak pada rantai pasokan global yang selama ini melibatkan Indonesia sebagai pemain penting. Jika ketegangan meningkat, negara-negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia bisa terkena imbas penurunan permintaan ekspor, khususnya ke AS, yang selama ini menjadi salah satu pasar terbesar.
Di tengah ketegangan ini, kunjungan Prabowo ke Beijing membawa misi diplomasi yang hati-hati namun strategis. Dengan menjalin kemitraan yang lebih erat dengan Cina, Indonesia tidak hanya memperkuat ketahanan ekonomi dan teknologinya, tetapi juga menegaskan posisinya sebagai negara berdaulat yang siap menghadapi dinamika global. Pertemuan ini juga menjadi isyarat bahwa Indonesia bersedia bekerja sama dengan berbagai pihak, namun tetap dengan komitmen menjaga stabilitas dan kepentingan nasional.
Dengan mengamati bagaimana Cina mempersiapkan diri menghadapi tekanan dari AS, Prabowo memperoleh pelajaran penting: bahwa dalam menghadapi ancaman global, kemandirian dan kerja sama regional adalah kunci. Pertanyaan terbesar adalah, apakah Indonesia sudah siap menghadapi dampak dari persaingan AS-Cina yang semakin intens? Kunjungan Prabowo ke Beijing adalah langkah awal, sebuah pesan bahwa Indonesia bukan sekadar pengamat dalam panggung global, namun aktor yang siap bermain cerdas di tengah persaingan dua raksasa ekonomi dunia.
























