Ketika Prabowo Subianto, Presiden RI ke-8, tengah melaksanakan kunjungan kenegaraan ke luar negeri, kehadiran Jokowi di Jakarta dengan alasan “menengok cucu” menuai berbagai opini dari publik. Beberapa kalangan menilai bahwa kehadiran Jokowi di ibu kota pada momen ini seolah mempertegas anggapan bahwa Prabowo masih berada dalam bayang-bayang Jokowi. Tindakan Jokowi ini, meskipun secara langsung tidak berhubungan dengan pemerintahan, dapat memberikan kesan bahwa Jokowi masih memiliki kendali kuat atau pengaruh di ruang politik Indonesia, bahkan setelah ia tak lagi menjabat sebagai presiden. Banyak yang berpikir bahwa jika Jokowi memahami opini publik, ia bisa memilih untuk tidak datang ke Jakarta ketika Prabowo berada di luar negeri, guna menghindari kesan adanya tumpang tindih peran atau bayangan yang tak terlepas dari kepemimpinan Prabowo.
Langkah Jokowi ini juga dianggap oleh sebagian kalangan sebagai bagian dari strategi citra politiknya. Sepanjang kepemimpinannya, Jokowi memang dikenal cerdik dalam memainkan citra publik, seringkali dengan gaya yang tampak sederhana namun penuh makna. Kehadirannya di Jakarta di saat Prabowo pergi ke luar negeri bisa dipersepsikan sebagai upaya untuk menunjukkan bahwa dirinya masih menjadi sosok penting di balik layar pemerintahan, baik sebagai mantan presiden maupun sebagai tokoh politik dengan pengaruh besar.
Namun, di sisi lain, tindakan Jokowi ini juga dapat dipandang sebagai suatu bentuk dominasi yang tidak hanya mempengaruhi citra Prabowo, tetapi juga berdampak pada karier politik putranya, Gibran Rakabuming Raka. Sebagai figur yang kini mulai menapaki panggung politik nasional, Gibran tak lepas dari sorotan publik mengenai seberapa jauh perannya sebagai tokoh mandiri atau sejauh mana ia masih berada dalam kendali sang ayah. Kehadiran Jokowi yang terkesan intens dalam kegiatan politik di sekitar Gibran membuat sebagian publik berpikir bahwa Gibran seolah-olah “dikomandoi” oleh Jokowi, tidak berdiri atas pijakan pribadinya.
Sikap Jokowi ini, bagi sebagian orang, bisa dianggap kurang arif. Jika Jokowi lebih memberi ruang bagi Gibran untuk berkiprah dan membentuk citra politiknya sendiri, publik mungkin akan melihat Gibran sebagai sosok yang lebih independen dan kredibel. Ketika Gibran dihadapkan pada sorotan publik yang mempertanyakan otonomi dan pengaruh pribadi dalam karier politiknya, tindakan Jokowi yang tampak terlalu sering “mengarahkan” anaknya justru berpotensi melecehkan Gibran secara tidak langsung. Hal ini memberi kesan seolah-olah Gibran tidak cukup dipercaya untuk menentukan jalan politiknya sendiri, sehingga publik pun mempertanyakan sejauh mana langkah Gibran merupakan pilihan pribadinya, bukan sekadar mengikuti arahan dari sang ayah.
Kesimpulannya, kehadiran Jokowi di Jakarta di tengah lawatan Prabowo ke luar negeri menunjukkan dinamika politik yang kompleks dan penuh simbolisasi. Bagi Jokowi, ini mungkin merupakan cara untuk mempertahankan pengaruhnya, baik sebagai mantan presiden maupun sebagai figur penting dalam perjalanan politik putranya. Namun, apabila Jokowi tidak berhati-hati, langkah ini justru dapat berdampak pada persepsi publik terhadap Gibran yang tampak belum mampu keluar dari bayang-bayang ayahnya.
























