Oleh : Murhanramli
Di tengah riuhnya Jakarta yang nyaris tak pernah memberi jeda, sekelompok perantau dari Pare memilih berhenti sejenak—bukan untuk beristirahat, tetapi untuk mengingat dari mana mereka berasal.
Sabtu pagi, 25 April 2026, ruang pertemuan di Swiss-Belinn Hotel Jakarta itu tidak sekadar menjadi tempat berkumpul. Ia berubah menjadi ruang batin, tempat kenangan, identitas, dan persaudaraan bertemu dalam satu kata: silaturahmi.
Ikatan Keluarga Masyarakat (IKM) Pare kembali menggelar Halal Bihalal—sebuah tradisi yang mereka rawat sejak organisasi ini diresmikan pada 2017 di Gedung Mempora. Bagi mereka, ini bukan agenda seremonial tahunan. Ini adalah cara menjaga akar agar tidak tercerabut oleh kerasnya hidup di perantauan.
Dari Jakarta Utara hingga Selatan, dari pesisir Tanjung Priok hingga sudut-sudut kota lainnya, warga Pare dan kerabatnya datang. Bahkan, sebagian hadir dari luar daerah. Mereka membawa satu hal yang sama: kerinduan akan kebersamaan.
Di antara wajah-wajah yang hadir, usia bukan lagi pembatas. Ketua IKM Pare, Dr. Bachtiar Husain, menegaskan hal itu dalam sambutannya. Baginya, kekuatan manusia bukan terletak pada angka umur, melainkan pada kemauan untuk tetap bergerak, tetap beraktivitas, dan tetap merasa hidup.
“Ketahanan itu bukan soal usia, tetapi soal kemauan untuk terus aktif,” pesannya.
Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Ia terasa nyata dalam suasana acara: tawa yang pecah tanpa canggung, obrolan yang mengalir tanpa jarak, dan semangat yang tetap menyala meski waktu terus berjalan.
Di balik layar, acara ini digerakkan oleh tangan-tangan yang bekerja tanpa banyak sorotan. Nama-nama seperti H. Sulaiman, Reny Tanri, hingga rekan-rekan lainnya menjadi simpul penggerak yang memastikan bahwa kebersamaan ini tidak hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar terjadi.
Acara pun berlangsung hangat. Musik mengalun, kupon hadiah dibagikan, dan tak satu pun peserta pulang dengan tangan kosong. Namun lebih dari itu, yang mereka bawa pulang adalah rasa—rasa memiliki, rasa terhubung, rasa bahwa mereka tidak sendiri di kota sebesar Jakarta.
Pesan-pesan pun disampaikan. Harapan agar organisasi ini terus berkembang, terus maju, dan terus menjadi rumah bagi siapa pun yang merindukan kampung halaman, meski hanya dalam bentuk pertemuan singkat.
Di zaman ketika banyak orang kehilangan arah di tengah hiruk pikuk kota, apa yang dilakukan IKM Pare terasa sederhana, tetapi justru penting: menjaga manusia tetap menjadi manusia—yang saling mengenal, saling menyapa, dan saling menguatkan.
Karena pada akhirnya, sejauh apa pun seseorang merantau, ia selalu membutuhkan satu tempat untuk pulang—meski hanya dalam bentuk pertemuan seperti ini.


























