Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Nahdlatul Ulama (NU) hendak menggelar Muktamar ke-35, Agustus nanti. Agenda utamanya adalah memilih Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya sudah pasti akan tergusur dari kursi Ketua Umum PBNU.
Di pihak lain, sejumlah tokoh NU sedang melakukan konsolidasi dan gerilya ke daerah-daerah dan ormas-ormas terkait. Di antaranya Muhaimin Iskandar alias Cak Imin, Saifullah Yusuf alias Gus Ipul, dan Nusron Wahid.
Cak Imin adalah Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan juga Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat.
Gus Ipul adalah Sekretaris Jenderal PBNU dan juga Menteri Sosial serta mantan Sekjen PKB dan mantan Wakil Gubernur Jawa Timur.
Nusron Wahid adalah Ketua DPP Partai Golkar dan juga Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN).
Cak Imin menilai Gus Yahya gagal memimpin NU, sehingga tak boleh dilanjutkan lagi.
Gus Ipul sempat terlibat konflik internal dengan Gus Yahya terkait konsesi tambang batubara yang diberikan pemerintah kepada NU. Gus Ipul pun sempat dipecat Gus Yahya dari jabatan Sekjen PBNU. Namun akhirnya dipulihkan setelah terjadi islah di antara kedua kubu.
Sebagai politikus, baik Cak Imin, Gus Ipul maupun Nusron tentu saja bersikap pragmatis. Bahkan bisa disebut sebagai penghamba kekuasaan. Siapa pun presidennya, mereka maunya tetap jadi menteri.
Ketika mereka nanti menguasai NU, baik langsung atau tak langsung melalui kaki tangannya, maka warga Nahdliyin ibarat keluar dari mulut harimau, masuk ke mulut buaya.
Dus, PBNU harus dijaga dari penguasaan para penghamba kekuasaan.
NU memang seksi secara politik. Maklum, jumlah anggotanya mencapai ratusan juta orang, sehingga sangat menentukan kemenangan seorang kandidat dalam pemilu.
Berdasarkan data survei tahun 2024, jumlah anggota NU diperkirakan mencapai 150 juta hingga 159 juta orang. Angka ini menjadikan NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, mencakup sebagian besar penduduk. Jumlah ini menunjukkan peningkatan signifikan dari data tahun 2021 yang mencatat lebih dari 95 juta anggota.
Secara de jure, Gus Yahya memang bukan politikus. Tapi secara de facto dia pernah menjadi juru bicara KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur semasa menjabat sebagai Presiden RI. Jadi, mau tidak mau Gus Yahya juga menjadi politikus. Apalagi setelah menjadi Ketua Umum PBNU.
Ya, dalam perjalanannya kemudian, ketika memimpin NU, sepak terjang Gus Yahya tidak kalah dari politikus, terutama menjelang Pemilihan Presiden 2024 lalu dengan membawa NU tidak netral lagi.
Apalagi sang adik, Yaqut Cholil Qoumas alias Gus Yaqut, adalah Menteri Agama yang kemudian menjadi tersangka korupsi kuota haji tahun 2023-2024. Gus Yaqut kini menjadi tahanan KPK.
Gus Yahya pun tak lepas dari isu-isu korupsi. Konflik internal di tubuh PBNU salah satunya dipicu oleh isu korupsi dimaksud.
Cak Imin juga akrab dengan isu korupsi. Sebagai mantan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Cak Imin pernah beberapa kali diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus “kardus durian”.
Gus Ipul dan Nusron Wahid pun tak lepas dari isu korupsi. Mungkin karena mereka pejabat negara.
Sebab itu, jika dalam Muktamar ke-35 NU nanti mereka berhasil naik ke panggung kekuasaan PBNU menggusur gerbong Gus Yahya, maka kondisi NU akan sama saja.
Alhasil, jika mau berubah menjadi lebih baik lagi, maka jagalah dan bersihkan NU dari para penghamba kekuasaan.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
























