Prediksi World Bank bahwa ekonomi Indonesia akan tumbuh di kisaran 5 persen sering diperlakukan sebagai kabar baik. Angka itu dipoles, dipamerkan, dan dijadikan legitimasi bahwa pemerintahan baru—di bawah Prabowo—akan berjalan di rel yang benar. Padahal, jika kita mau jujur dan sedikit saja berpikir kritis, pertumbuhan 5 persen itu lebih mirip ikan busuk yang terbawa arus sungai.
Kenapa ikan busuk? Karena ia tidak hidup, tidak bernyawa, tidak berjuang. Ia bergerak bukan karena daya, melainkan karena arus. Sungai mengalir, dan apa pun yang ada di dalamnya—hidup atau mati—akan ikut terbawa. Even the dead fish can go with the flow.
Dalam konteks ekonomi Indonesia, angka 5 persen itu bukan prestasi luar biasa. Ia adalah baseline, angka standar yang sudah lama menjadi karakter ekonomi Indonesia. Dengan jumlah penduduk besar, konsumsi domestik yang relatif stabil, dan mesin ekonomi yang terus berputar, pertumbuhan di kisaran itu bisa terjadi dengan atau tanpa pemerintahan yang visioner. Bahkan dalam situasi stagnan kebijakan, ekonomi tetap tumbuh—pelan, rutin, dan nyaris otomatis.
Di sinilah masalahnya. Ketika pertumbuhan yang sekadar ikut arus dirayakan seolah keberhasilan besar, maka yang terjadi adalah penurunan standar kepemimpinan. Pemerintah tidak lagi dituntut untuk berenang, cukup mengapung. Tidak perlu melawan arus, cukup jangan tenggelam.
Padahal, ikan yang hidup tidak demikian. Ia punya insting, tenaga, dan arah. Ia mampu swim to the spring—berenang ke hulu, melawan arus, menuju sumber kehidupan. Dalam metafora ekonomi, ikan hidup adalah kepemimpinan yang berani keluar dari jebakan angka rata-rata. Ia tidak puas dengan pertumbuhan 5 persen, tetapi bertanya: untuk siapa pertumbuhan itu? siapa yang menikmati? dan berapa harga sosial yang dibayar?
Berenang melawan arus berarti berani melakukan reformasi struktural yang sungguh-sungguh: memperbaiki kualitas pendidikan, menciptakan lapangan kerja bernilai tambah tinggi, membangun industri berbasis riset, memperkuat keadilan hukum, dan memutus mata rantai oligarki. Ini kerja berat. Ini melawan arus kepentingan. Dan di sinilah biasanya pemimpin diuji—hidup atau mati secara moral.
Jika Prabowo hanya mewarisi arus lama, mempertahankan pola lama, dan puas dengan angka pertumbuhan yang asal jalan, maka ia bukan ikan hidup. Ia hanyalah ikan busuk yang kebetulan sedang mengapung di sungai sejarah. Terlihat bergerak, padahal pasif. Terlihat maju, padahal hanya terbawa.
Ekonomi yang sehat bukan soal bergerak ke depan semata, tetapi soal arah. Sungai selalu mengalir ke hilir. Semua bisa ikut. Tapi hanya yang hidup yang berani memilih berenang ke hulu—ke sumber perubahan.
Dan bangsa ini, sejujurnya, tidak sedang butuh ikan yang mengapung.
Ia butuh pemimpin yang berenang.


























