FusilatNews – Dalam dunia militer, seorang tentara yang memiliki senjata paling canggih dan peluru paling mematikan seharusnya bisa menjadi petarung yang ditakuti. Ia bisa dengan presisi membidik musuh, menaklukkan ancaman, dan memastikan kemenangan bagi rakyat yang mendukungnya. Namun, bagaimana jika tentara itu justru menembakkan pelurunya ke udara, atau lebih buruk lagi, menembak kakinya sendiri? Inilah analogi yang paling tepat untuk menggambarkan Prabowo Subianto dalam strategi politiknya: memiliki kekuatan dan legitimasi rakyat, tetapi justru menggunakannya untuk merangkul sosok yang telah menjadi simbol korupsi kelas dunia—Joko Widodo.
Prabowo, yang dulu berapi-api menentang Jokowi dalam dua kali pertarungan Pilpres, kini menjalin persahabatan erat dengan sang mantan lawan. Bahkan, tak sekadar menjadi sekutu, Prabowo kini melanjutkan kebijakan-kebijakan yang selama bertahun-tahun ia kritik dengan lantang. Publik yang dulu percaya pada ketegasan dan semangat juangnya kini hanya bisa mengernyitkan dahi: apakah ini strategi politik jitu, atau justru bentuk kekalahan yang disamarkan sebagai kemenangan?
Dalam politik, tentu ada yang disebut kompromi. Namun, ada garis yang membedakan kompromi dengan kepasrahan total. Ketika seorang pemimpin yang mengaku akan membawa perubahan justru merangkul figur yang bertanggung jawab atas banyak kemunduran bangsa, maka bukan perubahan yang akan terjadi, melainkan pengulangan tragedi yang sama dengan wajah yang sedikit berbeda. Prabowo, dengan semua kekuasaan yang kini ia genggam, seharusnya bisa menembak korupsi dan kebobrokan sistem. Namun, alih-alih mengarahkan senjatanya ke sasaran yang benar, ia memilih untuk duduk manis dan merangkul sang “musuh” yang kini menjadi “sahabat”.
Mungkin, Prabowo berpikir bahwa dengan bersekutu dengan Jokowi, ia bisa mengamankan posisinya sebagai pemimpin masa depan negeri ini. Tetapi, sejarah telah menunjukkan bahwa siapa pun yang terlalu dekat dengan kekuasaan yang korup, pada akhirnya hanya akan menjadi perpanjangan tangan dari sistem yang ia kritik. Bagaimanapun juga, senjata yang canggih tak ada gunanya jika diarahkan ke tempat yang salah—atau lebih buruk lagi, jika tidak digunakan sama sekali.
Maka, jika ada yang bertanya apakah Prabowo masih menjadi sosok pejuang yang dulu dielu-elukan? Jawabannya sederhana: ia kini lebih mirip seorang tentara dengan senjata kosong, berdiri tegak di medan perang, tetapi tanpa keberanian untuk menembak ke arah yang seharusnya.






















