Fusilatnews – Ada saat dalam hidup ketika manusia akhirnya memahami satu rahasia besar: bukan dirinya yang mengendalikan hidup, melainkan Allah yang menulis seluruh takdir. Di titik itu, hati berhenti memberontak. Ia tunduk, berserah, lalu merasakan sesuatu yang selama ini dicari-cari: ketenangan. Hidup yang semula berat, mendadak terasa ringan.
Pengalaman itu dialami Willy Abdullah Fujiwara. Di episode akhir perjalanan kesehatannya, ia menemukan bahwa ikhlas bukan sekadar nasihat di mimbar-mimbar dakwah, melainkan jalan sunyi yang harus dilalui sendiri. Ia bersyukur bukan karena ujian diangkat, tetapi karena Allah memberinya kemampuan untuk menerima.
Awalnya ada rasa takut. Jarum besar untuk cuci darah tampak seperti ancaman bagi tubuh dan jiwa. Pikiran membangun bayangan ngeri—rasa sakit, ketidakpastian, bahkan ketakutan akan ajal. Namun ketika proses itu dijalani, Willy tersadar: ketakutan sering kali hanya ilusi pikiran. Nyatanya, darah yang dibersihkan menjadi sebab tubuh kembali bertenaga. Ia pun berbisik dalam hati, “Subhanallah, bahkan sakit pun Allah jadikan jalan untuk menyehatkan.”
Di ruang cuci darah itu, Willy melihat potret kecil kehidupan. Di ranjang sebelah, teman-teman senasib larut dalam alunan musik dangdut, mencari hiburan agar lupa pada jarum dan selang. Willy memilih cara lain. Ia mengambil tasbih, melafalkan dzikir perlahan. Astaghfirullah… Laa ilaha illallah… Allahu Akbar… Kalimat-kalimat itu mengalir bersama darah yang sedang dibersihkan. Seolah-olah bukan hanya tubuhnya yang dicuci, tetapi juga hatinya.
Di situlah ia mengerti makna hidayah. Bukan suara keras dari langit. Bukan pula mukjizat yang tiba-tiba. Hidayah adalah bisikan lembut Allah yang membuat hati condong untuk mengingat-Nya, bahkan di saat paling rapuh. Ketika manusia tak lagi bersandar pada kekuatannya sendiri, melainkan pada Rahman dan Rahim-Nya.
Willy kini memaknai panjang umur dengan cara berbeda. Bukan soal berapa tahun hidup, tetapi seberapa dekat ia dengan Penciptanya. Sehat bukan hanya terbebas dari penyakit, tetapi mampu merasakan nikmat dzikir di tengah sakit. Hidup jadi ringan bukan karena beban hilang, melainkan karena ia telah menyerahkan beban itu kepada Allah, Sang Pemilik Segala Urusan.
Inilah makna Pro God: berpihak sepenuhnya pada kehendak Ilahi. Saat manusia berkata, “Aku ridha dengan ketentuan-Mu, ya Allah,” maka dari sanalah lahir kekuatan baru. Dan ketika hati telah dipenuhi ridha, hidayah akan menetap, tak lagi sekadar tamu, tetapi penghuni tetap di dalam jiwa.






















