Jakarta – FusilatNews – Kasus dugaan keracunan massal kembali mencuat setelah ratusan pelajar di Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, mengalami gejala keracunan usai menyantap makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), Rabu (30/4/2025). Ironisnya, insiden serupa terjadi hanya sehari sebelumnya di Kota Bandung, mengindikasikan adanya masalah serius dalam sistem distribusi dan pengawasan program MBG.
Menanggapi kejadian tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) langsung mengambil langkah cepat. Kepala BGN, Dadan Hindayana, menyatakan keprihatinannya atas rentetan peristiwa yang menimpa para siswa, dan menegaskan bahwa pihaknya tengah melakukan investigasi menyeluruh untuk mengungkap penyebab dugaan keracunan tersebut.
“Munculnya kasus beruntun di beberapa wilayah menjadi alarm keras bagi kami. BGN berkomitmen penuh untuk mengusut tuntas kasus ini dan mengevaluasi seluruh prosedur pelaksanaan program MBG,” kata Dadan dalam pernyataan resminya di Jakarta, Jumat (2/5/2025).
Kasus di Tasikmalaya diketahui terjadi di lingkungan SPPG Yayasan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Menurut Kepala SPPG Michael Julius Tobing, seluruh prosedur penanganan bahan pangan telah dilaksanakan dengan ketat. Bahkan, uji awal oleh tim ahli gizi menunjukkan bahwa makanan dalam kondisi layak konsumsi sebelum dikirim.
Namun, dugaan keracunan tetap terjadi. BGN mencatat bahwa seluruh komponen makanan — mulai dari tahu, ayam, beras, sayur, hingga kentang — telah diperiksa sebelum proses pengolahan dan distribusi. Meski demikian, Dadan menyatakan bahwa proses investigasi tetap harus dilakukan untuk menemukan potensi kelalaian atau kontaminasi yang terjadi di lapangan.
Sementara itu, untuk kasus di Kota Bandung, BGN telah mengirim tim investigasi gabungan. Sampel makanan dan bahan mentah kini sedang diuji di laboratorium. “Kami perkirakan hasil uji laboratorium akan keluar dalam 10 hari ke depan,” ujar Dadan.
BGN memastikan seluruh siswa terdampak telah mendapatkan perawatan medis yang memadai. Dadan pun meminta masyarakat agar tidak panik dan menunggu hasil resmi investigasi.
“Ini menjadi refleksi penting bagi semua pihak yang terlibat dalam program MBG. Kita harus memperkuat pengawasan di semua lini, mulai dari dapur hingga makanan diterima dan dikonsumsi siswa,” katanya.
Sebagai langkah korektif, BGN akan segera memperketat prosedur distribusi, termasuk:
- Peningkatan protokol keamanan saat pengiriman makanan dari dapur ke sekolah
- Pembatasan waktu maksimum distribusi untuk menjamin kualitas
- Pengawasan terhadap mekanisme penyimpanan dan penyerahan makanan di sekolah
- Penetapan batas toleransi waktu antara makanan diterima dan dikonsumsi
- Kewajiban uji organoleptik terhadap makanan sebelum dibagikan
“BGN bertanggung jawab untuk memastikan bahwa program MBG bukan hanya menjangkau banyak anak, tetapi juga benar-benar aman dan menyehatkan,” pungkas Dadan.
























