• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

REFLEKSI ATAS SEPAKBOLA, NASIONALISME DAN LUKA KITA

“Ini bukan tim nasional, ini tim diaspora!”

Radhar Tribaskoro by Radhar Tribaskoro
June 7, 2025
in Feature, Sport
0
REFLEKSI ATAS SEPAKBOLA, NASIONALISME DAN LUKA KITA
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Radhar Tribaskoro

Sepak bola, seperti hujan pertama setelah kemarau, tiba-tiba membasahi tanah kering nasionalisme kita. Saat Timnas Indonesia memastikan langkah ke putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia, sorak-sorai tak hanya terdengar di stadion. Ia meledak di gang-gang sempit, di warung-warung, di ponsel tua yang menyala diam-diam di tangan tukang parkir, di obrolan sopir ojol yang semula letih, di mata anak kecil yang untuk pertama kalinya tahu bahwa bendera merah putih bisa berkibar bukan karena upacara 17-an, tapi karena gol di menit 44.

Ada rasa bangga yang meluap. Tapi kebanggaan itu—mari kita jujur—datang bersama sebuah tanya: mengapa hanya ini yang bisa membuat kita bersatu?

Indonesia, di mata dunia, lebih sering disebut karena bencana, korupsi, atau paradoks. Negara dengan kekayaan alam yang melimpah, namun impor beras. Negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, tapi satu per satu pilar demokrasi dilucuti, diam-diam. Negara Muslim terbesar, tapi suara toleransinya makin sayup.

Dan sekarang, ketika anak-anak kita menekuk Cina dan lolos dari grup “mengerikan” yang dulu seolah mustahil dilewati, dunia mendongak.

Bangsa yang sering dianggap enteng, kini membangkitkan rasa takut, rasa kagum, rasa penasaran. Tapi bukankah ini ironi? Apakah kita perlu mengguncang dunia di lapangan bola agar dunia mengingat bahwa kita ada?

Mencintai Siapa?

Ada satu tafsir yang mungkin terlalu pahit untuk ditelan, tapi tetap harus diucapkan: mungkin, sebagian dari kegembiraan kita adalah bentuk pelampiasan.

Terlalu lama kita merasa kalah. Di depan elit politik yang saling bersekongkol, di depan hukum yang tajam ke bawah, tumpul ke atas, di depan ijazah yang bisa diragukm.an tapi tak bisa ditanya, di depan anak-anak yang sekolah tapi tak yakin akan masa depannya.

Dalam sepak bola, tiba-tiba semuanya terasa sederhana: siapa bekerja keras, dia menang. Yang bermain indah, dielu-elukan. Yang malas, langsung diganti. Tak perlu oligarki, tak perlu ‘diplomasi istana’.

Mungkin karena itu kita mencintai sepak bola seperti mencintai keadilan yang lama hilang.

Bukan dari Podium, Tapi dari Tribun

Wajah-wajah yang menangis ketika Mars Indonesia Raya dinyanyikan sebelum kick-off bukan para menteri, bukan para jenderal, bukan para selebritas politik. Itu wajah para pekerja, petani, pengojek, pedagang kaki lima.

Nasionalisme yang tulus itu lahir bukan dari pidato, bukan dari tagar pencitraan, bukan dari mobil dinas yang lewat dengan sirine. Ia lahir dari pengorbanan: begadang demi menonton, membeli jersey meski gaji belum cair, menahan napas tiap lawan menyerang, dan menyalakan kembang api ketika kemenangan datang.

Pertanyaannya: mengapa nasionalisme yang paling murni justru datang dari rakyat biasa, sementara elit sibuk menyembunyikan ijazah, memperdagangkan kekuasaan, atau menyebar ujaran kebencian demi kursi?

Pemain Keturunan dan Arti Kebangsaan

Mereka yang mencetak gol—yang menendang bola dengan presisi, yang menyapu bola dengan gagah—beberapa di antaranya bukan anak kampung dari pelosok Indonesia. Mereka berdarah Belanda, Jerman, Nigeria, berdialek asing, berkulit terang.

Lalu, muncullah suara nyinyir: “Ini bukan tim nasional, ini tim diaspora!”

Namun, bukankah identitas Indonesia memang selalu cair? Nusantara ini dibangun bukan oleh kesamaan ras, tapi oleh kesediaan untuk berbagi tanah air, berbagi nasib, berbagi semangat.

Kebangsaan bukan tentang garis keturunan, tapi tentang keberanian untuk memakai merah putih dan memperjuangkannya. Di saat banyak elit justru mempermainkan merah putih demi kepentingan politik, para pemain keturunan itu justru menunjukkan loyalitas tanpa pamrih. Siapa yang lebih “Indonesia”?

Nasionalisme yang Tanpa Simbol Negara

Menariknya, dalam perayaan kemenangan Timnas, kita hampir tak melihat simbol negara yang biasa diagung-agungkan. Tak ada wajah politikus, tak ada logo partai, tak ada baliho “atas nama rakyat”.

Yang ada hanya: bendera, yel-yel, jersey, air mata.

Ini bukan nasionalisme yang diperintah, ini nasionalisme yang tumbuh. Bukan yang dipaksakan dari atas, tapi yang mekar dari bawah. Dan itu jauh lebih otentik.

Mungkin inilah yang perlu direnungkan oleh para penguasa: selama ini kalian gagal memelihara nasionalisme. Kalian ganti dengan slogan, kalian remehkan dengan skandal, kalian hilangkan maknanya lewat politik dinasti dan hukum yang dibeli.

Kini rakyat menunjukkan bahwa mereka masih bisa mencintai Indonesia—asal jangan disuruh mencintai kalian.

Sebuah Renungan untuk Elit

Kemenangan Timnas bukan hanya kemenangan sepak bola. Ia adalah momen refleksi nasional. Bahwa bangsa ini belum mati. Bahwa semangat masih ada. Tapi ia tumbuh di luar institusi negara, di luar istana, di luar DPR. Ia hidup di dada orang-orang biasa, yang muak dengan skandal, tapi masih bersedia berdiri menyanyikan Indonesia Raya.

Pertanyaannya: sampai kapan kalian terus menipu kami sambil berharap kami terus mencintai kalian?

Mungkin suatu saat nanti, ketika republik ini benar-benar guncang, bukan bom yang meledak. Tapi cinta yang kalian abaikan terlalu lama. Cinta yang begitu bergairah untuk sepak bola, tapi tak pernah kalian layani dengan kebijakan dan keteladanan.===

Cimahi, 6 Juni 2025

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Ke Jepang Akan Semakin Mahal – Mengapa?

Next Post

Lelucon Menag RI: Doa Timnas, Lupa Bangsa

Radhar Tribaskoro

Radhar Tribaskoro

Related Posts

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP
Birokrasi

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Birokrasi

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia
Cross Cultural

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
Next Post
Lelucon Menag RI: Doa Timnas, Lupa Bangsa

Lelucon Menag RI: Doa Timnas, Lupa Bangsa

Terbangun Narasi: Ijazah Palsu Itu Hilang

Contoh yang Sangat Nyata Kisah Watak Fir'aun Berulang

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiga Oknum TNI AD Penyiksa Sampai Mati Imam Masykur Dituntut Hukuman Mati
Birokrasi

Bukan Revitalisasi, Tapi Darurat Reformasi TNI

by Karyudi Sutajah Putra
March 26, 2026
0

Jakarta - Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasurlah menyatakan proses revitalisasi internal menjadi hal penting dilakukan dalam...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

TNI Sabotase Penegakan Hukum

March 19, 2026
Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

March 18, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026
Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

March 28, 2026

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...