• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Economy

Resiliensi atau Retorika? Membedah Narasi Sri Mulyani di Tengah Kinerja Ekonomi Buruk

Ali Syarief by Ali Syarief
May 6, 2025
in Economy, Feature
0
Menteri Sri Mulyani Pusing, Dipaksa Blokir Anggaran K/L Rp50 T?
Share on FacebookShare on Twitter

FusilatNews – Ketika Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,87% pada kuartal I-2025 sebagai tanda “resiliensi” di tengah tantangan global, wajar bila publik justru kebingungan. Di balik rentetan istilah teknokratik dan narasi optimisme, tersimpan ironi: pertumbuhan di bawah 5% sejatinya adalah sinyal bahwa target-target ambisius pemerintahan Prabowo-Gibran tak tercapai. Bahkan, data ini seolah menjadi bel peringatan dini atas krisis yang sedang mengintai.

Pertumbuhan ekonomi yang stagnan bukanlah sekadar angka; ia adalah penentu utama bagi perluasan lapangan kerja, peningkatan kesejahteraan, dan daya beli masyarakat. Ketika angka itu tak mencapai ekspektasi—apalagi dalam konteks pemerintahan baru yang menjanjikan “ekonomi berdikari”—maka yang terdampak pertama adalah kesempatan kerja. Dan ini bukan sekadar asumsi: PHK massal telah mulai terjadi, bahkan sebelum Prabowo benar-benar menjalankan program-program janjinya secara penuh. Dunia usaha, terutama sektor manufaktur dan startup digital, perlahan mulai menurunkan kapasitas produksi dan memangkas tenaga kerja.

Sri Mulyani mungkin benar bahwa ketidakpastian global—perang, suku bunga tinggi, dan pelemahan permintaan dunia—menjadi faktor eksternal yang memengaruhi kinerja perekonomian nasional. Tapi itu bukan jawaban yang utuh. Justru di sinilah negara seharusnya hadir dengan strategi mitigasi yang konkret, bukan sekadar optimisme dan jargon koordinasi lintas kementerian. Jika daya beli rakyat masih harus ditopang oleh insentif jangka pendek seperti diskon listrik dan tarif tol, bukankah itu tanda bahwa fondasi ekonomi sedang rapuh?

Lebih lanjut, investasi, yang sejatinya menjadi motor penggerak pertumbuhan jangka panjang, hanya tumbuh 2,12%. Sementara konsumsi pemerintah malah terkontraksi. Apa artinya? Negara tidak cukup agresif mendorong belanja produktif, dan pelaku usaha masih enggan menanamkan modal karena efek “wait and see” terhadap arah pemerintahan baru. Di tengah narasi besar tentang hilirisasi dan makan bergizi gratis, kepercayaan pasar rupanya belum pulih. Kinerja sektor konstruksi—indikator paling awal geliat investasi—hanya tumbuh 2,18%.

Tak bisa dipungkiri, Sri Mulyani adalah teknokrat kawakan dengan segudang pengalaman dan jaringan internasional. Namun, narasi yang dibawanya kali ini terkesan terlalu normatif dan defensif. Ia seolah lupa, bahwa Prabowo sebagai Presiden terpilih telah mengusung janji-janji bombastis seperti pertumbuhan ekonomi di atas 6% dan transformasi ekonomi besar-besaran. Dengan angka 4,87%, maka realitas sedang menunjukkan hal sebaliknya: janji tidak sejalan dengan kenyataan.

Lebih membingungkan lagi, pemerintah justru menonjolkan keberhasilan produksi beras sebagai titik terang, seolah itu cukup untuk mengimbangi tekanan pengangguran dan stagnasi investasi. Bahkan sektor industri pengolahan, yang mestinya menjadi lokomotif pasca-hilirisasi tambang, hanya tumbuh 4,55%. Apakah produksi beras bisa menyerap angkatan kerja terdidik? Apakah kenaikan produksi padi bisa mengkompensasi melemahnya ekspansi sektor teknologi dan konstruksi?

Kini, masalah terbesar bukan sekadar pertumbuhan yang rendah, tetapi sulitnya menumbuhkan kinerja lebih kuat di kuartal-kuartal berikutnya. Ketika sentimen bisnis melemah dan daya beli hanya bertahan karena insentif, maka tantangan struktural makin nyata: rendahnya produktivitas, ketimpangan antarwilayah, inefisiensi birokrasi, dan lemahnya industrialisasi di luar tambang.

Pertumbuhan ekonomi 4,87% bukanlah bukti ketangguhan. Ia adalah panggilan darurat. Bukan saatnya menteri menyusun narasi penghibur, tapi menyusun kebijakan transformatif. Indonesia butuh kejujuran data dan keberanian sikap. Jika tidak, angka pertumbuhan yang rendah ini akan menjadi awal dari spiral ketidakpercayaan publik terhadap kemampuan pemerintah dalam mengelola ekonomi secara efektif.

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Presiden Prabowo Terkejut, Saat Mengungkap Total Aset Negara Republik Indonesia

Next Post

Narasi Utang dan Realita Ekonomi: Membaca Klaim Presiden Prabowo dalam Konteks Fiskal yang Lebih Luas

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Ketika Nalar Menjadi Dasar Beragama
Feature

Ketika Nalar Menjadi Dasar Beragama

December 9, 2025
Mengenal dan Memahami Ahlussunnah wal Jamaah
Feature

Mengenal dan Memahami Ahlussunnah wal Jamaah

December 9, 2025
Pidato Prabowo yang Membuat Perut Kembung
Feature

Prabowo Mulai Kehilangan Nalar Sehatnya

December 9, 2025
Next Post
Prabowo: Pemimpin Zaman Sekarang Harus Terbuka terhadap Kritik

Narasi Utang dan Realita Ekonomi: Membaca Klaim Presiden Prabowo dalam Konteks Fiskal yang Lebih Luas

Bom Waktu di Penerbangan Indonesia

15 Pesawat Garuda Group Tak Terbang, Biaya Perawatan dan Krisis Suku Cadang Jadi Masalah

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Hilangnya Asketisme Elite NU
Feature

Hilangnya Asketisme Elite NU

by fusilat
December 9, 2025
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024 Jakarta - Asketisme, gaya hidup yang pantang terhadap kenikmatan duniawi demi mencapai...

Read more
Antara Retorika dan Realita: Bisakah Prabowo Tumbangkan Outsourcing?

Prabowo Hapus Utang KUR Petani Korban Banjir Sumatera, Ini Kata LBH Keadilan

December 8, 2025
KIP “Lapor” Kapolri Soal Putusan Sengketa Ijazah Jokowi: Lukai Rasa Keadilan Publik

KIP “Lapor” Kapolri Soal Putusan Sengketa Ijazah Jokowi: Lukai Rasa Keadilan Publik

December 8, 2025
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

18
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Ketika Nalar Menjadi Dasar Beragama

Ketika Nalar Menjadi Dasar Beragama

December 9, 2025
Kalimantan: The Lost World

Wo, Hutan Bukan Kebun Kayu

December 9, 2025
Mengenal dan Memahami Ahlussunnah wal Jamaah

Mengenal dan Memahami Ahlussunnah wal Jamaah

December 9, 2025
Pidato Prabowo yang Membuat Perut Kembung

Prabowo Mulai Kehilangan Nalar Sehatnya

December 9, 2025
Diledek PDIP,  PSI Partai Lebih Banyak Baliho Daripada Pengurusnya,  PSI Mencak-mencak Tak Terima

“Budaya Mundur yang Mati: Ketika Jabatan Lebih Berharga dari Kehormatan”

December 9, 2025
LEGALISASI KEJAHATAN PERUSAKAN HUTAN DENGAN PEMUTIHAN: SEBUAH IRONI

LEGALISASI KEJAHATAN PERUSAKAN HUTAN DENGAN PEMUTIHAN: SEBUAH IRONI

December 9, 2025

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Ketika Nalar Menjadi Dasar Beragama

Ketika Nalar Menjadi Dasar Beragama

December 9, 2025
Kalimantan: The Lost World

Wo, Hutan Bukan Kebun Kayu

December 9, 2025

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist