FusilatNews– Nilai tukar atau kurs rupiah kembali melemah atas mata uang dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Rabu (6/7/2022). Kemarin Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, dipicu sentimen kenaikan suku bunga The Fed dan inflasi domestik. Rupiah ditutup melemah 22 poin atau 0,15 persen ke posisi Rp14.992 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.972 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terjadi karena masih dibayangi sentimen negatif di pasar saham. Hal itu diungkapkan Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira, Dia mencatat dana asing jual bersih Rp 572 miliar di seluruh pasar pada penutupan perdagangan kemarin. “Investor memang mencermati risiko kenaikan The Fed rate terhadap Indonesia sehingga melakukan penjualan aset berisiko tinggi,” kata Bhima.
Data inflasi Juni yang cukup tinggi sejak 2017, kata dia, juga menjadi kekhawatiran risiko stagflasi. Apalagi BI masih menahan suku bunga tentu risk nya naik di market. Cadang devisa akan makin tertekan disaat arus modal keluar tinggi sekaligus kinerja ekspor komoditas mulai terkoreksi. Salah satu alasan pelemahan rupiah juga karena BI masih menahan suku bunga.
“Ditahannya suku bunga acuan membuat spread imbal hasil US Treasury dengan surat utang SBN semakin menyempit,” ujarnya.
Bhima juga menyoroti meningkatnya risiko utang luar negeri di tengah pelemahan nilai tukar rupiah. Dalam beberapa hari ini, rupiah loyo hingga menembus Rp 15 ribu per dolar Amerika Serikat.
“Beban utang luar negeri (ULN) sektor swasta meningkat karena pendapatan sebagian besar diperoleh dalam bentuk rupiah, sementara bunga dan cicilan pokok berbentuk valas,” ujar Bhima dikutip Tempo.co Selasa, 5 Juli 2022.
Bima Menuturkan, tidak semua perusahaan swasta yang memiliki utang luar negeri bakal melakukan hedging atau strategi untuk menekan risiko pelemahan rupiah. Namun, ia yakin situasi currency missmatch akan mendorong swasta melakukan berbagai cara, salah satunya efisiensi operasional.
Selain ditu Bima khawatir gejolak rupiah akan memicu imported inflation atau kenaikan biaya impor, terutama pangan. Imported inflation mungkin terjadi walau sejauh ini belum dirasakan. Sebab, produsen masih menahan harga di tingkat konsumen.
“Tapi ketika beban biaya impor sudah naik signifikan akibat selisih kurs, imbasnya ke konsumen juga,” ungkapnya.





















