Safari politik yang dilakukan Joko Widodo ke berbagai daerah dan pertemuannya dengan sejumlah tokoh politik semakin sulit dipisahkan dari kalkulasi politik menuju Pemilu 2029. Meskipun tidak lagi menjabat sebagai presiden, aktivitas politiknya justru semakin intens. Banyak pengamat menafsirkannya sebagai upaya memperkuat posisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), partai yang kini dipimpin putranya, Kaesang Pangarep.
Pertanyaannya sederhana. Mengapa partai-partai lain tampak tidak merasa terancam?
Apakah mereka menganggap PSI hanyalah partai kecil yang belum memiliki kekuatan elektoral? Ataukah mereka menilai safari politik Jokowi sekadar aktivitas mantan presiden yang tidak akan mengubah peta politik nasional?
Jika demikian, mereka mungkin sedang meremehkan satu prinsip dasar dalam politik elektoral: the zero-sum game.
Dalam sistem pemilu, terutama ketika pemilih relatif tetap, kenaikan suara satu partai hampir selalu berarti berkurangnya suara partai lain. Tidak ada kemenangan yang muncul dari ruang kosong. Setiap persen suara yang diraih PSI berpotensi berasal dari pemilih yang sebelumnya mendukung Gerindra, PDIP, Golkar, PAN, Demokrat, PKB, atau partai lainnya.
Karena itu, jika benar safari politik Jokowi diarahkan untuk memperkuat PSI menjelang 2029, maka sesungguhnya seluruh partai memiliki alasan untuk mencermatinya secara serius. Terutama Gerindra dan PDIP.
Gerindra tentu berkepentingan menjaga basis pemilih pemerintahan yang saat ini berada di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo. Sementara PDIP adalah partai yang pernah membesarkan Jokowi hingga menjadi wali kota, gubernur, dan akhirnya presiden. Bila PSI berhasil mengambil ceruk pemilih nasionalis yang selama ini diperebutkan kedua partai tersebut, dampaknya tidak bisa dianggap sepele.
Politik bukanlah permainan yang semua orang bisa menang bersamaan. Ia lebih sering merupakan kompetisi distribusi kekuatan. Bertambahnya kursi satu partai biasanya berarti berkurangnya kursi partai lain. Itulah hakikat zero-sum game dalam kontestasi elektoral.
Karena itu, sikap tenang partai-partai besar dapat ditafsirkan dalam dua kemungkinan. Pertama, mereka benar-benar yakin bahwa PSI belum cukup kuat untuk menjadi ancaman nyata. Kedua, mereka belum membaca bahwa Jokowi masih memiliki modal politik berupa jaringan, pengaruh personal, dan tingkat pengenalan publik yang dapat dimanfaatkan untuk membantu partai tertentu.
Sejarah politik Indonesia menunjukkan bahwa mengabaikan lawan yang sedang tumbuh sering kali menjadi kesalahan strategis. Banyak partai besar pernah kehilangan momentum karena terlambat menyadari perubahan preferensi pemilih.
Apakah PSI akan menjadi kekuatan dominan pada 2029? Jawabannya masih bergantung pada banyak faktor: kemampuan membangun organisasi, kualitas kader, konsistensi program, hingga dinamika koalisi nasional.
Namun satu hal hampir pasti: bila safari politik Jokowi memang menjadi bagian dari konsolidasi menuju 2029, maka kompetisi telah dimulai. Dan dalam politik, setiap langkah yang menguntungkan satu pemain hampir selalu mengurangi peluang pemain yang lain.
Mereka yang menganggapnya sekadar angin lalu mungkin baru akan menyadari arti pentingnya ketika hasil pemilu telah berbicara.

























