Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)
Untuk menutupi satu kebohongan, diperlukan dua kebohongan lain. Untuk menutupi dua kebohongan, diperlukan empat kebohongan lain…..

Jakarta, Fusilatnews – Secepat-cepatnya kebohongan berlari, kebenaran akan selalu dapat mengejar dan mendahuluinya.
Untuk menutupi satu kebohongan, diperlukan dua kebohongan lain. Untuk menutupi dua kebohongan, diperlukan empat kebohongan lain. Demikian seterusnya.
Kalimat-kalimat bijak tersebut sepertinya perlu dinasihatkan kepada Kaesang Pangarep, putra bungsu Presiden Jokowi, dan pihak Istana. Betapa tidak?
Ketika aksi hedonisnya terbongkar berupa penggunaan pesawat jet pribadi atau “privat jet” saat pelesiran ke Amerika Serikat (AS), 18 Agustus lalu yang diklaim Kaesang sebagai menebeng atau menumpang pesawat temannya yang kebetulan juga searah mau pergi ke AS, Menteri Komunikasi dan Informatika Budi Arie Setiadi melakukan pembelaan. Katanya, Selasa (10/9/2024), Erina Gudono, istri Kaesang sedang hamil delapan bulan, sehingga tidak boleh naik pesawat komersial.
Memang, dalam aturan penerbangan komersial, seseorang yang dalam kondisi hamil dengan usia kehamilan di atas 35 pekan atau 8,055 bulan tidak diperbolehkan terbang.
Belakangan, saat Kaesang menyambangi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Selasa (17/9/2024), juru bicaranya, Francine Widjojo menyatakan sebenarnya Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu bersama istrinya akan pergi ke AS dengan menumpang pesawat komersial tanggal 20 Agustus 2024. Akan tetapi setelah ada tawaran dari temannya yang juga hendak pergi ke AS, maka Kaesang dan istrinya pun ikut “nebeng”.
Tidak itu saja. Francine Widjojo juga menyatakan, pulangnya dari AS ke Tanah Air, Kaesang dan Erina menumpang pesawat komersial, bukan jet pribadi lagi.
Di sini ada dua pernyataan yang saling bertentangan. Pertama, pernyataan Menkominfo Budi Arie Setiadi bahwa Erina tak boleh naik pesawat komersial karena sedang dalam kondisi hamil delapan bulan. Kedua, pernyataan Francine Widjojo bahwa semula rencananya Kaesang dan istrinya hendak pergi ke AS dengan menumpang pesawat komersial, namun urung karena ada tawaran menumpang jet pribadi, dan pulangnya dari AS Kaesang dan istrinya pun menumpang pesawat komersial.
Dengan kata lain, menurut Budi Arie Setiadi, tak ada niat Kaesang dan istrinya naik pesawat komersial, karena Erina sedang dalam kondisi hamil 8 bulan. Lantas mereka menumpang jet pribadi.
Hal tersebut berbeda dengan pernyataan Francine Widjojo bahwa Kaesang dan istrinya semula berniat menumpang pesawat komersial, tapi urung karena ada tawaran menumpang jet pribadi milik teman Kaesang.
Bila benar Kaesang dan Erina pulangnya dari AS ke Indonesia naik pesawat komersial, ini juga bertentangan dengan pernyataan Budi Arie Setiadi bahwa Erina yang sedang hamil delapan bulan tidak boleh naik pesawat komersial.
Pertanyaannya, siapa yang berbohong, Budi Arie Setiadi ataukah Francine Widjojo?
Dugaan kebohongan lainnya diungkap pakar telematika Roy Suryo. Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga ini mengulik rute penerbangan Kaesang dan Erina ke AS.
Menurut Roy Suryo, berdasarkan data rute penerbangan yang dikantonginya, pesawat jet pribadi itu tidak langsung menuju Philadelphia, lokasi Erina Gudono bakal menjalani studi S2 Master of Science di Fakultas Social Policy and Practice University of Pennsylvania, tapi mampir-mampir dulu ke Los Angeles, lalu ke Las Vegas dan menginap semalam di sana.
Artinya, Kaesang bukan nebeng, melainkan meminjam atau menyewa pesawat jet pribadi milik temannya yang menurut Deputi Pencegahan dan Monitoring KPK Pahala Nainggolan berinisial Y.
Dari kabar yang ramai tersiar, Y adalah Geng Ye, konglomerat asal Singapura, pemilik SEA Limited yang membawahi perusahaan game online Garena, dan marketplace Shopee yang beroperasi di Indonesia.
Saat Gibran Rakabuming Raka menjabat Walikota Surakarta, Jawa Tengah, kakak kandung Kaesang yang pada 20 Oktober nanti akan dilantik menjadi Wakil Presiden RI ini menandatangani perjanjian kerja sama dengan Shopee. Mungkin dari sanalah kemudian Kaesang berteman dengan Geng Ye.
Jika Kaesang berbohong ihwal jet pribadi itu, cepat atau lambat pasti akan terbongkar. Hanya soal waktu. Sebab, satu kebohongan harus ditutup dengan dua kebohongan lain, dua kebohongan harus ditutup dengan empat kebohongan lain, begitu seterusnya.
Kebohongan beranak-pinak. Tak mungkin selamanya manusia akan mampu terus berbohong.
Seperti disebut di atas, secepat-cepatnya kebohongan Kaesang berlari, kebenaran akan selalu dapat mengejar dan mendahuluinya. Jadi, percuma saja kalau Kaesang berbohong.
Kini, bola panas ihwal dugaan gratifikasi Kaesang ada di tangan KPK. Jokowi pun sudah menantang KPK untuk memeriksa anak kesayangannya itu, dengan menyatakan semua orang sama di muka hukum. Equality before the law.
Artinya, KPK tak perlu lagi risih atau “ewuh-pakewuh” bahkan takut kepada Presiden untuk memeriksa anak Presiden. Semua orang sama di depan hukum.























