• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Sejak Amandemen UUD 1945, Indonesia Bukan Lagi Negara Hukum

Ir. Prihandoyo Kuswanto by Ir. Prihandoyo Kuswanto
April 16, 2025
in Feature, Politik
0
Sejak Amandemen UUD 1945, Indonesia Bukan Lagi Negara Hukum
Share on FacebookShare on Twitter

 

Oleh: Prihandoyo Kuswanto – Ketua Pusat Studi Kajian Rumah Pancasila

Beberapa waktu lalu, saya menulis artikel tentang ketidaksahihan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dalam mengamandemen Undang-Undang Dasar 1945. Tak lama kemudian, seorang sahabat saya, Cak Selim dari Surabaya, bertanya: “Kalau begitu, apakah semua presiden setelah Megawati tidak sah?” Saya jawab, “Ya, jika kita masih berpegang pada prinsip negara hukum.”

Bagaimana mungkin sebuah negara hukum melakukan perubahan konstitusi tanpa dasar hukum yang sah? Bukankah dasar dari negara hukum adalah supremasi hukum itu sendiri?

Jika kita cermati secara seksama, Pasal 3 dan Pasal 37 UUD 1945 serta Aturan Tambahan dan Peralihan tidak pernah memberikan wewenang kepada MPR untuk mengubah UUD 1945 secara substansial. Yang dilakukan MPR pasca-Reformasi bukanlah sekadar amandemen, melainkan pembuatan konstitusi baru yang bukan lagi UUD 1945 sebagaimana ditetapkan oleh PPKI pada 18 Agustus 1945.

Apalagi dalam Aturan Tambahan Pasal II disebutkan bahwa MPR hasil pemilu pertama “wajib menetapkan Undang-Undang Dasar”, bukan mengamandemennya. Dan itu pun tak pernah benar-benar dilaksanakan.

Dalam hukum, teks yang sudah jelas tidak boleh ditafsirkan secara menyimpang. Penafsiran yang melebihi makna literal, sistematis, dan historis justru akan menciptakan ketidakpastian hukum, bahkan membuka celah bagi manipulasi kekuasaan.

Kontroversi terbesar dari proses amandemen adalah penghilangan Penjelasan UUD 1945 dan perubahan nilai-nilai dalam Pembukaan. Padahal, Pembukaan UUD 1945 adalah Staatsfundamentalnorm—norma dasar negara yang mengandung filosofi, cita-cita, dan arah tujuan berbangsa.

Perubahan itu telah mereduksi makna kedaulatan rakyat dan keberagaman yang dahulu terwakili dalam struktur MPR melalui unsur DPR, Utusan Daerah, dan Utusan Golongan. Kini, keterwakilan tersebut dihapus dan digantikan dengan sistem keterpilihan berbasis suara terbanyak yang justru bertentangan dengan prinsip “Bhinneka Tunggal Ika”.

Pertanyaannya: pasal mana dalam UUD 1945 yang memberi kewenangan kepada MPR untuk menghapus utusan golongan dan daerah, serta mengganti asas permusyawaratan dengan demokrasi liberal?

Lebih dari sekadar perubahan hukum, amandemen ini adalah bentuk pengabaian terhadap asas negara: Pancasila. Nilai-nilai permusyawaratan dan keadilan sosial telah diganti dengan individualisme, liberalisme, dan kapitalisme. Demokrasi kita berubah menjadi arena pertarungan bebas—kalah-menang, kuat-kuatan, jual beli suara.

Ketika sila keempat “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan” diganti dengan pemilu langsung berbasis mayoritas suara, maka kita bukan hanya mengubah sistem politik, tetapi juga merusak roh konstitusi.

Apa yang kita lihat hari ini adalah buah dari penyimpangan itu: tanah rakyat dirampas seperti di Rempang, laut direklamasi dan dipagar untuk investor, hutan ditebang demi tambang, dan rakyat hanya menjadi penonton penderitaan mereka sendiri.

Korupsi merajalela, demokrasi diperdagangkan dengan sembako, proyek strategis nasional justru memperkaya oligarki, dan sistem hukum menjadi alat kekuasaan. Apakah ini negara hukum yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa?

Amandemen UUD 1945 telah melahirkan ketidaktertiban hukum, kebingungan dalam ketatanegaraan, dan sistem yang bertentangan dengan Pancasila. MPR telah melampaui kewenangannya, bahkan dengan sengaja menghapus elemen-elemen dasar dari konstitusi asli bangsa ini.

Jika kita ingin kembali kepada semangat dan nilai-nilai luhur kemerdekaan, maka sudah saatnya kita meninjau ulang hasil amandemen. Indonesia harus kembali menjadi negara hukum, bukan negara kekuasaan.

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

LBH Keadilan Dorong Kejati Banten Kembangkan Penyidikan Kasus Korupsi Pengelolaan Sampah

Next Post

Apa yang Terjadi Dengan Siswa SMP di Buleleng, Mengapa Ratusan Siswa Tak Bisa Membaca?

Ir. Prihandoyo Kuswanto

Ir. Prihandoyo Kuswanto

Related Posts

Feature

PASAL-PASAL DALAM DRAF RUU ADVOKAT MASIH MENYISAKAN AMBIGUITAS

July 30, 2026
Birokrasi

Ketika Gaji Kepala Daerah Jadi Kambing Hitam

July 30, 2026
Feature

Mundurnya Gubernur Bank Indonesia

July 28, 2026
Next Post
Apa yang Terjadi Dengan Siswa SMP di Buleleng, Mengapa Ratusan Siswa  Tak Bisa Membaca?

Apa yang Terjadi Dengan Siswa SMP di Buleleng, Mengapa Ratusan Siswa Tak Bisa Membaca?

Proses Hukum Terlalu lama di Kejagung Thomas Lembong Mengeluh.

Beberapa Fakta Terkait Penggantian Hakim Pada Kasus Tom Lembong

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Birokrasi

Ketika Gaji Kepala Daerah Jadi Kambing Hitam

by Karyudi Sutajah Putra
July 30, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024 Jakarta - Setiap ada kepala daerah ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), gaji...

Read more
Habis Nanik, Terbitlah Hotman

Habis Nanik, Terbitlah Hotman

July 23, 2026
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

July 11, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

PASAL-PASAL DALAM DRAF RUU ADVOKAT MASIH MENYISAKAN AMBIGUITAS

July 30, 2026
Terjawab, Teka-teki Pengunduran Diri Gubernur BI

Terjawab, Teka-teki Pengunduran Diri Gubernur BI

July 30, 2026
Sorotan Harta Rp92,1 Miliar Wakil Ketua DPRD Sulsel, Masyarakat Dorong Transparansi dan Pengawasan

Sorotan Harta Rp92,1 Miliar Wakil Ketua DPRD Sulsel, Masyarakat Dorong Transparansi dan Pengawasan

July 30, 2026

Ketika Gaji Kepala Daerah Jadi Kambing Hitam

July 30, 2026
Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

July 29, 2026
Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

July 29, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

PASAL-PASAL DALAM DRAF RUU ADVOKAT MASIH MENYISAKAN AMBIGUITAS

July 30, 2026
Terjawab, Teka-teki Pengunduran Diri Gubernur BI

Terjawab, Teka-teki Pengunduran Diri Gubernur BI

July 30, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...