Fusilatnews – Sejak Indonesia dipimpin Presiden Joko Widodo, publik disuguhi parade pembangunan infrastruktur: jalan tol, bendungan, bandara, hingga megaproyek Ibu Kota Nusantara (IKN). Namun dalam riuh rendah glorifikasi pembangunan fisik itu, satu hal nyaris absen dari wacana nasional: sains dan teknologi.
Tak ada gebrakan signifikan, tak ada visi yang terang. Sains dan teknologi, dua fondasi utama bagi negara yang ingin lepas dari jebakan negara berkembang, seakan diletakkan di pojok ruangan, jadi hiasan pidato seremonial tanpa arah dan strategi nyata.
Bandingkan dengan Korea Selatan, Tiongkok, atau bahkan Vietnam yang beberapa dekade lalu masih berdiri di belakang Indonesia. Negara-negara itu mengucurkan dana besar untuk riset, membangun ekosistem inovasi, memupuk kolaborasi antara universitas dan industri, serta memberi ruang pada ilmuwan dan insinyur untuk berkarya.
Sementara itu, di Indonesia, berapa banyak anggaran yang disediakan untuk riset? Kurang dari 1 persen dari PDB. Bahkan Kementerian Riset dan Teknologi pernah dibubarkan dan dilebur ke dalam nomenklatur baru yang membingungkan. Lembaga-lembaga riset dikonsolidasikan dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang alih-alih mempercepat kolaborasi ilmiah, justru banyak dikritik karena mempersulit kerja para peneliti dan memusatkan kontrol di tangan elite birokrasi.
Pertanyaannya sederhana: apakah negara ini benar-benar ingin menjadi negara maju? Sebab tidak ada satu pun negara di dunia yang menjadi maju hanya karena membangun jalan tol atau memindahkan ibu kota.
Negara maju adalah negara yang menaruh hormat pada ilmu pengetahuan. Negara yang menjadikan teknologi sebagai senjata diplomasi dan riset sebagai napas pembangunan. Negara yang menyadari bahwa kekuatan militer, ekonomi, dan bahkan kedaulatan pangan—semuanya bermuara pada penguasaan sains dan teknologi.
Di bawah era Jokowi, berita soal keberhasilan anak bangsa di bidang teknologi jarang sekali menjadi perhatian negara, kecuali ketika mereka diundang ke istana sekadar untuk difoto. Padahal mereka adalah ujung tombak masa depan.
Tanpa keberpihakan nyata, tanpa strategi jangka panjang, dan tanpa anggaran yang cukup, sains di Indonesia hanya akan tetap jadi tema pidato saat Hari Kebangkitan Nasional. Retoris, mengawang, tanpa nyawa.
Lalu kapan kita mau serius? Kapan Indonesia akan berhenti memperlakukan ilmuwan seperti relawan, dan mulai memosisikan mereka sebagai arsitek peradaban? Atau kita akan terus menari di atas jalan tol dan menonton kembang api dari Istana, sambil menyaksikan dunia melaju dan meninggalkan kita jauh di belakang?
Jika kita sungguh ingin menjadi negara maju, saatnya menyadari: bangsa besar tidak dibangun oleh semen dan beton, melainkan oleh pikiran-pikiran besar yang diberi ruang untuk tumbuh.


























