Fusilatnews – Dalam sejarah umat manusia, selalu saja muncul segelintir nama yang nasib dunia seolah digantungkan pada urat saraf dan tekanan darah mereka. Kalau mereka tidur tak nyenyak, kita semua bisa terbangun dalam dentum bom. Kalau mereka salah menekan tombol—entah tombol nuklir, tombol ego, atau tombol Twitter—anak-anak di benua lain bisa kehilangan sekolahnya, rumahnya, bahkan hidupnya.
Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, menyebut lima orang hebat yang kini memegang dunia di ujung jari mereka. Disebut hebat, tentu bukan dalam arti bisa menyulap air jadi anggur atau jalan di atas permukaan Danau Toba, melainkan hebat dalam memegang kendali atas hidup-mati, perang-damai, dan hancur-tegaknya peradaban modern.
Mereka adalah Benjamin Netanyahu, Ali Khamenei, Donald Trump, Vladimir Putin, dan Xi Jinping. Sejatinya, lima lelaki ini bukan sedang duduk melingkar main catur di bawah pohon beringin, tapi merekalah buah caturnya itu sendiri. Jika satu melangkah, pion-pion kecil yang bernama negara berkembang bisa ikut tergilas atau ditumbalkan.
Mari kita tengok satu-satu.
Netanyahu, si pemilik sabuk baja di jantung konflik Timur Tengah, memainkan peran bak kapten kapal perang yang tak pernah kehabisan peluru. Setiap pagi mungkin ia berselimut dengan peta strategi, sementara langit Gaza dipenuhi bau mesiu. Ia tahu betul bahwa satu peluru bisa membakar meja perundingan yang belum sempat diduduki.
Khamenei, pemimpin spiritual sekaligus de facto Iran, berdiri tegak bak menara adzan di tengah badai rudal. Ia bukan sekadar ulama, tapi pemegang remote kontrol bagi politik resistensi terhadap Barat. Dalam benaknya, mungkin tak ada kata mundur, hanya jihad dan kehormatan bangsa.
Trump, si mantan/Presiden Amerika Serikat, yang bagi sebagian orang lebih mirip selebriti reality show ketimbang negarawan. Namun jangan keliru: tangan yang dulu suka mencuit soal kopi pagi dan cuaca bisa juga mencuit perintah serangan militer. Ia bukan cendekiawan, tapi bisa membuat dunia intelektual pusing tujuh keliling.
Putin, mantan agen KGB yang kini menjelma jadi Tsar modern Rusia. Matanya tajam, kata-katanya pendek, tapi aksinya panjang. Ukraina menjadi saksi bahwa dalam permainan geopolitik, belas kasih bisa jadi hanya mitos dari kitab suci.
Xi Jinping, sang pemimpin Negeri Tirai Bambu, adalah simbol kebangkitan kekuatan Asia dalam rupa yang tak lagi malu-malu. Ia tak berteriak, tapi jalannya mantap. Jika ia menggoyangkan ekonomi, negara lain bisa demam. Jika ia melirik ke Taiwan, langit Pasifik bisa muram.
SBY, dengan nada khidmat dan jernih, mengingatkan: kelima pria ini tak sedang memainkan drama kolosal, melainkan menentukan babak sejarah umat manusia. Seperti lima jari tangan, mereka bisa terbuka untuk damai, bisa juga mengepal jadi tinju perang.
Dan dunia? Dunia kita ini ibarat seekor kambing tua yang hanya bisa berharap agar tak diseret ke tengah ring tinju lima raksasa.
Tapi Mahbub bilang dulu: pemimpin yang arif adalah mereka yang tahu kapan harus memimpin, kapan harus mundur, dan kapan harus duduk merenungi puisi. Semoga mereka yang disebut SBY bukan hanya hebat dalam kekuasaan, tapi juga besar dalam jiwa.
Karena jika tidak, kita semua hanya tinggal menghitung hari menuju sejarah yang akan kembali berdarah. Dan sejarah, sebagaimana kita tahu, tak pernah belajar dari dirinya sendiri.


























