Fusilatnews – Jokowi dan Xi Jinping itu seperti dua keping mata uang palsu: saling meneguhkan nilai satu sama lain, walau keduanya tak laku tanpa jaminan dari bank sejarah. Tapi kini, kabar dari Beijing berhembus seperti angin kemarau dari utara: Xi Jinping dikabarkan lengser, atau paling tidak, sedang kehilangan pijakan di gelanggang kekuasaan. Dan getarannya terasa hingga ke Jakarta.
Amir Hamzah, seorang pengamat geopolitik dan intelijen yang dikenal tajam, memberi peringatan yang lebih nyaring dari sirene ambulans politik: tumbangnya Xi adalah kiamat kecil bagi sisa-sisa kekuatan Jokowi.
“Jokowi itu sangat tergantung pada hubungan istimewanya dengan China, khususnya Xi Jinping. Ketika Xi jatuh, maka pengaruh politik Jokowi ikut kehilangan jangkar global,” ujar Amir. Dan kita tahu, kapal tanpa jangkar itu cuma dua kemungkinan: hanyut atau karam.
Dua periode Jokowi tidak dibangun di atas dasar ideologi atau visi kebangsaan. Tidak. Ia dibangun di atas beton, kereta cepat, dan utang luar negeri. Mitra utamanya bukan rakyat, tapi Xi Jinping. Bahkan, bukan rahasia lagi, dalam ruang-ruang perundingan tertutup, nama Xi sering disebut sebagai “garansi politik” atas investasi besar, termasuk Ibu Kota Nusantara (IKN). Dalam bahasa dagang, Jokowi adalah franchise dari Beijing.
Kereta Cepat Jakarta–Bandung menjadi simbol nyata: proyek penuh utang, molor, dan mengundang kontroversi, tapi terus dilestarikan karena satu alasan—Xi Jinping. Aliansi keduanya bukan sekadar hubungan diplomatik, melainkan semacam persaudaraan ideologis antara penguasa yang haus pembangunan tanpa partisipasi publik.
Kini Xi goyah, dan Jokowi pun limbung.
Setelah turun dari kursi presiden, Jokowi masih berusaha memelihara kendali. Ia masih menanam pengaruh lewat menteri-menteri pilihannya, proyek strategis nasional yang dijaganya seperti bayi raksasa, dan relasi informal ke luar negeri yang dulu disambut dengan karpet merah karena ada nama Xi di belakangnya. Tapi kini, sebagaimana dikatakan Amir Hamzah, fondasi dari semua manuver itu telah retak. Beijing tak lagi punya alasan untuk melihat Jokowi sebagai jaminan investasi.
Politik global bukanlah dunia dongeng. Saat kaisar berganti, semua kontrak dibuka ulang, semua loyalitas ditimbang ulang. Dan Jokowi, yang sejak awal tidak punya fondasi dalam negeri yang kuat—tak punya partai sendiri, tak punya ideologi jelas, tak punya massa loyal kecuali buzzer—kini kehilangan satu-satunya jangkar luar negeri yang membuatnya tampak relevan: Xi Jinping.
Apa yang tersisa? Rezim yang tak lagi punya patron, proyek-proyek yang tak lagi punya sponsor, dan pengaruh politik yang tak lagi punya pelindung. Sementara lawan-lawan politiknya sudah mengasah pedang untuk menyambut era baru tanpa sang patron besar dari Beijing.
Inilah pelajaran mahal dari pembangunan tanpa kedaulatan: ketika penguasa menggantungkan nasib bangsa pada modal asing dan restu politik luar negeri, maka ia bukan sedang membangun negara, melainkan menyewa panggung.
Dan bila panggung itu kini dibongkar dari arah Beijing, maka kita hanya bisa menyaksikan sang pemain utama turun dengan langkah canggung, meninggalkan jejak sejarah yang penuh beton tapi tanpa akar.
Apakah Anda ingin versi yang lebih panjang untuk dimuat di media atau versi pendek untuk narasi video?


























