Fusilatnews – Lupa namanya. Umurnya 56 tahun. Badannya kecil, tapi matanya galak. Galak pada hidup yang makin pelit. Saya jumpa dengannya di satu pagi yang terlalu cepat, di atas mobil L300 trayek Lembang–Stasiun Bandung. Kursinya reot, suaranya serak—entah karena knalpot atau karena hidup yang terus menggerus.
Mobilnya sudah kelihatan uzur, tapi masih kuat menanjak Lembang yang dingin dan menurun ke kota yang makin sesak. Tapi ini bukan tentang mobil tua, ini soal bapak tua yang belum juga pensiun dari jalan.
“Masih nyopir, Pak?”
“Masih. Anak belum kerja. Istri di rumah. Mau makan pakai apa kalau saya berhenti?”
Ia cerita, setiap kali lewat terminal Ledeng, mesti setor lima ribu rupiah. Saya kira itu retribusi sah dari Pemda, sebab negara kan pandai menyusun tarif. Tapi ia langsung geleng.
“Bukan, Pak. Itu buat keamanan.”
Keamanan siapa? Bukan keamanan negara, bukan juga keamanan hukum. Tapi keamanan agar spion tak hilang, agar tak diusir preman dari pangkalan, agar roda tak bocor karena paku ‘tidak sengaja’ bertebaran di aspal.
Saya mulai hitung-hitungan. “Ada berapa mobil trayek Bandung–Lembang?”
“160 Pak,” jawabnya.
“Kalapa–Ledeng?”
“Sekitar 120.”
“Margahayu?”
“100-an lah.”
Jadi 380 armada. Kalau masing-masing setor Rp5.000 sehari, itu Rp1.900.000 tiap hari. Uang segar. Uang dingin dari keringat panas. Tapi bukan untuk Pemda. Bukan juga untuk sopir. Itu buat ‘keamanan’. Pungli, kata kasat mata. Premanisme, kata hati kecil yang belum mati.
Dan yang menyakitkan, sopir-sopir ini bukanlah sisa pahlawan. Mereka masih hidup tapi seperti sudah kalah perang. Penumpang makin sepi. Sekarang semua orang naik motor, atau pesen ojek online.
“Kadang, Pak,” katanya, “saya bawa pulang cuma dua puluh ribu rupiah.”
“Dua puluh ribu?”
“Iya. Buat makan satu keluarga. Padahal saya keluar rumah jam lima subuh, pulang jam sembilan malam.”
Saya terdiam. Tidak tahu harus kasihan atau marah. Negara seolah pergi, membiarkan rakyatnya berdesak-desakan dengan nasib, berebut remah di jalanan yang makin padat tapi makin sepi dari keadilan.
Pagi itu saya turun di Stasiun Bandung. Saya selipkan sedikit uang lebih, bukan karena saya dermawan, tapi karena malu. Malu sebagai warga negara yang membiarkan sopir tua itu terus setor lima ribu tiap hari kepada tangan-tangan gelap yang tak pernah dikenalkan di buku pelajaran.
Ah, sopir tua, kau bukan hanya menyetir mobil, kau sedang menyetir sejarah kecil yang nyasar ke lorong ketidakpedulian. Kau mengantar kami, penumpang yang diam, menyusuri jalan-jalan yang dulu dinamai pembangunan, tapi kini hanya penuh lubang dan pungutan.
Dan negeri ini, seperti angkot tua itu, terus berjalan—berderit-derit. Entah sampai kapan.























