Fusilatnews – Di negeri yang tanahnya subur, di mana tiang bendera bisa tumbuh sendiri asal ditanam, kita hidup dalam kebingungan yang teratur. Satu wajah, dua maksud. Satu janji, dua tafsir. Satu Jokowi, banyak versi.
Jokowi itu seperti jalan tikus di gang sempit yang di peta tertulis “menuju ke kiri”, tapi setelah diikuti, ternyata beloknya ke kanan. Begitulah cara dia berjalan dalam kekuasaan—tak bisa ditebak, tapi tampaknya selalu punya maksud. Maksud siapa? Ya, itu pertanyaan bagus. Tapi mari kita simpan dulu untuk nanti malam, sambil menyeruput kopi di warung yang listriknya disubsidi PLN hasil utang negara.
Kita bukan bicara tentang dugaan, tapi tentang rasa. Tentang hal yang kadang tak bisa dijelaskan dengan logika formal, tapi bisa terasa dalam dada yang gatal. Mari jujur, kata orang-orang yang masih percaya pada nurani: kalau seseorang benar-benar punya ijazah, mengapa dia begitu enggan memperlihatkannya secara terbuka, polos, dan telanjang dari keraguan?
Jokowi ke Bareskrim bukan bawa ijazah asli, tapi fotokopian. Nah, ini lucu. Karena kalau benar itu ijazah asli, kenapa tidak ditunjukkan langsung—di hadapan kamera, di hadapan rakyat, di hadapan Tuhan dan saksinya? Rakyat hanya diminta percaya pada fotokopi. Kita tahu, zaman dulu surat cinta saja tak percaya kalau cuma diketik. Harus pakai tulisan tangan, lengkap dengan parfum dan jejak lipstik. Sekarang untuk urusan legitimasi seorang presiden, cukup dengan lembaran hitam putih hasil mesin?
Banyak yang bilang: “Ah sudahlah, untuk apa diributkan, toh dia sudah jadi presiden dua periode.” Tapi inilah soalnya: menjadi presiden dua periode di atas fotokopi, bukan di atas kebenaran yang terang. Ini bukan masalah administrasi. Ini soal kejujuran.
Kejujuran, saudara-saudara, adalah makhluk langka di negeri ini. Ia mungkin sudah masuk daftar merah LIPI. Bila Jokowi betul punya ijazah, maka memperlihatkannya dengan bangga justru menjadi bukti bahwa ia tidak bersembunyi di balik kelok jalan politik. Tapi bila ia terus menyembunyikan, maka kita pun berhak curiga: mungkinkah dia benar-benar tidak punya?
Nurani berkata, kejujuran tidak membutuhkan pengacara. Ia tidak butuh juru bicara, tidak perlu barisan buzzer. Ia hanya butuh satu keberanian sederhana: memperlihatkan apa adanya.
Tapi mungkin memang kita semua terlalu naif. Karena Jokowi bukan sedang menuju kiri atau kanan. Ia sedang membawa kita ke arah yang bahkan tak ada di peta. Kita disuruh ikut, tanpa tahu ke mana, dengan janji “kereta ini untuk kebaikan bangsa”. Padahal relnya dibangun di atas hutang dan stasiunnya di tengah hutan.
Maka, kalau hari ini kita heran mengapa negeri ini makin tidak jelas arahnya, jawabannya bisa jadi sederhana: karena kita dikemudikan oleh seseorang yang dari awal tak pernah jelas jalannya. Yang katanya merakyat, tapi duduk bersama para cukong. Yang katanya sederhana, tapi anak-anaknya membangun kerajaan. Yang katanya jujur, tapi ijazah pun tak bisa dibuka.
Send ke kiri tapi belok ke kanan—begitulah cara memahami Jokowi. Dan untuk itu, kita tidak butuh gelar, cukup hati yang masih bisa menangis bila melihat kebenaran dikubur hidup-hidup.


























