Inilah pernyataan yang teramat jujur, dari seorang Mahfud, yang menerangkan bawa Indonesia memerlukan Strong Leader tahun 2024 nanti. Tanpa ia sadari, mungkin, bahwa alasan-alasan yang mendasarinya itu, justru potret dari keadaan saat ini, yang ia risaukan sendiri. Tapi kata lain juga, seolah-olah ia tak berdaya, untuk merajut kehidupan bangsa ini, melalui kewenangan dan kekuasaan yang sedang dipegangnya. Pedang tajam keilmuannya, tumpul untuk bisa menyabit hama ilalang ideologis dan koruptif yang sedang merambah diberbagai kehidupan.
Ada beberapa poin yang ia sampaikan, pertama soal berbagai kasus yang terjadi saat ini, seperti pengeroyokan kepada Ade Armando, itu muara diatasnya ada pada persoalan Ideologi. Bahwa masalah ideologi ini, sudah sampai pada titik yang meresahkannya, karena telah terbentuk polarissasi yang tajam didalam kehidupan masyarakat. Beliau mengungkapkan lebih lanjut, bahwa hal itu secara harfiyah dapat diterangkan adalah persoalan kedudukan Agama dan Negara.
Situasi yang chaos seperti saat ini, dimana hampir setiap peristiwa, seringkali terjadi bentrok horizontal dan bahkan vertical dengan aparat, dipahami sebagai demokrasi yang sudah terganggu. Dibeberapa negara, terutama di negara-negara Amerika Latin, situasi seperti itu berakibat terjadinya Kudeta, tambah Mahfud.
Issue yang lebih serem, juga diungkapkannya, adalah soal Korupsi, yang telah terjadi dimana-mana: Eksekutif, Legislative dan bahkan Judikatif. Rupanya issue lama ini, masih tetap ada dalam catatannya, yang tetap belum beranjak, sebagai current issue aib bangsa ini.
Dari uraian diatas, Mahfud MD, sesungguhnya sedang menelanjangi apa yang sedang terjadi dalam kehidupan social dan ketata negaraan, dimana ia sedang berada didalamnya. Ini penjelasan dan tela’ahan soal aib yang shahih dan mutawatir karena perawinya adalah orang yang kredibel.
Itu semua, sebenarnya terpulang kepada sosok Pemimpin yang sedang berkuasa saat ini, yang secara telanjang, Ia tak mampu berbuat banyak, sehingga lahirlah berbagai macam problema bangsa dan kehidupan chaos politik tersebut. Tidak faham melihat esensi apa yang harus diemban. Tidak mengerti pokok dan akar masalah yang sesungguhnya, yang kemudian salah judgmen. Diperkeruh lagi oleh salah menempatkan actor-aktor pasukannya, karena mungkin desakan berbagai elemen parpol pendukungnya, sehingga setiap lagkah-langkahnya menjadi boomerang kepadanya.
Dua Menteri yang ikrah sebagai koruptor, adalah titik lemah kabinet Indonesia maju. Pernyataan Menag yang justru melahirkan cemooh kepada Presiden dan menjelaskan kemunduran karena soal kompetensi figurnya. Ulah Menteri Sosial, yang sangat radikal, dilihat dari sisi pandang leadership.
Sebelum mengupas LBP, Mendag Lutfy, adalah bagian dari fragmen yang sangat antagonistis, yang telah melahirkan kebijakan larangan export CPO. Ini langkah blunder, diluar duguan akal sehat, karena sebagai produsen CPO terbesar di dunia, pasti terkait dengan perusahaan2 besar di negara orang lain. Business contract yang mereka tanda tangani akan dibuka Kembali dan dipermasalahkan secara detail. Siap-siap ini akan kembali, Indonesia kalah di pengadilan abritase dunia.
Bukan rahasia lagi, umum memahami, bahwa LBP sangat berperan dalam banyak hal, mempengaruhi berbagai kebijakan Presiden. Ya, itu syah-syah saja, bila baik dan presiden setuju. Tapi kemudian diketahui, bahwa LBP melakukan langkah pongah dengan menginisiasi penundaan pemilu 24, yang kemudian telah menambah runyam bangsa ini, melahirkan protes berjilid-jilid dari kelompok Mahasiswa dan banyak elemen lain diberbagai daerah. Lebih dari itu, sudah sampai pada ajakan sebagai musuh bersama.
Periode kedua Pemerintahan Jokowi ini, seperti kumulasi dari berbagai macam kelemahan Jokowi selama ini, yang menyebabkan Menkopolhukam sendiri, tak bisa membendung pikiran-pikiran kekecewaannya, mengungkapkan secara terbuka kepada kita semua. Ini bukan persoalan yang sederhana dan menjadi diskursus public.
Situasi alam demokrasi yang sudah terganggu ini, tentu saja, saya masih berkeyakinan, tidak akan terjadi kudeta, karena Tantara kita tidak akan berani melawan rakyat. Tetapi sejarah perjalanan bangsa kita, dua kali rakyat menjatuhkan Presiden, Bung Karno dan Pak Harto, extra constitutional, dan satu kali konstitusional kepada Gusdur.
Indonesia memerlukan strong leader 2024, adalah penjelasan lain bahwa saat ini, sosoknya weak leader.

























