• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Economy

Seribu Ton yang Mengusik Harga Diri Bangsa

Ir Entang Sastraatmaja by Ir Entang Sastraatmaja
March 6, 2026
in Economy, Feature
0
Seribu Ton yang Mengusik Harga Diri Bangsa
Share on FacebookShare on Twitter

OLEH: ENTANG SASTRAATMADJA

Polemik terkait rencana impor beras berkategori khusus sebanyak 1.000 ton dari Amerika Serikat kini menjadi perbincangan hangat di ruang publik. Berbagai pertanyaan kritis bermunculan dan memantik perdebatan yang cukup ramai. Media sosial pun tak ketinggalan ikut mengulasnya. Kegaduhan mengenai impor beras di tengah klaim surplus produksi nasional menjadi topik diskusi yang terus bergulir.

Jika dilihat dari sisi kuantitas, angka 1.000 ton tentu bukan jumlah yang signifikan. Dibandingkan dengan produksi beras nasional tahun 2025 yang tercatat 34,69 juta ton, porsi impor tersebut hanya sekitar 0,00003 persen. Secara matematis, angka ini nyaris tak berarti.

Namun persoalannya bukan semata angka. Dari sisi psikologis dan kebatinan bangsa, angka sekecil itu bisa menorehkan luka yang lebih dalam: mempertanyakan konsistensi komitmen dan harga diri sebuah negara yang pernah mengumandangkan tekad swasembada beras.

Secara umum, kondisi perberasan nasional tahun 2025 sebenarnya menunjukkan tren positif. Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan produksi beras nasional mencapai 34,77 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi nasional diperkirakan sekitar 30,97 juta ton. Dengan demikian, terdapat potensi surplus sekitar 3,8 juta ton pada akhir tahun.

Pemerintah juga telah mengambil berbagai langkah untuk memperkuat sektor perberasan nasional.

Pertama, ekspansi lahan. Luas panen padi meningkat menjadi 11,35 juta hektare, atau tumbuh 12,98 persen dibanding tahun sebelumnya.

Kedua, kebijakan harga. Pemerintah menetapkan harga gabah sebesar Rp6.500 per kilogram yang diharapkan memberi keuntungan bagi petani.

Ketiga, ketersediaan stok. BULOG melaporkan cadangan beras pemerintah mencapai 3,8 juta ton, yang diprediksi cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir tahun.

Meski demikian, sejumlah tantangan masih mengemuka. Penyaluran stok pemerintah ke pasar masih relatif lambat. Di beberapa daerah, harga beras juga masih melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET). Selain itu, konsistensi kebijakan perberasan tetap menjadi pekerjaan rumah agar stabilitas harga dan produksi bisa terjaga.

Di sisi lain, rencana impor beras tersebut tidak bisa dilepaskan dari dinamika hubungan perdagangan internasional. Beberapa waktu lalu, Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump mencapai kesepakatan penting dalam Perjanjian Perdagangan Timbal Balik (ART) pada Februari 2026.

Melalui perjanjian tersebut, Amerika Serikat memberikan tarif nol persen bagi sejumlah produk Indonesia seperti minyak sawit, kopi, kakao, dan komponen elektronik. Selain itu, produk tekstil dan apparel Indonesia juga memperoleh fasilitas tarif nol persen melalui mekanisme tariff rate quota (TRQ) yang diperkirakan menguntungkan sekitar 4 juta pekerja sektor tersebut.

Sebagai timbal balik, Indonesia memberikan fasilitas tarif nol persen bagi beberapa komoditas utama Amerika Serikat, seperti gandum dan kedelai. Sebelumnya, pada Juli 2025, Presiden Prabowo juga berhasil menurunkan tarif impor Amerika Serikat terhadap produk Indonesia dari 32 persen menjadi 19 persen melalui negosiasi langsung dengan Presiden Trump.

Dalam konteks inilah rencana impor beras berkategori khusus dari Amerika Serikat muncul sebagai bagian dari paket kesepakatan perdagangan tersebut.

Selama ini, isu utama impor beras di Indonesia berkaitan dengan ketidakseimbangan antara produksi dan konsumsi. Beberapa faktor yang sering mempengaruhi antara lain:

  1. Produksi yang fluktuatif, akibat perubahan iklim, penurunan kualitas tanah, serta berkurangnya lahan pertanian.

  2. Tingkat konsumsi yang tinggi, di mana beras masih menjadi makanan pokok utama masyarakat Indonesia.

  3. Konversi lahan pertanian, yang berubah menjadi kawasan permukiman, industri, dan pusat perdagangan.

  4. Ketidakstabilan harga, yang kerap menyulitkan petani dalam menjual hasil panennya serta membatasi kemampuan BULOG menyerap gabah secara optimal.

Impor beras selama ini memang sering dijadikan instrumen untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan di pasar. Namun kebijakan ini juga menyimpan dampak negatif, seperti meningkatnya ketergantungan pada impor serta potensi penurunan kesejahteraan petani lokal.

Berdasarkan gambaran tersebut, impor beras khusus sebanyak 1.000 ton dari Amerika Serikat tampaknya lebih berkaitan dengan kepentingan politik dan diplomasi perdagangan, ketimbang kebutuhan riil dalam negeri.

Sebuah bangsa yang pernah memproklamasikan swasembada beras tentu akan menjadi sorotan ketika kembali berbicara mengenai impor. Terlebih jika para pemimpinnya sebelumnya telah menyatakan komitmen bahwa tahun 2026 Indonesia tidak akan mengimpor beras, baik beras konsumsi maupun beras berkategori khusus.

Karena itu, tidak mengherankan jika publik merasa terkejut ketika tiba-tiba muncul rencana impor tersebut. Bukan soal besar kecilnya jumlah beras yang diimpor, melainkan soal konsistensi komitmen pemerintah.

Masyarakat tentu berhak bertanya: mengapa kebijakan yang sebelumnya dinyatakan tidak akan ditempuh, kini justru muncul kembali?

Pada akhirnya, angka 0,00003 persen memang bukan jumlah yang besar. Terlebih jika beras tersebut tergolong dalam kategori khusus dan bukan untuk konsumsi massal. Namun persoalan utamanya bukan pada angka, melainkan pada semangat kebijakan itu sendiri.

Bukankah jika kita telah bertekad untuk menghentikan impor beras dalam segala kategori, seharusnya komitmen itu dijaga dengan konsisten?

Sebab dalam kebijakan publik, konsistensi sering kali lebih bernilai daripada sekadar hitungan angka.

(Penulis: Anggota Dewan Pakar DPN HKTI)

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Mimpi Bertemu Sang Bapak Pembangunan: Renungan Bersama Presiden Soeharto

Next Post

Indonesia Mendukung Pemimpin yang Nyata-nyata Pelaku Kejahatan

Ir Entang Sastraatmaja

Ir Entang Sastraatmaja

Related Posts

Di Jepang – Tuhan Bersemayam di Toilet
Feature

Di Jepang – Tuhan Bersemayam di Toilet

June 9, 2026
Feature

MBG, Memutar Ulang Dosa Sejarah

June 9, 2026
Peduli Orang Jepang Karena Rupiah Melemah
Feature

Peduli Orang Jepang Karena Rupiah Melemah

June 8, 2026
Next Post
Indonesia Mendukung Pemimpin yang Nyata-nyata Pelaku Kejahatan

Indonesia Mendukung Pemimpin yang Nyata-nyata Pelaku Kejahatan

Memaknai Pertemuan Prabowo dengan Para Ulama – Antara Persatuan Bangsa, Geopolitik Dunia, dan Peran Moral Ulama

Memaknai Pertemuan Prabowo dengan Para Ulama - Antara Persatuan Bangsa, Geopolitik Dunia, dan Peran Moral Ulama

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
News

Siapa SA Anggota DPR RI dari Madura yang Diduga Jual-Beli Titik MBG?

by Karyudi Sutajah Putra
June 9, 2026
0

Jakarta - FusilatNews.-Banyak pihak, baik di eksekutif maupun legislatif, kini sedang ketar-ketir menunggu kelanjutan proses hukum dugaan tindak pidana korupsi...

Read more
Pembubaran Perkemahan Ahmadiyah di Karangnganyar: Negara Kembali Tunduk Pada Kelompok Intoleran

Pembubaran Perkemahan Ahmadiyah di Karangnganyar: Negara Kembali Tunduk Pada Kelompok Intoleran

June 7, 2026

Pancasila: Lahir untuk Mati!

June 2, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Diskusi RUU Parpol, PERMAHI Jakarta Timur Tekankan Penguatan Demokrasi dan Kaderisasi

Diskusi RUU Parpol, PERMAHI Jakarta Timur Tekankan Penguatan Demokrasi dan Kaderisasi

June 9, 2026

Siapa SA Anggota DPR RI dari Madura yang Diduga Jual-Beli Titik MBG?

June 9, 2026
Di Jepang – Tuhan Bersemayam di Toilet

Di Jepang – Tuhan Bersemayam di Toilet

June 9, 2026

MBG, Memutar Ulang Dosa Sejarah

June 9, 2026
Peduli Orang Jepang Karena Rupiah Melemah

Peduli Orang Jepang Karena Rupiah Melemah

June 8, 2026
50 Anak Muda Difabel Netra Ikuti Aksi Penanaman Mangrove dalam Green Justice Youth Program

50 Anak Muda Difabel Netra Ikuti Aksi Penanaman Mangrove dalam Green Justice Youth Program

June 8, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Diskusi RUU Parpol, PERMAHI Jakarta Timur Tekankan Penguatan Demokrasi dan Kaderisasi

Diskusi RUU Parpol, PERMAHI Jakarta Timur Tekankan Penguatan Demokrasi dan Kaderisasi

June 9, 2026

Siapa SA Anggota DPR RI dari Madura yang Diduga Jual-Beli Titik MBG?

June 9, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...