Oleh: Irfan Wahidi
Ada saat-saat dalam hidup ketika mimpi bukan sekadar bunga tidur, melainkan jendela batin yang membuka ruang perenungan. Malam itu, dalam keheningan yang begitu dalam, saya mendapati diri berada di sebuah ruang sederhana berlantai marmer, dengan cahaya temaram yang menenangkan.
Di sana berdiri sosok yang pernah memimpin bangsa ini dengan tangan tegas sekaligus penuh perhitungan: Presiden Soeharto.
Beliau hadir dengan senyum teduh, tatapan penuh wibawa, dan aura yang membuat waktu seakan berhenti. Kehadirannya bukan sekadar bayangan, melainkan seperti pesan yang melintasi ruang dan waktu. Dengan suara pelan namun mantap, beliau berucap:
“Sugih tanpa banda, digdaya tanpa aji, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake.”
Kata-kata itu menegaskan bahwa kekuatan sejati tidak selalu bersumber dari harta, kekuasaan, atau pasukan. Kekuatan sejati lahir dari kebijaksanaan, keteguhan hati, serta kemampuan menjaga martabat orang lain.
Beliau kemudian menambahkan:
“Ojo kagetan, ojo gumunan, ojo dumeh.”
Wejangan itu terasa seperti nasihat seorang bapak kepada anaknya: jangan mudah terkejut oleh perubahan, jangan silau oleh hal-hal yang memukau, dan jangan merasa paling berkuasa hanya karena memiliki kedudukan.
Dalam nasihat itu tersimpan ajaran tentang kerendahan hati—sebuah nilai yang semakin terasa langka di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern.
Tatapan beliau semakin dalam, lalu berkata:
“Sing sapa wani ngomong bener, kudu wani ngomong salah.”
Pesan moral itu bergema dalam hati saya. Kejujuran adalah fondasi kepemimpinan. Siapa pun yang berani menyuarakan kebenaran juga harus berani mengakui kesalahan. Pemimpin sejati tidak menutup mata terhadap kekeliruan, tetapi justru menjadikannya pelajaran untuk memperbaiki diri.
Dalam keheningan mimpi itu, beliau kembali berucap lirih:
“Urip iku mung mampir ngombe.”
Hidup hanyalah singgah sebentar. Karena itu, waktu yang singkat ini seharusnya digunakan untuk berbuat baik, mengabdi, dan meninggalkan jejak yang bermanfaat bagi sesama.
Saya juga masih mengingat pesan lain yang beliau sampaikan:
“Sepi ing pamrih, rame ing gawe.”
Tidak sibuk mengejar kepentingan pribadi, tetapi giat bekerja untuk kemaslahatan bersama. Pesan ini menegaskan bahwa pengabdian kepada bangsa dan masyarakat seharusnya lebih utama daripada ambisi pribadi.
Ketika saya terbangun, hati saya masih dipenuhi kehangatan. Mimpi itu terasa bukan sekadar bunga tidur, melainkan sebuah renungan batin yang dalam. Seolah Presiden Soeharto ingin meneguhkan bahwa bangsa ini berdiri di atas fondasi yang telah dibangun dengan kerja keras dan pengorbanan.
Tugas generasi penerus adalah melanjutkannya dengan kebijaksanaan, integritas, dan cinta tanah air.
Mimpi bertemu Presiden Soeharto menjadi pengalaman batin yang menyentuh. Ia mengingatkan saya bahwa sejarah bukanlah beban masa lalu, melainkan cahaya yang menuntun langkah ke depan.
Dan tugas kita sebagai anak bangsa adalah melanjutkan perjalanan itu dengan tanggung jawab, rasa hormat, dan kesadaran akan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu.
Semoga wejangan beliau tetap menjadi suluh bagi kita semua, agar Indonesia senantiasa dipimpin oleh mereka yang rendah hati, jujur, dan penuh pengabdian kepada rakyatnya.
Sebagaimana pepatah Jawa yang sering beliau ulang:
“Urip iku kudu migunani tumraping liyan.”
Hidup harus memberi manfaat bagi orang lain.
Semoga kita semua mampu menjadikan hidup ini sebagai pengabdian—bukan sekadar perjalanan singkat, melainkan warisan kebaikan yang terus hidup dalam ingatan dan manfaat bagi generasi berikutnya.
*) Penulis dan Pemerhati Sejarah

Oleh: Irfan Wahidi





















