Fusilatnews – Di banyak mimbar, teks kitab suci, dan ceramah keagamaan, Tuhan selalu diawali dengan pujian yang agung: Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pengampun. Tiga sifat ini bukan sekadar atribut, melainkan fondasi moral relasi antara Tuhan dan manusia. Namun di titik inilah sebuah sesat pikir sering terjadi—ketika Tuhan yang digambarkan penuh kasih itu justru dihadirkan sebagai sosok yang gemar menghukum, menenggelamkan, membakar, dan menerakan ciptaan-Nya sendiri.
Pertanyaannya sederhana namun mengguncang:
bagaimana mungkin kasih yang maha luas berujung pada kehancuran massal?
Tuhan atau Proyeksi Manusia?
Sesat pikir pertama muncul ketika manusia memproyeksikan wataknya sendiri kepada Tuhan. Manusia yang mudah murka membayangkan Tuhan murka. Manusia yang pendendam menciptakan Tuhan pendendam. Padahal, jika Tuhan benar-benar Maha Pengasih, maka kasih-Nya semestinya melampaui ego, emosi, dan nafsu balas dendam manusia.
Ketika bencana, wabah, atau penderitaan sosial disebut sebagai “azab”, sesungguhnya yang bekerja bukanlah iman, melainkan ketakutan yang dibungkus doktrin. Tuhan direduksi menjadi algojo kosmik—bukan pembimbing, bukan pendidik, apalagi pengasuh ciptaan-Nya.
Hukuman sebagai Jalan Pintas Berpikir
Menyalahkan Tuhan atas penderitaan adalah jalan pintas berpikir yang nyaman. Ia membebaskan manusia dari tanggung jawab. Kerusakan alam? “Azab.” Ketidakadilan sosial? “Takdir.” Kemiskinan struktural? “Ujian.”
Di titik ini, Tuhan tidak lagi menjadi sumber etika, melainkan alibi moral. Kezaliman manusia disucikan dengan narasi ilahi. Ketidakbecusan penguasa dilapisi bahasa langit. Dan ironi terbesar: Tuhan yang Maha Pengampun justru dipakai untuk membenarkan penghukuman tanpa ampun.
Kasih yang Mendidik, Bukan Menerakan
Jika Tuhan benar Maha Penyayang, maka relasi-Nya dengan manusia lebih menyerupai pendidik, bukan penghancur. Kasih tidak identik dengan pemanjaan, tetapi juga tidak pernah berwujud pemusnahan. Kasih bekerja melalui kesadaran, pembelajaran, dan pertumbuhan—bukan melalui teror dan ketakutan.
Menggambarkan Tuhan sebagai sosok yang gemar menerakan ciptaan-Nya sama saja dengan menuduh-Nya gagal dalam mencipta. Padahal, kegagalan sering kali justru terletak pada manusia yang menolak belajar, enggan bertanggung jawab, dan lebih suka berlindung di balik “kehendak Tuhan”.
Penutup: Membebaskan Tuhan dari Sesat Pikir Kita
Barangkali yang perlu dikoreksi bukan konsep ketuhanan, melainkan cara berpikir kita tentang Tuhan. Tuhan tidak perlu dibela dengan ancaman neraka, dan tidak perlu dimuliakan dengan cerita kehancuran. Tuhan Yang Maha Pengasih tidak kehilangan wibawa hanya karena Ia memilih mengampuni.
Sesat pikir terbesar bukan mempertanyakan Tuhan, melainkan mengklaim memahami Tuhan sambil mengkhianati sifat-sifat-Nya sendiri.
Jika Tuhan benar Maha Pengasih, Penyayang, dan Pengampun, maka kehancuran bukanlah bahasa-Nya.
Itu bahasa manusia—yang lalu dengan mudah menamainya: kehendak Tuhan.
























