Oleh: Entang Sastraatmadja
Panen raya padi sebentar lagi akan usai. Perum Bulog, sebagai operator pangan pemerintah, layak berlega hati. Tugas sebagai pelaksana penyerapan gabah dari petani telah dijalankan dengan sangat baik. Target tinggi dibayar tuntas dengan bukti nyata: penyerapan hampir menyentuh angka 2 juta ton. Angka ini jauh melampaui rerata penyerapan dalam lima tahun terakhir yang hanya berkisar 1–1,2 juta ton.
Inilah torehan kinerja impresif Perum Bulog yang patut diapresiasi. Prestasi ini menunjukkan bahwa Bulog telah bekerja keras demi memastikan gabah petani terserap dan harga tetap stabil. Di tengah gejolak harga pangan global dan tantangan cuaca domestik, pencapaian ini menjadi oase bagi program swasembada pangan nasional.
Lima peran strategis Bulog dalam penyerapan gabah patut dicatat.
Pertama, Bulog membeli gabah petani dalam negeri demi meningkatkan kesejahteraan dan menjaga harga tetap stabil. Tahun 2025, target penyerapan bahkan naik menjadi 3 juta ton.
Kedua, Bulog konsisten membeli dengan harga pemerintah yang layak, yakni Rp6.500 per kg untuk Gabah Kering Panen (GKP), sehingga memberi kepastian pendapatan bagi petani.
Ketiga, pengoptimalan infrastruktur seperti Sentra Pengolahan Padi dan Beras, dilakukan untuk meningkatkan efisiensi.
Keempat, kerja sama erat dengan Dinas Pertanian, TNI-Polri, kelompok tani, hingga penggilingan padi, memastikan proses penyerapan berjalan lancar.
Kelima, pengawasan kualitas dijalankan ketat agar gabah yang diserap sesuai standar, sehingga beras yang dihasilkan tetap berkualitas baik.
Namun, satu pertanyaan krusial kini muncul: setelah sukses besar dalam penyerapan, mampukah Bulog mencetak kesuksesan dalam penyimpanan? Atau justru akan terulang kembali masalah-masalah klasik seperti gudang penuh, beras berkutu, dan kualitas menurun?
Proses penyimpanan gabah tidak bisa dianggap remeh. Serapan hampir 2 juta ton akan menjadi tantangan logistik tersendiri. Menyimpan dalam skala besar bukan sekadar memindahkan karung ke gudang, tapi membutuhkan sistem yang cermat dan teknologi yang mendukung.
Penyimpanan gabah yang baik menuntut kondisi gudang yang kering dan bersih, pengendalian kelembaban dan suhu, serta pengawasan berkala. Bahkan kualitas karung penyimpanan pun menjadi bagian penting yang tak boleh diabaikan. Jika tidak, kualitas gabah akan turun, dan risiko kerusakan meningkat drastis.
Kita tentu belum lupa ketika anggota Komisi IV DPR menemukan beras berkutu, bau apek, dan menguning di sejumlah gudang Bulog. Temuan ini seharusnya menjadi pelajaran serius bahwa proses penyimpanan harus disempurnakan, bahkan dirombak jika perlu.
Apalagi jika beras hasil serapan ini akan masuk ke dalam Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang sewaktu-waktu dibutuhkan saat krisis. Maka, penyimpanan tidak boleh sekadar formalitas, tapi menjadi bagian penting dari sistem ketahanan pangan nasional.
Publik tentu berharap bahwa kisah sukses penyerapan gabah tahun ini tidak akan rusak hanya karena penyimpanan yang amburadul. Bulog harus mampu membuktikan bahwa mereka tidak hanya pintar menyerap, tapi juga mahir menjaga kualitas sampai beras sampai ke tangan rakyat.
Kita percaya, Bulog akan menjawab tantangan ini. Namun, kepercayaan itu harus dibayar dengan kerja nyata—bukan sekadar harapan. Karena dalam urusan pangan rakyat, tidak boleh ada ruang untuk kegagalan.
Sukses penyerapan harus seiring dengan sukses penyimpanan. Tanpa itu, prestasi hanya akan berakhir jadi catatan manis yang cepat basi.
(Penulis adalah Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat)

Oleh: Entang Sastraatmadja
























