Jakarta, Fusilatnews. – Kabar buruk datang dar PT GoTo, Gojek Tokopedia Tbk. dikabarkan berencana akan melakukan pemutusan hubungan kerja PHK terhadap 1.000 pekerjanya. Pemangkasan jumlah karyawan itu disebut-sebut sebagai bentuk efisiensi keuangan perusahaan.
Seperti diberitakan sebelumnya, bahwa PHK juga telah dilakukan oleh perusahaan start up Shopee pada bula September 22 yang lalu. Shopee Indonesia melakukan PHK terhadap 187 karyawan dari total 6.232 orang yang tercatat per kuartal I 2022. Head of Public Affairs Shopee Indonesia Radynal Nataprawira memastikan PHK yang menimpa perusahaan tidak akan mengganggu operasi bisnis dan layanan.
Melansir Bloomberg, Jumat, 11 November 2022, jumlah karyawan yang akan di-PHK ini setara dengan lebih dari 10 persen tenaga kerja. Adapun tenaga kerja yang akan masuk daftar efisiensi itu akan berasal dari semua divisi.
Sumber Bloomberg yang enggan disebutkan namanya menyatakan perusahaan berkode saham GOTO yang berbasis di Jakarta, dan juga beroperasi di Singapura dan Vietnam itu akan mengumumkan pemangkasan karyawannya dalam beberapa minggu mendatang.
“Berapa jumlah pengurangan dapat berubah-ubah,” kata sumber tersebut.
Ketika dikonfirmasi soal kabar ini, perwakilan GOTO menolak untuk berkomentar. Adapun sebelumnya, eksekutif GOTO mengatakan manajemen perusahaan tengah berupaya menyeimbangkan pengeluaran untuk pertumbuhan, untuk mencapai profitabilitas.
Lebih jauh sumber Bloomberg menyatakan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. memulai pengurangan karyawan seiring dengan rencana perusahaan yang bersiap mengeluarkan hasil kinerja kuartalan pada 21 November 2022 mendatang.
Per Agustus 2022 lalu, GOTO melaporkan kenaikan kerugian penyesuaian rugi sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi menjadi Rp 4,14 triliun. Padahal pada periode serupa tahun lalu, angka kerugian pro-forma sebesar Rp 3,9 triliun.
Jika benar diumumkan keputusan PHK ini, GOTO bergabung dengan raksasa teknologi seperti Meta Platforms Inc. hingga Apple Inc. yang juga memangkas staf setelah bertahun-tahun melakukan ekspansi. Perusahaan-perusahaan tersebut akhirnya melepas karyawan akibat perekonomian global semakin tak menentu.
Adapun gelombang PHK di industri teknologi mendekati level yang terlihat pada tahap awal pandemi Covid-19. Perusahaan-perusahaan baik yang berukuran besar maupun kecil semakin membatasi ambisi dan bersiap menghadapi masa-masa sulit ke depan.
Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute Heru Sutadi, menuturkan startup menghadapi beban berat di tengah kondisi ekonomi global saat ini. Perusahaan-perusahaan rintisan yang belum naik kelas menjadi unicorn atau decacorn diperkirakan menghadapi risiko gugur yang lebih tinggi.
Dalam situasi keuangan yang menantang, perusahaan mesti mengurangi fasilitas karyawan hingga memutuskan PHK. Perusahaan juga mulai merekrut karyawan baru dengan gaji yang lebih kecil ketimbang standar sebelumnya.
“Jadi yang sudah unicorn atau decacorn akan mulai IPO. Sementara yang belum, ini akan berat. Harus efisiensi atau ya mundur teratur,” katanya.
Jalan terjal untuk bisnis startup, Heru melanjutkan, akan terjadi sampai dua tahun ke depan. Kendati begitu, ia tak menampik perusahaan rintisan anyar masih bakal bermunculan. Namun, perusahaan-perusahaan tersebut akan banyak berfokus pada industri 4.0.
Sumber; Tempo dan sumber lainnya


























