Terkejut membaca berita di Reuters, Kim Jong Un, memimpin Korea Utara, mengirimkan pesan simpati kepada Iran dan Jepang. Dua negeri itu sedang dirundung duka, karena banyak korban mati akibat perisitiwa pemboman di Iran dan gempa di Jepang
“Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengirim pesan simpati kepada para pemimpin Iran dan Jepang pada hari Sabtu, kata media pemerintah, setelah negara-negara tersebut masing-masing dilanda pemboman mematikan dan gempa bumi minggu ini”, demikian tulis Reuterus, 6/1/24.
Dua ledakan bom di Iran yang diklaim dilakukan oleh ISIS menewaskan hampir 100 orang pada hari Rabu, sementara jumlah korban tewas dalam gempa bumi dahsyat di Jepang pada Hari Tahun Baru mendekati 100 orang.
Kim menyampaikan belasungkawa kepada Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida dengan harapan daerah yang terkena dampak akan segera kembali stabil, menurut media pemerintah KCNA.
Dia juga menyatakan simpati kepada Presiden Iran Ebrahim Raisi dan menegaskan kembali pendirian Korea Utara dalam “menentang segala jenis terorisme”, kata KCNA.
Korea Utara pada hari Jumat menembakkan lebih dari 200 peluru artileri di dekat perbatasan laut yang disengketakan dengan Korea Selatan, mendorong Korea Selatan untuk mengambil tindakan yang “sesuai” dengan latihan tembakan langsung.
Dalam banyak video yang beredar, yang tersebar di berbagai medsos, terkesan Kim adalah tokoh yang paling sadis di abad ini. Ia terkesan sangat otoriter, dan bahkan sadis, saat terlihat dalam sebuah video, Kim menggandeng seorang koruptor hingga terperosok kesebuah lubang. Konon didalam lubang itu, disiapkan sejumlah buaya.
Pada peristiwa lain, Kim Jong Un, juga terlihat sangat luwes, saat menerima kunjungan Presiden Trump di Pyongyang. Keakraban diantara kedua tokoh itu, menjelaskan Kim berkemampuan dalam berdiplomasi dan berbahasa Inggris.
Cerita lain, bahwa sesungguhnya Kim Jong Un ternyata menghabiskan sebagian besar masa kecil dan remajanya di Swiss. Selama di sana, ia menggunakan nama samaran “Pak Un” dan menghadiri sekolah internasional. Beberapa laporan menyebutkan bahwa ia belajar di Sekolah Internasional Bern (International School of Berne) di Bern, Swiss, serta di sekolah lainnya.
Selanjutnya, setelah kembali ke Korea Utara, Kim Jong Un melanjutkan pendidikannya di Akademi Militer Kim Il Sung, sebuah institusi militer prestisius di Pyongyang. Dia diduga belajar taktik militer dan strategi kepemimpinan di sana.
Rupanya karena Kim Jong Un, alumni pendidikan militer, Ia kadang-kadang menggunakan ketegangan regional dan internasional sebagai taktik diplomasi untuk mencapai tujuan-tujuannya.
Kim Jong Un mulai memimpin Korea Utara (meneruskan) sejak kematian ayahnya, Kim Jong Il, pada tahun 2011. Kim Jong Un mulai mencoba memberikan perhatian lebih besar pada reformasi ekonomi dan pembangunan infrastruktur di negaranya, meskipun dengan tingkat keberhasilan yang bervariasi.
Kim Jong Un meneruskan tradisi keluarga dengan membangun kultus kepribadian di sekitar dirinya. Ia sering dipromosikan sebagai pemimpin yang kuat dan bijaksana dalam propaganda Negara.
Kim adalah Ketua Partai Pekerja Korea, partai komunis yang berkuasa di Korea Utara. Kedudukannya di partai dalam system komunis, memberikan kekuasaan besar di negara tersebut. Karena itu seringkali dilaporkan bahwa cara ia memerintah. dilakukan dengan tangan besi dan otoriter. Pemerintahannya sering dikritik oleh lembaga-lembaga internasional karena persoalan pelanggaran hak asasi manusia, kekurangan kebebasan sipil, dan kontrol ketat terhadap informasi.
Di bawah kepemimpinannya, Korea Utara terus mengembangkan program senjata nuklirnya, yang telah menimbulkan ketegangan di tingkat internasional. Membuat pusing Amerika dan Jepang.
Ada juga dilaporkan, bahwa tentang kehidupan mewahnya, termasuk kecintaan pada barang-barang mewah dan gaya hidup berfoya-foya, hal ini berdampak pada citra negatifnya di tengah kondisi ekonomi yang sulit bagi sebagian besar penduduknya.























